Luarbiasa !!
Kesempatan libur Hari Lahir Pancasila tahun 2023, yang disambung Hari Raya Waisak di tanggal 4 Juni-nya, saya menyempatkan diri mengunjungi anak lanang yang sedang bertugas di KPP Pratama Tapak Tuan yang berada di Kabupaten Aceh Selatan.
Dimas memulai penempatannya di 6 Maret 2023 setelah lulus dari PKN STAN jurusan Akuntansi dan mendapatkan instansi Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan. Bersamanya ada 2 anak lagi jurusan Pajak Iqram dan Ardi. Si Iqram berasal dari Pare Pare sedangkan si Ardi berasal dari Tambun, Bekasi.
Perjalanan ke Tapak Tuan mesti mempersiapkan fisik yang cukup mengingat waktu tempuh yang cukup lama terutama perjalanan darat menggunakan travel dari Kuala Namu ke Tapak Tuan yang menghabiskan sekitar 10 jam, menyusuri jalur sepanjang kurang lebih 400 kilometer melewati beberapa kota dan kabupaten di Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Aceh.
Saya sendiri memulai perjalanan dengan Kereta Api dari Semarang Tawang jam 05:55 pada Kamis pagi, dengan tujuan Stasiun Gambir Jakarta, dilanjut dengan Bus Damri rute Gambir – Bandara Soekarno Hatta Terminal 1A.
Dengan menggunakan Super Air Jet yang akan terbang dari Soetta ke Kuala Namu, saya sudah diberi masukan terkait pilihan waktu yang tepat utk melakukan perjalanan berikutnya dari Kuala Namu ke Tapak Tuan.
Meski awalnya terjadi kesalahpahaman terkait pemakaian jasa travel “langsung” atau “reguler”, pada akhirnya saya merasa bersyukur menggunakan jasa travel secara langsung yang ternyata berarti charter. Dengan charter yang tentu saja harus merogoh kocek lebih dalam, saya bisa meluruskan pinggang di baris belakang dan tidur hampir 4 jam, atau dari Berastagi ke Subulussalam.
Pemberhentian pertama saya lakukan dalam rangka berbuka puasa dan mengisi perut yang kosong di rumah makan padang, masih di pinggir kota Medan.
Pemberhentian selanjutnya di Subulussalam, ternyata adalah wajib bagi pelaku jasa travel setelah mengarungi duapertiga waktu perjalanan. Warung Bang Jali, semacam pujasera dengan aneka tawaran makanan, dan pilihan saya jatuh ke roti canai yang ternyata jauh beda rasanya dengan bikinan Bang Alim Prata di Tanjung Uban. Tawaran minuman yang agak lain, jatuh ke Teh Susu Telor, dengan dominasi manisnya susu. Tapi tentu saja alhamdulillaah bisa mengisi perut agar terhindar dari masuk angin.
Rumah Makan Bang Jali Subulussalaam
Oh ya, teman perjalanan saya yang juga provider jasa travel bernama Hendra, seorang putra daerah asli Tapak Tuan, beristri dan beranak satu. Bisa dibayangkan banyaknya materi perbincangan kami selama perjalanan mulai dari politik hingga keagamaan.
Saya tiba di Tapak Tuan sekitar pukul 05:00, waktu subuh, dan Hendra mengarahkan mobil untuk berhenti di Masjid Al Istiqamah, mesjid raya Tapak Tuan. Saya kemudian menghubungi Dimas untuk menjemput, walaupun default-nya tugas travel adalah mengantarkan customer hingga di depan rumahnya .
Setelah melaksanakan sholat subuh di Masjid Al Istiqamah, dengan menggunakan motor vario-nya, Dimas membawa saya ke rumah kontrakan yang ternyata jaraknya tidak terlalu jauh dari masjid. Dan nyatanya, kota Tapak Tuan adalah kota kecil yang bisa sebentar saja dikelilingi. Kecuali ke arah kanan kirinya yang sudah beda kecamatan.
Masjid Ar Rayan Gampong Jambo Apha
Lokasi kontrakan ada di Gampong Jambu Apha, sebuah rumah yang didominasi warna orange milik seorang pejabat di institusi kehakiman. Rumah tingkat empat kamar yang secara kontinyu ditinggali oleh pegawai Pajak. Dimas bersama Ardi dan Iqram bersyukur punya senior yang bersedia menampung dan menempatkan mereka di dua kamar tersisa setelah pegawai sebelumnya memilih kontrak sendiri karena membawa keluarga.
Rumah ini dekat sekali dengan masjid dan ada tiga spot makam di sekelilingnya. Dengan masjid hanya berjarak 50 meter dan suara azan terdengar sangat nyaring. Rasanya tidak ada alasan kalau pas ada di rumah untuk tidak melangkahkan kaki ke masjid. Masjid Ar Rayan namanya, dengan nuansa bersih karena seluruh bangunan dicat putih. Di masjid inilah saya mendapatkan kenalan seorang pensiunan kantor pajak bernama pak Zainal yang pensiun 13 tahun yang lalu.
Sayang saya belum sempat memenuhi undangannya untuk mampir ke rumahnya keliatan bumbung atapnya dari teras masjid.
Selama tiga hari selanjutnya, Jumat sampai Minggu, saya habiskan waktu berdua Dimas. Belanja beberapa kebutuhan kebersihan rumah, membeli plistur untuk mengecat meja, merasakan dinginnya sumber air yang hanya berjarak limaratus meter dari rumah, lari bareng di Sabtu pagi, sarapan pagi, ngopi di kedai kopi tua dekat pelabuhan, mengunjungi situs tapak Tuan Tapa, makan siang di Rindu Alam, dan mengunjungi KPP Pratama Tapak Tuan. Ardi dan Iqram sesekali kami ajak keluar untuk makan dan ngopi bareng.
Tiga hari terasa sangat singkat untuk selalu bersama Dimas dan teman-temannya, Ardi dan Iqram. Tiga hari yang mudah-mudahan bisa menguatkan mereka untuk bisa mensyukuri dan menerima apa yang sudah menjadi kehendak Alloh dengan menempatkan mereka di lokasi tugas saat ini.
Alloh akan selalu menjaga kalian.