CTU

Tags

, , ,


Saya bingung waktu temen yang saat itu di posisi kepala subbagian umum Gresik itu bilang, “met aku saiki wis mlebu anggota CTU”. Lho kok? “yo, Customs Tata Usaha”. Saya terus ngakak. Ternyata ada akronim lain dari Customs Tactical Unit, yaitu Customs Tata Usaha, akronim yang dipaksakan. Saya juga paham kalau dari nada suara temen saya itu seperti menyampaikan message kalau ini adalah plesetan dari Customs Tactical Unit ( CTU ) yang keren itu. Yang ini tentu saja CTU – kawe.  Customs yang kerjaannya ngurusi administrasi, alias cuma unit pendukung.

Seperti juga anggapan yang melekat di beberapa unit vertikal yang tidak bersinggungan langsung dengan pelayanan pabean dan cukai, misalnya di Pangkalan Sarana Operasi, unit yang memang tugas dan fungsinya melakukan perbaikan dan kelaiklautan kapal  yang akan digunakan dalam rangka patrol, mereka melabelkan sebagai Dan, tanpa embel-embel Bea didepan serta Cukai dibelakangnya. Pengetahuan teknis yang ada ya murni tentang bagaimana melakukan pelayaran dalam rangka patroli dengan aman dan berjalan dengan baik.

Demikian juga dengan Tata Usaha, TU, yang melakukan kerja menyiapkan segala sesuatu yang menjadi hak pegawai yang mengemban tugas di tugas pokok, yaitu memproses amprah gaji, amprah TKPKN, amprah uang makan, amprah ransum patrol, memproses pengajuan cuti, dan hal-hal administrasi lainnya. Tugas yang dilaksanakan di belakang meja, katanya.

Penting nggak sih CTU, Customs Tata Usaha?

Jawaban saya mantep, ya Penting, pake Banget, dan semua lini organisasi mesti ada bagian Tata Usahanya. Polisi juga ada bagian Tata Usaha-nya, TNI juga ada Tata Usaha-nya, bahkan Satpol PP pun demikian. Kerjaannya jelas, menyiapkan segala sesuatu yang mendukung tugas pokok institusi itu berjalan dengan lancar dan baik. Kesiapannya tentu saja dari Organisasi-nya , SDM-nya, serta Sarana maupun Prasarana-nya. Istilah yang lagi kekinian, disingkat OSI ( Organisasi, SDM, dan Infrastruktur)

Di Bea Cukai, kerjaan menata organisasi itu ada di unit Tata Usaha yang menangani Organisasi dan Tata Laksana (Bagian OTL). Kerjaan SDM ada di unit Kepegawaian (Bagian Administrasi Kepegawaian dan Bagian Pengembangan Kepegawaian). Sementara kerjaan Infrastruktur ada di unit rumah tangga dan perlengkapan (Bagian Umum dan Bagian Perlengkapan).

Kerjaan itu kemudian dideliver ke level vertikal bawahnya, kecuali untuk kerjaan menata organisasi, dimana dikerjakan seluruhnya oleh Bagian Umum di level Kantor Wilayah, dan Subbagian Umum di level Kantor Pelayanan.

Trus dimana pentingnya?

Lha bayangin aja kalau pegawai udah kerja nggak ada yang ngurusi pengajuan gajinya, nggak ada juga yang ngurusi berapa prosentase dapat TKPKN-nya, nggak ada yang ngurusi pengajuan seragam dinasnya, nggak ada yang nyiapin pembelian bahan bakar minyak (BBM) untuk kapal patrolinya, nggak ada yang ngurusin gedung tempat kerjanya biar nyaman, nggak ada yang mbenerin mobil dines yang rusak, nggak ada yang memproses kenaikan pangkatnya, dan seterusnya. Bisa jalan nggak tuh kerjaan yang menjadi tugas pokok pegawai itu? nggak bakalan bisa.

Trus ngapain udah jadi Customs Tata Usaha, masih mau juga ngurusi pengadaan barang dan jasa? Kerjaan yang rawan dan selalu dipentelengi serta selalu jadi obyek pemeriksaan Aparat Pemeriksa Fungsional, BPK, BPKP atau Inspektorat Jenderal, bahkan Kejaksaan.

Ya, trus kalau nggak ada yang mau, kapan bisa berdiri gedung tempat pegawai ngantor? Kapan bisa dipakainya gedung yang sudah dibangun itu jika belum ada meubelairnya? Kapan juga bisa ditempati gedung itu kalau belum ada AC yang bikin ruang kerja nyaman? Kapan bisa ngerjain tugas administrasi kalau komputernya belum diadain? Ya mesti diadain dulu, sama pegawai yang mestinya dikasih label, CTU-special force.

 

Gedung Negara

Tags

, , , , , , , , , ,


Mutasi beberapa waktu lalu menghasilkan kepindahan teman saya  bergeser masih di sekitar Papua. Ia bergeser dari lantai 2, ke lantai 1. Itupun bisa dilalui lewat tangga darurat, dan tidak perlu menggunakan lift. Ya, ruangannya bergeser dari lantai 2 Gedung Papua, dimana Seksi Publikasi dibawah Subdit Humas berada, ke lantai 1, ruangan dimana Subbag Rumah Tangga dibawah Bagian Umum berada. Beruntungnya dia, karena kepindahannya walaupun di Papua, masih melihat sliwerannya busway Transjakarta jurusan Cawang – Tanjung Priok atau Pinang Ranti – Tanjung Priok.

Penamaan gedung-gedung di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai di Rawamangun dengan nama-nama pulau besar di Indonesia, seolah memberi empati kepada teman-teman yang benar-benar berada di pulau yang namanya besar terpampang di muka gedung itu. Jadi suatu ketika seorang pegawai dihubungi temannya dari Sampit , ia akan bisa berkelakar, “kau di sebelah mana? Aku lagi di Kalimantan ini!”.

Bergeser sedikit dari Jalan A Yani, ke Jalan Bojana Tirta dimana Pusdiklat Bea dan Cukai berada, begitu melewati gerbang dan pos PKD, penamaan gedung-gedung yang ada jadi berubah. Namanya menggunakan beberapa nama Direktur Jenderal pendahulu. Bergeser jauh ke tepi laut, gedung megah lima lantai di jalan pabean nomer 1 milik Kantor Pelayanan Utama Tanjung Priok juga tidak memiliki nama khusus, tapi bisa dibilang seluruh stake holder, bahkan tukang ojek pun sepakat menamainya sebagai gedung induk.

Berbeda dengan di Rawamangun dan Tanjung Priok, di Tanjung Balai Karimun, tempat dimana Kantor Wilayah DJBC Khusus Kepulauan Riau  berada, asrama mentereng dengan warna ngejreng khas Marine Customs, Oranye Biru, berlantai tiga yang berjejer sepanjang Meral, menggunakan nama burung.  Ada Asrama Rajawali, Asrama  Elang, dan Asrama Garuda.  Sedangkan dua asrama berikutnya menggunakan numeric, Empat dan Lima, dengan angka. Bangunan gedung lainnya adalah gudang tangkapan menggunakan alphabet, sedangkan gedung utama Kanwil DJBC Khusus Kepri dan gedung Pangkalan Sarana Operasi , tidak spesifik menggunakan nama.

Lalu bagaimana seharusnya menamai gedung Negara?

Menamai bagian dari memberi identitas. Rasanya tidak mungkin seseorang bermarga tertentu memberi nama anaknya dengan nama marga lain. Demikian juga dengan penamaan gedung Negara milik Bea Cukai, institusi yang secara vertikal berada dibawah Kementerian Keuangan, semestinya mengambil dari akar sejarahnya. Bisa dari nama Menteri Keuangan pendahulu, atau nama Direktur Jenderal pendahulu, atau jika gedung itu berada di wilayah yang punya history dengan Kepala Kantor Wilayah pendahulu. Atau bahkan bisa juga dengan nama pegawai yang secara historis mempunyai andil dalam perkembangan bea cukai di daerah tersebut. Tentu saja menamainya mesti dengan pertimbangan yang matang dan bila perlu dibuatkan rambu-rambu atau tata cara penamaannya.

Hasil penelusuran melalui google dengan keyword penamaan gedung Negara, saya mendapati  Peraturan Daerah Kabupaten Landak nomor   8   Tahun  2010 Tentang Penamaan Fasilitas Umum, yang secara khusus memberi pedoman bagaimana menamai gedung atau tempat-tempat tertentu yang merupakan fasilitas umum, bukan gedung Negara, seperti yang saya inginkan.

Merujuk kepada draft Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai tentang Identitas Gedung Negara Direktorat jenderal Bea dan Cukai yang diupload di CEHRIS pada tanggal 08 April 2016, ruang lingkup identitas gedung Negara, lebih kepada tipologi satuan kerja, dan tidak memberi aturan tentang bagaimana seharusnya gedung-gedung yang ada di suatu satker – yang kebetulan memiliki bangunan gedung yang banyak, diberikan identitas.  Saat menulis ini, saya sedikit berharap, ada hendaknya disisipkan ketentuan tentang penamaan gedung-gedung agar nama yang ada nantinya lebih dikenal masyarakat dan meningkatkan citra DJBC tanpa meninggalkan kearifan lokal.

Khusus di Tanjung Balai Karimun, saya rasa penamaannya tidak juga perlu menumbuhkan rasa empati dengan menggunakan nama Tarempa, Dabo Singkep atau Sambu Belakang Padang, karena masih sama-sama di luar Jawa. Apalagi ketiga nama itu akan menjadi sejarah mengingat akan dilebur ke kantor terdekat dan hanya menjadi kantor bantu. Bagus juga kalau penamaannya melibatkan para purnabhakti yang ada, yang jumlahnya menurut data yang saya peroleh, ada seratus orang lebih, dan tinggal di Tanjung Balai Karimun. Sebut saja nama pendahulu Kepala Kanwil yang melekat di ingatan mereka, para purnabhakti itu, seperti Bambang Soebadhi, mengikut satu nama gedung mess pegawai yang sudah menggunakan nama Kakanwil pendahulu, GO Kandouw.

Mudah-mudahan urun rembug ini bisa memberi warna peringatan ulang tahun ke-70 Bea dan Cukai menuju Bea Cukai Makin Baik.

Pos Ketapang


  Pohon besar yang rimbun dan menjulang tinggi di belakang kantor itu namanya pohon ketapang. Saya tidak mengerti persis nama latin-nya, yg jelas, orang awam menamainya demikian. 
Saya juga tidak bisa memastikan usia dari pohon besar itu. Tapi saya yakin, keberadaan pohon ketapang yang saat ini sudah sedemikian besar dan rimbun ini seumur dengan keberadaan posko pasukan buser patroli laut Kanwil DJBC Khusus Kepri yang dulu lebih populer dengan nama Kanwil Tanjung Balai Karimun. 

Penamaan pos buser itu pun mengikuti keberadaan pohon ketapang, dan jadilah nama pos ketapang.

Lazimnya sebuah pos pasukan buru sergap (buser) patroli laut, pos ini tidak pernah kosong dan selalu diisi oleh petugas yang stand by menunggu perintah mendadak, petugas yang bersiap berangkat melaksanakan tugas patroli laut, atau petugas yang telah selesai sekedar melepaskan penatnya dengan minum kopi dan bercengkrama atau bahkan bertukar informasi.

Pos Ketapang, keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari Kanwil DJBC Khusus Kepri. Sudah cukup banyak prestasi yang ditorehkan oleh pasukan buser patroli laut yang mangkal di pos ini. Tangkapan yg lagi kekinian dan berhasil membuat bangkrut pemodalnya adalah tangkapan rokok ex FTZ Batam. Cerita heroik penangkapan ini akan saya tulis di segmen yang lain.

Keberadaan pohon besar di belakang kantor itu sungguh sangat bermanfaat sebagai tempat berteduh di tengah panas terik Tanjung Balai Karimun. Syukurnya, ia tetap ada, tumbuh dan semakin tinggi serta rimbun seperti payung besar. Ia tetap tumbuh bertahun-tahun lagi dan akan menjadi saksi lalu lalang dan silih bergantinya petugas-petugas bea cukai yang dinaunginya. 

ibadah unggulan


Khatib di mesjid belakang kanwil pekanbaru tempat dimana saya sholat jumat dalam suatu kesempatan dinas, istimewa. Beliau menyarankan kepada segenap jamaah untuk mempunyai ibadah unggulan, selain seruan lainnya tentang ajakan taqwa. Sang Khatib menyatakan, ibadah sholat lima waktu, puasa, dan zakat itu sudah semestinya dan wajib dilakukan, karenanya, jangan jadi yang biasa-biasa saja. Musti ada ibadah yang lebih, dan jadi unggulan. Jadilah ia ibadah unggulan, ibadah yang tidak bisa dan belum tentu semua orang melakukannya, meskipun ia sebenarnya mampu. Spesial, biarpun sedikit, tapi terus-menerus.

Tahajud tiap malam, terus-menerus, biarpun cuma dua rokaat, itu contohnya. Atau kalau nggak kuat tahajud, puasa senen kemis, rutin dan istiqomah dijalankan, itu ibadah unggulan. Sodakoh dan infak, biarpun tidak besar, asal selalu dilakukan baik disaat lapang maupun sempit, juga masuk kategori ibadah unggulan. Pendek kata, segala amal baik yang ada tuntunannya biarpun sedikit tapi berkesinambungan dilakukan, bakal jadi ibadah unggulan yang diperhitungkan.

Kegiatan mengadakan ibadah unggulan itu karena kita ingin ada sesuatu yang lebih yang bisa kita lakukan dibanding kebanyakan lainnya. Kita tidak tau, ibadah yang mana yang akan bisa memberatkan timbangan amal baik kita di hari perhitungan kelak.

Benar bahwa semua tergantung kepada Rahman dan Rahim-Nya Alloh semata, tapi mengelola keistimewaan kita dengan membiasakan diri memiliki ibadah unggulan, insya Alloh akan menjadikan kita manusia yang istimewa.

Sebagai penutup, dengan menukil sebuah hadits, “ dari Aisyah ra. ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. masuk ke rumah Aisyah waktu itu ada seorang perempuan, dan beliau bertanya: “Siapakah dia?” Aisyah menjawab: “Ini adalah fulanah yang terkenal shalatnya.” Nabi bersabda: “Wahai fulanah, beramallah sesuai kemampuanmu. Demi Allah. Dia tidak akan pernah jemu menerima amalmu, sehingga kamu sendirilah yang merasa jemu. Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah yaitu yang dikerjakan secara terus menerus.” (HR Bukhari dan Muslim)

Semoga kawan sekalian bersiap diri, memberi nilai lebih ibadah kita dengan melakukan ibadah unggulan yang yang insya Alloh jadi jalan kebaikan kelak.

GO Kandouw


Sebuah bangunan tua dengan arsitektur lama berdiri di sudut jalan masuk kompleks perumahan dinas bea cukai di jalan dwikora Tanjung Balai Karimun. Bangunannya khas dan kokoh dengan banyak jendela yang membuat sirkulasi udaranya lancar. Sedari dulu bangunan ini selalu saja diwarnai khas bea cukai lama, abu-abu, meskipun kini pagarnya telah berganti warna biru-oranye, lazimnya properti bea cukai lainnya di Tanjung Balai Karimun saat ini. Di sudut bangunan itu terpampang tulisan yang catnya sudah mulai terkelupas, Wisma GO Kandouw. Wisma ini disiapkan untuk pegawai lajang dan berdiri bersamaan dengan infrastruktur lain milik bea cukai sekira tahun 1974. Sebuah wisma yang sangat legendaris, utamanya bagi sebagian besar pegawai atau yang sekarang sudah menjadi pejabat yang pernah merasakan penugasan di Tanjung Balai Karimun saat masih lajang.

Buru-20160408-00055

 

Yang menarik adalah pengambilan nama wisma menggunakan nama salah satu kepala kantor wilayah Tanjung Balai Karimun, GO Kandouw, yang bertugas pada periode 1965 sampai dengan 1973. Beliau adalah salah satu dari sekian banyak pelaut ulung Bea dan Cukai yang asli dari Menado, tepatnya kelahiran Amurang, sebuah kota kecamatan di Minahasa, pada 23 April 1924. Beberapa purnabhakti yang pernah mengalami masa kepemimpinannya, mengenalnya sebagai harimau selat malaka, karena kegigihannya dalam memberantas penyelundupan. Catatan lainnya tentang beliau adalah keterlibatannya sebagai pengurus Persatuan Sepakbola Karimun, di periode yang sama dengan masa kepemimpinannya di Tanjung Balai Karimun.
Selebihnya, tidak banyak catatan lain tentang sepakterjang beliau selain foto yang terpajang.
Kini, wisma GO Kandouw akan menjalani rehabilitasi dengan biaya DIPA tahun 2016. Keutuhan bentuk aslinya akan tetap dipertahankan, dan dilakukan penambahan bangunan lagi di belakangnya, untuk menambah daya tampung anak lajang dan bujang lokal. Bangunan lama tidak dirubah, hanya di-makeover, ditambah bangunan belakang letter L dengan jumlah kamar yang pasti bertambah. Pertimbangan akan hal itu salah satunya tentu saja adalah sentimental value yang melekat, selain nilai sejarah bangunan awal keberadaan institusi bea dan cukai di Tanjung Balai Karimun. Demikian juga dengan penamaannya, wisma ini akan tetap bernama GO Kandouw. Semoga penggunaan nama salah satu pendahulu bea cukai di Tanjung Balai Karimun ini bisa menjaga ingatan bagi generasi penerus dan merintis penamaan selanjutnya gedung-gedung dan bangunan yang banyak berdiri megah di Tanjung Balai Karimun dengan nama-nama harum pendahulu lainnya.

image

semir

Tags

, , , , , , ,


image

sepatu butut

Foto di atas yang jelas bukan dari jenis sepatu dines. Tapi, memenuhi syarat dan ketentuan untuk digunakan sebagai sepatu dines. Nggak penting merk, yang penting warnanya hitam, bukan jenis selop karena mesti sepatu, dan pake tali  bukan resliting. Yang penting lagi, mesti kinclong tandanya bersih dan terawat.

Nah, ngomongin soal kinclong, sepatu butut saya itu pernah dirawat dengan sangat baik selama penugasan di kantor Tanjung Priok. Yup, meskipun sepatu saya ini menempuh rute panjang dari halte BKN-Cawang sampai halte Enggano-Tanjung Priok, siang hari sesampainya di kantor sudah ada CS yang ngelus-ngelus dan nggosok-nggosok. Alhasil, sore hari saat saya mesti pulang kerja, sepatu saya ini sudah fresh dan siap menempuh kembali rute perjalanan Tanjung Priok – Cawang.

Pak Ujang namanya. “Kantornya” di pojok sebelah kiri pintu menuju mesjid di lantai 4. Tool-nya ya jelas cukup sikat, kain kering, dan Kiwi. Jam kerjanya paling padat adalah Senin sampai Jumat pada saat jam sholat. Tarifnya, seikhlasnya, karena ini kerja sampingannya sebagai CS yang sapu bersih sampah di gedung KPU.

“tugas ekstra”-nya pak Ujang yang menerima nyemir sepatu tadi, juga dibarengi dengan kewajiban dia njagain sepatu-sepatu itu aman dibawah ampuannya, dan menata rapi  sendal-sendal jamaah yang masuk mesjid. Tentu saja bukan cuma sepatu milik pegawai di gedung KPU ini saja, tapi termasuk sepatu-sepatunya tamu dan pengguna jasa yang sholat di mesjid di lantai 4. Tugas ini menjadikan tidak adanya komplain kehilangan sepatu yang biasanya nempel di stigma mesjid umumnya. Yang ada , dan sepertinya jarang kejadian, adalah ketuker atau kehilangan sendal milik pegawai.

Kerjaan ekstra tadi membuat pak Ujang selalu jadi makmum di kloter sholat selanjutnya, setelah memastikan sisa sepatu dan sendal jamaah yang ada aman adanya. Bergegas ia akan membersihkan diri, mengambil wudhu dan memakai sarung untuk sholat fardhu.

Kini sepeninggalan sepatu saya menginjakkan tapaknya dari gedung KPU BC Tanjung Priok, belum ada lagi yang ngelus-ngelus setiap hari kerja. Tidak ada lagi yang memastikan saat ia dipakai di jam pulang kerja dalam kondisi yang fresh setelah disikat dan dilapisi Kiwi. Walhasil, sepatu ini seperti meminta saya melakukan apa yang sudah dilakukan pak Ujang selama dua tahun di KPU Priok, “ayo pak, rajin-rajin semir aku biar sampean keliatan greng makenya”.

 

in the heart of the sea

Tags

, , , , , , , , , ,


IMG-20160317-00042

illustrasi : MV Oceanna 15 saat akan merapat ke pelabuhan Tanjung Balai Karimun

Piye perasaanmu jal, naik ferry Oceanna dari Harbour Bay ke Tanjung Balai Karimun sore hari , di tengah perjalanan disajikan pemutaran film In The Heart of The Sea, tentang kapten George Pollard dan Owen Chase yang pekerjaannya memburu ikan paus. Menonton film ini di tengah saya menjalani perjalanan laut yang akan menempuh waktu satu setengah jam, dengan ombak yang lumayan tinggi karena hembusan angin utara yang kencang, seperti tengah menikmati wahana film 3 D. Asli.
Saat film memperlihatkan scene kapal layarnya digoyang gelombang lautan lepas, saya juga merasakan goyangan yang sama. Untungnya jendela ferri ini cukup bening, jadi masih terlihat gedung-gedung tinggi di sisi kanan, gedung di Singapura, atau lalu lalang kapal lain, atau minimal masih terlihat daratan di kejauhan.
Memang di bulan ini adalah saat berhembus kencangnya angin utara. Dan sekitaran pertengahan februari ini adalah puncaknya, saat perayaan Cap Go Meh, dan angin seperti tidak henti-hentinya bertiup kencang. