Klaster Asli


Sudah lama saya sering melihat, pas berada di ketinggian (pas naik pesawat) dalam perjalanan pulang pergi Surabaya – Batam, keberadaan cluster-cluster asli di Jawa. Ya, ini menurut saya, adalah cluster asli yang terbentuk bukan oleh developer, tapi alami semata bisa jadi karena satu rumpun paseduluran. Kita bisa liat keberadaannya, klaster ini ada di jeda jarak setiap satu hingga dua kilo hamparan sawah. Yang khas, di setiap klaster ini, ada senuah masjid besar yang berdiri. Ia seolah menjadi center dari klaster ini, meskipun posisinya tidak selalu di tengah. Khas dengan kubah besarnya yang terlihat megah terlihat dikelilingi rumah-rumah atap genteng di sekelilingnya. Dan saya yakin, jamaahnya kalaupun seluruh penghuni klaster ini datang semua sholat berjamaah, tidak akan memenuhi separuhnya. Kesempatan melihat dan mendatangi sendiri masjid di tengah klaster ini kesampaian saat saya mengunjungi Masjid Raudhatul Jannah di Desa Dahanrejo. Lokasinya pas seberang Kantor Desa Dahanrejo, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik. Masjid yang megah yang menurut perkiraan saya bisa menampung seribu jamaah, dengan halaman parkir yang cukup luas. Saya mengunjunginya pas sholat zuhr, dan dihadiri tidak lebih dari 15 jamaah. Kehadiran jamaah masjid di tengah sawah ni yang juga menarik adalah biasanya tidak akan mengumandangkan azan di tepat waktu sholat sebagaimana tertuang dalam aplikasi Salaam-nya Samsung. Dan ini lumrah terjadi di sebagian besar wilayah Jawa lainnya. Biasanya akan mundur ngepasin jadwal istirahatnya para pekerja sawah, pekerja kebon, atau pekerja tambak. Mundurnya kumandang azan ini mengakomodir mereka, para jamaah untuk mentas dulu dari sawahnya, bersih-bersih, dan baru berangkat ke masjid. Saya tetep senang melihat keluar dari jendela pesawat dalam perjalanan pulang – pergi Surabaya – Batam, melihat klaster-klaster asli yang tetap terjaga ada masjid sebagai senternya.

Tapak Tuan

Tags

, , , ,


Luarbiasa !!

Kesempatan libur Hari Lahir Pancasila tahun 2023, yang disambung Hari Raya Waisak di tanggal 4 Juni-nya, saya menyempatkan diri mengunjungi anak lanang yang sedang bertugas di KPP Pratama Tapak Tuan yang berada di Kabupaten Aceh Selatan.
Dimas memulai penempatannya di 6 Maret 2023 setelah lulus dari PKN STAN jurusan Akuntansi dan mendapatkan instansi Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan. Bersamanya ada 2 anak lagi jurusan Pajak Iqram dan Ardi. Si Iqram berasal dari Pare Pare sedangkan si Ardi berasal dari Tambun, Bekasi.

Perjalanan ke Tapak Tuan mesti mempersiapkan fisik yang cukup mengingat waktu tempuh yang cukup lama terutama perjalanan darat menggunakan travel dari Kuala Namu ke Tapak Tuan yang menghabiskan sekitar 10 jam, menyusuri jalur sepanjang kurang lebih 400 kilometer melewati beberapa kota dan kabupaten di Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Aceh.

Saya sendiri memulai perjalanan dengan Kereta Api dari Semarang Tawang jam 05:55 pada Kamis pagi, dengan tujuan Stasiun Gambir Jakarta, dilanjut dengan Bus Damri rute Gambir – Bandara Soekarno Hatta Terminal 1A.

Dengan menggunakan Super Air Jet yang akan terbang dari Soetta ke Kuala Namu, saya sudah diberi masukan terkait pilihan waktu yang tepat utk melakukan perjalanan berikutnya dari Kuala Namu ke Tapak Tuan.

Meski awalnya terjadi kesalahpahaman terkait pemakaian jasa travel “langsung” atau “reguler”, pada akhirnya saya merasa bersyukur menggunakan jasa travel secara langsung yang ternyata berarti charter. Dengan charter yang tentu saja harus merogoh kocek lebih dalam, saya bisa meluruskan pinggang di baris belakang dan tidur hampir 4 jam, atau dari Berastagi ke Subulussalam.

Pemberhentian pertama saya lakukan dalam rangka berbuka puasa dan mengisi perut yang kosong di rumah makan padang, masih di pinggir kota Medan.

