Tags

, , , ,

Kami tinggal di suatu daerah, yang kalau hal itu disampaikan ke orang yang nanya, pasti akan ada pertanyaan lanjutan : dimana itu?
Ya, meski asli Tegal, Jawa Tengah, saya sudah memutuskan homebase di Tanjung Uban, sebuah kota kecil di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Kota kecil yang di tahun 1995, di awal saya menginjakkan kaki, masih sepi, dengan sentra keramaian ada di sekitar jalan Merdeka dan RE Martadinata. Jumlah tokonya ya hanya sebanyak letter T jalan itu dengan variasi kedai kopi plus jualan lontong sayur Seloka, toko baju kak Bokya, bengkel motor Ahwa Panorama, toko klontong Bahagia, toko elektronik Bali, toko bahan bangunan Papan. Dan yang akhirnya saya nyatol jadi penduduk lokal situ ya Rumah Makan Suwajar, atau Warung Sate Daeng Tali. Kenapa? Ya karena saya dapet anaknya yg jualan sate itu.

Tahun 1995 adalah awal penempatan kami berlima selepas lulus dari Program Diploma III Kepabeanan dan Cukai yang pendidikannya dilaksanakan di Jurangmangu Timur, Tangerang. Kami di tugaskan di Kantor Inspeksi Bea Cukai Tanjung Uban, dengan jabatan struktural kepala kantor setingkat eselon IVa. Kantor kecil yang saat itu dibebani tugas melayani pembangunan Kawasan Wisata Lagoi dan Kawasan Industri Lobam. Cerita tentang Lagoi dan Lobam ini alan saya tulis di bagian lain.

Kembali ke cerita Tanjung Uban.
Saya masih ingat, saat penduduk Tanjung Uban masih sedikit, dengan jumlah kendaraan roda empat yang juga masih sangat terbatas (didominasi kendaraan dinas dan proyek), hampir setiap hari saya bisa berpapasan muka dengan orang yang itu-itu saja. Jadi sering sekali klakson motor berbunyi, bukan karena ada hambatan kemacetan di jalan, tapi karena menyapa kenalan yang berpapasan di jalan. Lebih-lebih saat sore hari, saat saya sama istri jalan sore menikmati suasana. Menurut saya, itu satu hal yang rasanya dirindukan saat sekarang sudah banyak pendatang dan menggunakan mobil (yang kadang berkaca gelap).

Dari awal, istri saya paham benar, bahwa suaminya adalah Pegawai Negeri Sipil, yang ada limitasi masa dinasnya. Dia paham juga dengan melihat contoh saudara kerabat yang sudah menjalani pensiun, ujung-ujungnya harus siap dengan kondisi mengelola uang pensiunan untuk menutup semua pengeluaran rutin. Karenanya, pilihan kami mengambil rumah secara kredit tipe 45 lewat KPR BTN, adalah pilihan yang realistis. Kami harus memikirkan bahwa rumah kami nantinya ya harus dirawat dengan baik menggunakan dana yang ada dari penyisihan hingga mengarungi masa pensiun. Mungkin memaksakan diri bikin rumah gede bisa, tapi setelah itu biaya perawatannya gimana? Bayar listriknya gimana? Bersihin rumahnya gimana?

Kami juga nggak pengin komplek perumahan kami jadi komplek mewah atau punya nilai jual tinggi. Sekali lagi ya mikirnya nanti kalau jadi komplek mewah bayar iuran warganya tinggi, tek-tekan pas Agustusan nggak bisa lagi cukup limapuluh ribu.. 😁

Tapi ya bisa jadi itu cuma alasan aja nggak bisa bikin/ beli rumah bagus dan gede. Karena mampunya saya ya begitu saja. Secukupnya.

Jadi kalau temen2 pas maen ya kadang mungkin mbatin, kok rumahnya kecil gini.. 😃 wis gpp, sing penting nyaman, sehat dan bahagia.