Pemberhentian selanjutnya di Subulussalam, ternyata adalah wajib bagi pelaku jasa travel setelah mengarungi duapertiga waktu perjalanan. Warung Bang Jali, semacam pujasera dengan aneka tawaran makanan, dan pilihan saya jatuh ke roti canai yang ternyata jauh beda rasanya dengan bikinan Bang Alim Prata di Tanjung Uban. Tawaran minuman yang agak lain, jatuh ke Teh Susu Telor, dengan dominasi manisnya susu. Tapi tentu saja alhamdulillaah bisa mengisi perut agar terhindar dari masuk angin.

Rumah Makan Bang Jali Subulussalaam

Oh ya, teman perjalanan saya yang juga provider jasa travel bernama Hendra, seorang putra daerah asli Tapak Tuan, beristri dan beranak satu. Bisa dibayangkan banyaknya materi perbincangan kami selama perjalanan mulai dari politik hingga keagamaan.

Saya tiba di Tapak Tuan sekitar pukul 05:00, waktu subuh, dan Hendra mengarahkan mobil untuk berhenti di Masjid Al Istiqamah, mesjid raya Tapak Tuan. Saya kemudian menghubungi Dimas untuk menjemput, walaupun default-nya tugas travel adalah mengantarkan customer hingga di depan rumahnya .

Setelah melaksanakan sholat subuh di Masjid Al Istiqamah, dengan menggunakan motor vario-nya, Dimas membawa saya ke rumah kontrakan yang ternyata jaraknya tidak terlalu jauh dari masjid. Dan nyatanya, kota Tapak Tuan adalah kota kecil yang bisa sebentar saja dikelilingi. Kecuali ke arah kanan kirinya yang sudah beda kecamatan.
Masjid Ar Rayan Gampong Jambo Apha

Lokasi kontrakan ada di Gampong Jambu Apha, sebuah rumah yang didominasi warna orange milik seorang pejabat di institusi kehakiman. Rumah tingkat empat kamar yang secara kontinyu ditinggali oleh pegawai Pajak. Dimas bersama Ardi dan Iqram bersyukur punya senior yang bersedia menampung dan menempatkan mereka di dua kamar tersisa setelah pegawai sebelumnya memilih kontrak sendiri karena membawa keluarga.

Rumah ini dekat sekali dengan masjid dan ada tiga spot makam di sekelilingnya. Dengan masjid hanya berjarak 50 meter dan suara azan terdengar sangat nyaring. Rasanya tidak ada alasan kalau pas ada di rumah untuk tidak melangkahkan kaki ke masjid. Masjid Ar Rayan namanya, dengan nuansa bersih karena seluruh bangunan dicat putih. Di masjid inilah saya mendapatkan kenalan seorang pensiunan kantor pajak bernama pak Zainal yang pensiun 13 tahun yang lalu.
Sayang saya belum sempat memenuhi undangannya untuk mampir ke rumahnya keliatan bumbung atapnya dari teras masjid.

Selama tiga hari selanjutnya, Jumat sampai Minggu, saya habiskan waktu berdua Dimas. Belanja beberapa kebutuhan kebersihan rumah, membeli plistur untuk mengecat meja, merasakan dinginnya sumber air yang hanya berjarak limaratus meter dari rumah, lari bareng di Sabtu pagi, sarapan pagi, ngopi di kedai kopi tua dekat pelabuhan, mengunjungi situs tapak Tuan Tapa, makan siang di Rindu Alam, dan mengunjungi KPP Pratama Tapak Tuan. Ardi dan Iqram sesekali kami ajak keluar untuk makan dan ngopi bareng.

Tiga hari terasa sangat singkat untuk selalu bersama Dimas dan teman-temannya, Ardi dan Iqram. Tiga hari yang mudah-mudahan bisa menguatkan mereka untuk bisa mensyukuri dan menerima apa yang sudah menjadi kehendak Alloh dengan menempatkan mereka di lokasi tugas saat ini.

Alloh akan selalu menjaga kalian.

Omah Cilik

Tags

, , , ,


Kami tinggal di suatu daerah, yang kalau hal itu disampaikan ke orang yang nanya, pasti akan ada pertanyaan lanjutan : dimana itu?
Ya, meski asli Tegal, Jawa Tengah, saya sudah memutuskan homebase di Tanjung Uban, sebuah kota kecil di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Kota kecil yang di tahun 1995, di awal saya menginjakkan kaki, masih sepi, dengan sentra keramaian ada di sekitar jalan Merdeka dan RE Martadinata. Jumlah tokonya ya hanya sebanyak letter T jalan itu dengan variasi kedai kopi plus jualan lontong sayur Seloka, toko baju kak Bokya, bengkel motor Ahwa Panorama, toko klontong Bahagia, toko elektronik Bali, toko bahan bangunan Papan. Dan yang akhirnya saya nyatol jadi penduduk lokal situ ya Rumah Makan Suwajar, atau Warung Sate Daeng Tali. Kenapa? Ya karena saya dapet anaknya yg jualan sate itu.

Tahun 1995 adalah awal penempatan kami berlima selepas lulus dari Program Diploma III Kepabeanan dan Cukai yang pendidikannya dilaksanakan di Jurangmangu Timur, Tangerang. Kami di tugaskan di Kantor Inspeksi Bea Cukai Tanjung Uban, dengan jabatan struktural kepala kantor setingkat eselon IVa. Kantor kecil yang saat itu dibebani tugas melayani pembangunan Kawasan Wisata Lagoi dan Kawasan Industri Lobam. Cerita tentang Lagoi dan Lobam ini alan saya tulis di bagian lain.

Kembali ke cerita Tanjung Uban.
Saya masih ingat, saat penduduk Tanjung Uban masih sedikit, dengan jumlah kendaraan roda empat yang juga masih sangat terbatas (didominasi kendaraan dinas dan proyek), hampir setiap hari saya bisa berpapasan muka dengan orang yang itu-itu saja. Jadi sering sekali klakson motor berbunyi, bukan karena ada hambatan kemacetan di jalan, tapi karena menyapa kenalan yang berpapasan di jalan. Lebih-lebih saat sore hari, saat saya sama istri jalan sore menikmati suasana. Menurut saya, itu satu hal yang rasanya dirindukan saat sekarang sudah banyak pendatang dan menggunakan mobil (yang kadang berkaca gelap).

Dari awal, istri saya paham benar, bahwa suaminya adalah Pegawai Negeri Sipil, yang ada limitasi masa dinasnya. Dia paham juga dengan melihat contoh saudara kerabat yang sudah menjalani pensiun, ujung-ujungnya harus siap dengan kondisi mengelola uang pensiunan untuk menutup semua pengeluaran rutin. Karenanya, pilihan kami mengambil rumah secara kredit tipe 45 lewat KPR BTN, adalah pilihan yang realistis. Kami harus memikirkan bahwa rumah kami nantinya ya harus dirawat dengan baik menggunakan dana yang ada dari penyisihan hingga mengarungi masa pensiun. Mungkin memaksakan diri bikin rumah gede bisa, tapi setelah itu biaya perawatannya gimana? Bayar listriknya gimana? Bersihin rumahnya gimana?

Kami juga nggak pengin komplek perumahan kami jadi komplek mewah atau punya nilai jual tinggi. Sekali lagi ya mikirnya nanti kalau jadi komplek mewah bayar iuran warganya tinggi, tek-tekan pas Agustusan nggak bisa lagi cukup limapuluh ribu.. ๐Ÿ˜

Tapi ya bisa jadi itu cuma alasan aja nggak bisa bikin/ beli rumah bagus dan gede. Karena mampunya saya ya begitu saja. Secukupnya.

Jadi kalau temen2 pas maen ya kadang mungkin mbatin, kok rumahnya kecil gini.. ๐Ÿ˜ƒ wis gpp, sing penting nyaman, sehat dan bahagia.

tugas baru

Tags

, , , ,


Mulai 24 Juni 2024 lalu, posisi baru diluar institusi yang lebih dari 30 tahun saya geluti menempel di pundak. Posisi yang alhamdulillahnya setingkat lebih tinggi meskipun diluar kementerian awal. Ya, saya menempati posisi baru di Sekretariat Jenderal Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus yang dibentuk dengan mengacu kepada Perpres no 8 tahun 2022. Lembaga yang relatif baru lahir dari banyak bapak dalam wadah Dewan Nasional KEK diketuai oleh Menko Perekonomian, dengan ada banyak kementerian lainnya sebagai anggotanya.

Sebagai sebuah lembaga baru, dengan segala keterbatasan resource, mampu bergerak mengakselerasi tumbuhnya banyak Kawasan Industri baru dengan menggunakan predikat fasilitas Kawasan Ekonomi Khusus dengan segala previlegenya. KEK yang sejatinya telah diberi payung hukum sejak 2009, diperkuat dengan diundangkannya Undang-undang Cipta Kerja. Terlebih dengan ditetapkannya Kawasan Ekonomi Khusus sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Saat ini ada sekitar 22 (duapuluh dua) Kawasan Ekonomi Khusus di seluruh wilayah Republik Indonesia. Dah.. perkenalan dan promosi tentang apa itu KEK cukup..

Kembali ke cerita tentang new assignment saya..
Saya ditempatkan di kantor yang memiliki nama resmi Administrator Kawasan Ekonomi Khusus Gresik yang berada tentu saja di Gresik, sebuah kota kabupaten di wilayah timur pulau Jawa. Penamaan Administrator sendiri mengingatkan saya pada administrator pelabuhan dan administrator bandara sebelum kemudian berubah lagi menjadi Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan serta Kantor Otoritas Bandara. Sebuah institusi vertikal dipimpin oleh pejabat setingkat eselon 2.

Bahwa pendudukan saya di posisi setingkat dibawah Kepala Administrator melalui seleksi internal yang dimotori oleh Biro SDM Kementerian Keuangan. Tentu saja dengan didahului penawaran keberminatan. Nah.. disinilah asal muasalnya kenapa saya mau apply penawaran ini. Ya.. tentu saja karena rupanya ada jabatan target di wilayah homebase saya, di Administrator KEK Galang Batang di Pulau Bintan. Rasanya kok enak kalau bisa lolos naik jabatan, tapi di homebase, di luar jawa pula.

Nah.. sampailah kemudian dimana fixed bahwa penugasan saya dari Kementerian Keuangan di Sekjen Denas KEK adalah di Kantor Administrator KEK Gresik, kota kabupaten berjarak satu jam dari Surabaya dan pernah saya sambangi saat ziarah makam Sunan Maulana Malik Ibrahim, pas saya dinas di Bea Cukai Tanjung Perak tahun 2008 s.d 2011.

Yo wis alhamdulillaah, saya bisa menikmati dialek jawa timuran lagi setelah meninggalkan Surabaya tahun 2011. Dengan catatan beberapa kulineran mesti saya skip seperti rujak cingur sapi, soto ayam lamongan, dan tentu saja bebek goreng. Sisanya masih masuk ke perut, seperti bandeng, belut, sop kaki kambing, dan pecel.

Saya cuma bisa minta do’anya saja semoga penugasan dua tahun di KEK Gresik ini bisa lancar dan barokah sak kabehane.. aamiin..

Poluan


  
Saya mendengar langsung pujian yang dilontarkan pak Parjiya tentang pegawai ini. “auranya positif dsn bersemangat !”, ujar beliau. Saya yang saat itu diajak ngobrol, mengiyakan. Dan alasan itulah yang beberapa hari sebelumnya menghadirkan sosok si pemilik aura postif dan penuh semangat itu. Saya menghadirkannya walaupun hanya di hadapan segelintir pegawai-pegawai muda, tapi mereka adalah calon-calon bea cukai masa depan sekaligus calon penulis handal, pencatat sejarah tumbuh kembangnya institusi besar, Bea Cukai di masa kerja mereka 20 – 30 tahun kedepan.
Saya menghadirkan sosok yang menurut penilaian  , so humble. Padahal saya tahu betul bahwa pada saat ia mendekati masa pensiun, sang atasan langsung, mau saja memperpanjang masa kerjanya agar ia tetap memegang kesinambungan bengkel kapal di Pangkalan Sarana Operasi Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Balai Karimun. Artinya, ia sangat dibutuhkan.

Dialah Humardi Poluan, salah satu aset SDM yang tekun di bidang yang menjadi tanggungjawabnya di perbengkelan kapal. Keahlian yang tidak ia peroleh serta merta, melainkan dengan bekal sekolah unggulan pada jamannya di STM Kristen Tomohon dibawah binaan pemerintah Swiss. Dengan modal itu, sebagaimana dituturkannya, ia bertekad ikut pamannya di Tanjung Balai Karimun untuk menjadi pegawai honorer di bengkel kapal dengan modal utamanya : tekun. 

Ketekunan itulah yang membuat ia tetap berurat berakar di rumah bengkel hingga akhir masa tugasnya. Hanya sebentar ia dimutasikan ke Pantoloan untuk kemudian kembali ke tempat dimana ia meniti karier, Tanjung Balai Karimun.

Ketekunan itu juga yang membuatnya selalu dibebani amanah menjaga tetap berjalan normalnya operasional mesin kapal yang diberi tugas membawa orang- orang penting yang naik ke kapal patroli Bea Cukai. Ia mesti on board, walaupun sejatinya tugasnya adalah di bengekl, di darat. 
Ketekunan itu juga yang membuatnya diakui oleh teknisi-teknisi pembuat kapal dari Jerman setelah kemampuannya mengatasi beberapa hal yang dalam pandangannya sebagai sebuah handycap operasional mesin kapal. Karena kemampuan menciptakan inovasi itulah, ia diganjar dengan “royalti” tidak tertulis yang dikirim setiap tahun ke rekeningnya menjelang Hari Raya. Hadiah yang juga sebagai anugerahnya sebagai seorang muallaf.
Ketekunan yang kemudian membawanya tidak terlalu banyak menuntut dan mampu menciptakan tiga inovasi lainnya yang menurutnya hanya akan ia turunkan kepada orang yang benar-benar menjiwai perbengkelan kapal patroli Bea Cukai. inovasi yang saya yakin sangat bermanfaat. 
Apa yang dilakukannya setelah pensiun? ia tetap bergerak dan menerima perintah kerja dari perusahaan pemasok mesin kapal. Ia tetap segar berjalan memenuhi job order yang diterimanya meskipun dibatasinya hanya di sekitar wilayah Kepri saja. Keahliannya ia bawa kemana-mana, karena memang masih tersimpan rapi di dalam otaknya.

Terimakasih Bapak Humardi Poluan atas kesempatan berbagi pengalam hidup bagi kami yang saat ini masih harus meneruskan keberlangsungan institusi besar yang sama-sama kita cintai, Bea Cukai. 

Radar Jantan


Seandainya di pulau Karimun Kecil ini ada gundukan tanah yang lebih tinggi dari 500 meter dpl, saya yakin, niscaya Gunung Jantan ini tidak akan menyandang nama sebagai Gunung Jantan. Ia hanya akan bernama Bukit Jantan. Tapi itulah anugerah Tuhan bagi warga Kabupaten Karimun, adanya sebuah bukit setinggi 498 meter dpl dan tidak ada kompetitornya, jadilah ia menyandang nama Gunung Jantan.
   
 Gunung Jantan adalah istimewa bagi Bea Cukai Tanjung Balai Karimun. Ini karena ada asset kita, asset pemerintah, yang menghampar sepanjang sekira hampir 2,5 kilometer bentangan jalan menanjak menuju puncaknya dimana disana pernah berdiri dengan kokohnya Menara Radar Pantai. Menara yang secara teknis operasional dioperasikan oleh stasiun radar pantai di Teluk Air bersama Menara Radar Pantai di Bukit Dangas Batam.
Kini Menara Radar Pantai di puncak Gunung Jantan itu sudah “mangkrak”. Panel radar Thomson-CSF-nya sudah jatuh teronggok disudut bawah, patah. Menaranya sendiri sudah terlihat rapuh digerogoti hembusan angin laut yang menerbangkan butiran karatnya merata ke sekeliling puncak menara. Karenanya, sebagai peringatan, sebuah bentangan spanduk dipasang agar pendaki berhati-hati dan tidak menaiki menara, bahaya!!
Tapi, menara itu tetap menjadi sebuah “obyek wisata” sederhana dan seadanya. Ia bisa tetap menjadi tempat pembaiatan buat Bea Cukai muda yang baru beberapa hari menginjakkan kakinya di Tanjung Balai Karimun. Saya tidak pernah tau pesan apa yang disampaikan senior-senior mereka saat menjalankan ritual mendaki Gunung Jantan ini, tapi setidaknya mereka, para Bea Cukai muda ini bisa melihat betapa para pendahulu mereka telah melek teknologi di tahun 80-an dengan menempatkan alat penginderaan jarak jauh yang memiliki bentangan seluas selat malaka. Sebuah kemajuan yang saat itu hanya dipikirkan dan direalisasikan kepemilikannya oleh pendahulu Bea Cukai. 
Saya yakin bahwa radar pantai ini bukan untuk gagah-gagahan dan sekedar menunjukkan bahwa Bea Cukai bisa menguasai pergerakan kapal-kapal penyelundup pada jamannya. saya yakin ini lebih kepada mendukung bahwa kita, Bea Cukai, adalah bagian penting – bahkan sangat penting dalam menjaga NKRI.

CTU

Tags

, , ,


Saya bingung waktu temen yang saat itu di posisi kepala subbagian umum Gresik itu bilang, โ€œmet aku saiki wis mlebu anggota CTUโ€. Lho kok? โ€œyo, Customs Tata Usahaโ€. Saya terus ngakak. Ternyata ada akronim lain dari Customs Tactical Unit, yaitu Customs Tata Usaha, akronim yang dipaksakan. Saya juga paham kalau dari nada suara temen saya itu seperti menyampaikan message kalau ini adalah plesetan dari Customs Tactical Unit ( CTU ) yang keren itu. Yang ini tentu saja CTU – kawe. ย Customs yang kerjaannya ngurusi administrasi, alias cuma unit pendukung.

Seperti juga anggapan yang melekat di beberapa unit vertikal yang tidak bersinggungan langsung dengan pelayanan pabean dan cukai, misalnya di Pangkalan Sarana Operasi, unit yang memang tugas dan fungsinya melakukan perbaikan dan kelaiklautan kapal ย yang akan digunakan dalam rangka patrol, mereka melabelkan sebagai Dan, tanpa embel-embel Bea didepan serta Cukai dibelakangnya. Pengetahuan teknis yang ada ya murni tentang bagaimana melakukan pelayaran dalam rangka patroli dengan aman dan berjalan dengan baik.

Demikian juga dengan Tata Usaha, TU, yang melakukan kerja menyiapkan segala sesuatu yang menjadi hak pegawai yang mengemban tugas di tugas pokok, yaitu memproses amprah gaji, amprah TKPKN, amprah uang makan, amprah ransum patrol, memproses pengajuan cuti, dan hal-hal administrasi lainnya. Tugas yang dilaksanakan di belakang meja, katanya.

Penting nggak sih CTU, Customs Tata Usaha?

Jawaban saya mantep, ya Penting, pake Banget, dan semua lini organisasi mesti ada bagian Tata Usahanya. Polisi juga ada bagian Tata Usaha-nya, TNI juga ada Tata Usaha-nya, bahkan Satpol PP pun demikian. Kerjaannya jelas, menyiapkan segala sesuatu yang mendukung tugasย pokok institusi itu berjalan dengan lancar dan baik. Kesiapannya tentu saja dari Organisasi-nya , SDM-nya, serta Sarana maupun Prasarana-nya. Istilah yang lagi kekinian, disingkat OSI ( Organisasi, SDM, dan Infrastruktur)

Di Bea Cukai, kerjaan menata organisasi itu ada di unit Tata Usaha yang menangani Organisasi dan Tata Laksana (Bagian OTL). Kerjaan SDM ada di unit Kepegawaian (Bagian Administrasi Kepegawaian dan Bagian Pengembangan Kepegawaian). Sementara kerjaan Infrastruktur ada di unit rumah tangga dan perlengkapan (Bagian Umum dan Bagian Perlengkapan).

Kerjaan itu kemudian dideliver ke level vertikal bawahnya, kecuali untuk kerjaan menata organisasi, dimana dikerjakan seluruhnya oleh Bagian Umum di level Kantor Wilayah, dan Subbagian Umum di level Kantor Pelayanan.

Trus dimana pentingnya?

Lha bayangin aja kalau pegawai udah kerja nggak ada yang ngurusi pengajuan gajinya, nggak ada juga yang ngurusi berapa prosentase dapat TKPKN-nya, nggak ada yang ngurusi pengajuan seragam dinasnya, nggak ada yang nyiapin pembelian bahan bakar minyak (BBM) untuk kapal patrolinya, nggak ada yang ngurusin gedung tempat kerjanya biar nyaman, nggak ada yang mbenerin mobil dines yang rusak, nggak ada yang memproses kenaikan pangkatnya, dan seterusnya. Bisa jalan nggak tuh kerjaan yang menjadi tugas pokok pegawai itu? nggak bakalan bisa.

Trus ngapain udah jadi Customs Tata Usaha, masih mau juga ngurusi pengadaan barang dan jasa? Kerjaan yang rawan dan selalu dipentelengi serta selalu jadi obyek pemeriksaan Aparat Pemeriksa Fungsional, BPK, BPKP atau Inspektorat Jenderal, bahkan Kejaksaan.

Ya, trus kalau nggak ada yang mau, kapan bisa berdiri gedung tempat pegawai ngantor? Kapan bisa dipakainya gedung yang sudah dibangun itu jika belum ada meubelairnya? Kapan juga bisa ditempati gedung itu kalau belum ada AC yang bikin ruang kerja nyaman? Kapan bisa ngerjain tugas administrasi kalau komputernya belum diadain? Ya mesti diadain dulu, sama pegawai yang mestinya dikasih label, CTU-special force.

 

Gedung Negara

Tags

, , , , , , , , , ,


Mutasi beberapa waktu lalu menghasilkan kepindahan teman saya ย bergeser masih di sekitar Papua. Ia bergeser dari lantai 2, ke lantai 1. Itupun bisa dilalui lewat tangga darurat, dan tidak perlu menggunakan lift. Ya, ruangannya bergeser dari lantai 2 Gedung Papua, dimana Seksi Publikasi dibawah Subdit Humas berada, ke lantai 1, ruangan dimana Subbag Rumah Tangga dibawah Bagian Umum berada. Beruntungnya dia, karena kepindahannya walaupun di Papua, masih melihat sliwerannya busway Transjakarta jurusan Cawang โ€“ Tanjung Priok atau Pinang Ranti โ€“ Tanjung Priok.

Penamaan gedung-gedung di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai di Rawamangun dengan nama-nama pulau besar di Indonesia, seolah memberi empati kepada teman-teman yang benar-benar berada di pulau yang namanya besar terpampang di muka gedung itu. Jadi suatu ketika seorang pegawai dihubungi temannya dari Sampit , ia akan bisa berkelakar, โ€œkau di sebelah mana? Aku lagi di Kalimantan ini!โ€.

Bergeser sedikit dari Jalan A Yani, ke Jalan Bojana Tirta dimana Pusdiklat Bea dan Cukai berada, begitu melewati gerbang dan pos PKD, penamaan gedung-gedung yang ada jadi berubah. Namanya menggunakan beberapa nama Direktur Jenderal pendahulu. Bergeser jauh ke tepi laut, gedung megah lima lantai di jalan pabean nomer 1 milik Kantor Pelayanan Utama Tanjung Priok juga tidak memiliki nama khusus, tapi bisa dibilang seluruh stake holder, bahkan tukang ojek pun sepakat menamainya sebagai gedung induk.

Berbeda dengan di Rawamangun dan Tanjung Priok, di Tanjung Balai Karimun, tempat dimana Kantor Wilayah DJBC Khusus Kepulauan Riauย  berada, asrama mentereng dengan warna ngejreng khas Marine Customs, Oranye Biru, berlantai tiga yang berjejer sepanjang Meral, menggunakan nama burung. ย Ada Asrama Rajawali, Asramaย  Elang, dan Asrama Garuda. ย Sedangkan dua asrama berikutnya menggunakan numeric, Empat dan Lima, dengan angka. Bangunan gedung lainnya adalah gudang tangkapan menggunakan alphabet, sedangkan gedung utama Kanwil DJBC Khusus Kepri dan gedung Pangkalan Sarana Operasi , tidak spesifik menggunakan nama.

Lalu bagaimana seharusnya menamai gedung Negara?

Menamai bagian dari memberi identitas. Rasanya tidak mungkin seseorang bermarga tertentu memberi nama anaknya dengan nama marga lain. Demikian juga dengan penamaan gedung Negara milik Bea Cukai, institusi yang secara vertikal berada dibawah Kementerian Keuangan, semestinya mengambil dari akar sejarahnya. Bisa dari nama Menteri Keuangan pendahulu, atau nama Direktur Jenderal pendahulu, atau jika gedung itu berada di wilayah yang punya history dengan Kepala Kantor Wilayah pendahulu. Atau bahkan bisa juga dengan nama pegawai yang secara historis mempunyai andil dalam perkembangan bea cukai di daerah tersebut. Tentu saja menamainya mesti dengan pertimbangan yang matang dan bila perlu dibuatkan rambu-rambu atau tata cara penamaannya.

Hasil penelusuran melalui google dengan keyword penamaan gedung Negara, saya mendapatiย  Peraturan Daerah Kabupaten Landak nomorย ย  8ย ย  Tahunย  2010 Tentang Penamaan Fasilitas Umum, yang secara khusus memberi pedoman bagaimana menamai gedung atau tempat-tempat tertentu yang merupakan fasilitas umum, bukan gedung Negara, seperti yang saya inginkan.

Merujuk kepada draft Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai tentang Identitas Gedung Negara Direktorat jenderal Bea dan Cukai yang diupload di CEHRIS pada tanggal 08 April 2016, ruang lingkup identitas gedung Negara, lebih kepada tipologi satuan kerja, dan tidak memberi aturan tentang bagaimana seharusnya gedung-gedung yang ada di suatu satker – yang kebetulan memiliki bangunan gedung yang banyak, diberikan identitas. ย Saat menulis ini, saya sedikit berharap, ada hendaknya disisipkan ketentuan tentang penamaan gedung-gedung agar nama yang ada nantinya lebih dikenal masyarakat dan meningkatkan citra DJBC tanpa meninggalkan kearifan lokal.

Khusus di Tanjung Balai Karimun, saya rasa penamaannya tidak juga perlu menumbuhkan rasa empati dengan menggunakan nama Tarempa, Dabo Singkep atau Sambu Belakang Padang, karena masih sama-sama di luar Jawa. Apalagi ketiga nama itu akan menjadi sejarah mengingat akan dilebur ke kantor terdekat dan hanya menjadi kantor bantu. Bagus juga kalau penamaannya melibatkan para purnabhakti yang ada, yang jumlahnya menurut data yang saya peroleh, ada seratus orang lebih, dan tinggal di Tanjung Balai Karimun. Sebut saja nama pendahulu Kepala Kanwil yang melekat di ingatan mereka, para purnabhakti itu, seperti Bambang Soebadhi, mengikut satu nama gedung mess pegawai yang sudah menggunakan nama Kakanwil pendahulu, GO Kandouw.

Mudah-mudahan urun rembug ini bisa memberi warna peringatan ulang tahun ke-70 Bea dan Cukai menuju Bea Cukai Makin Baik.

Pos Ketapang


  Pohon besar yang rimbun dan menjulang tinggi di belakang kantor itu namanya pohon ketapang. Saya tidak mengerti persis nama latin-nya, yg jelas, orang awam menamainya demikian. 
Saya juga tidak bisa memastikan usia dari pohon besar itu. Tapi saya yakin, keberadaan pohon ketapang yang saat ini sudah sedemikian besar dan rimbun ini seumur dengan keberadaan posko pasukan buser patroli laut Kanwil DJBC Khusus Kepri yang dulu lebih populer dengan nama Kanwil Tanjung Balai Karimun. 

Penamaan pos buser itu pun mengikuti keberadaan pohon ketapang, dan jadilah nama pos ketapang.

Lazimnya sebuah pos pasukan buru sergap (buser) patroli laut, pos ini tidak pernah kosong dan selalu diisi oleh petugas yang stand by menunggu perintah mendadak, petugas yang bersiap berangkat melaksanakan tugas patroli laut, atau petugas yang telah selesai sekedar melepaskan penatnya dengan minum kopi dan bercengkrama atau bahkan bertukar informasi.

Pos Ketapang, keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari Kanwil DJBC Khusus Kepri. Sudah cukup banyak prestasi yang ditorehkan oleh pasukan buser patroli laut yang mangkal di pos ini. Tangkapan yg lagi kekinian dan berhasil membuat bangkrut pemodalnya adalah tangkapan rokok ex FTZ Batam. Cerita heroik penangkapan ini akan saya tulis di segmen yang lain.

Keberadaan pohon besar di belakang kantor itu sungguh sangat bermanfaat sebagai tempat berteduh di tengah panas terik Tanjung Balai Karimun. Syukurnya, ia tetap ada, tumbuh dan semakin tinggi serta rimbun seperti payung besar. Ia tetap tumbuh bertahun-tahun lagi dan akan menjadi saksi lalu lalang dan silih bergantinya petugas-petugas bea cukai yang dinaunginya. 

ibadah unggulan


Khatib di mesjid belakang kanwil pekanbaru tempat dimana saya sholat jumat dalam suatu kesempatan dinas, istimewa. Beliau menyarankan kepada segenap jamaah untuk mempunyai ibadah unggulan, selain seruan lainnya tentang ajakan taqwa. Sang Khatib menyatakan, ibadah sholat lima waktu, puasa, dan zakat itu sudah semestinya dan wajib dilakukan, karenanya, jangan jadi yang biasa-biasa saja. Musti ada ibadah yang lebih, dan jadi unggulan. Jadilah ia ibadah unggulan, ibadah yang tidak bisa dan belum tentu semua orang melakukannya, meskipun ia sebenarnya mampu. Spesial, biarpun sedikit, tapi terus-menerus.

Tahajud tiap malam, terus-menerus, biarpun cuma dua rokaat, itu contohnya. Atau kalau nggak kuat tahajud, puasa senen kemis, rutin dan istiqomah dijalankan, itu ibadah unggulan. Sodakoh dan infak, biarpun tidak besar, asal selalu dilakukan baik disaat lapang maupun sempit, juga masuk kategori ibadah unggulan. Pendek kata, segala amal baik yang ada tuntunannya biarpun sedikit tapi berkesinambungan dilakukan, bakal jadi ibadah unggulan yang diperhitungkan.

Kegiatan mengadakan ibadah unggulan itu karena kita ingin ada sesuatu yang lebih yang bisa kita lakukan dibanding kebanyakan lainnya. Kita tidak tau, ibadah yang mana yang akan bisa memberatkan timbangan amal baik kita di hari perhitungan kelak.

Benar bahwa semua tergantung kepada Rahman dan Rahim-Nya Alloh semata, tapi mengelola keistimewaan kita dengan membiasakan diri memiliki ibadah unggulan, insya Alloh akan menjadikan kita manusia yang istimewa.

Sebagai penutup, dengan menukil sebuah hadits, โ€œ dari Aisyah ra. ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. masuk ke rumah Aisyah waktu itu ada seorang perempuan, dan beliau bertanya: โ€œSiapakah dia?โ€ Aisyah menjawab: โ€œIni adalah fulanah yang terkenal shalatnya.โ€ Nabi bersabda: โ€œWahai fulanah, beramallah sesuai kemampuanmu. Demi Allah. Dia tidak akan pernah jemu menerima amalmu, sehingga kamu sendirilah yang merasa jemu. Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah yaitu yang dikerjakan secara terus menerus.โ€ (HR Bukhari dan Muslim)

Semoga kawan sekalian bersiap diri, memberi nilai lebih ibadah kita dengan melakukan ibadah unggulan yang yang insya Alloh jadi jalan kebaikan kelak.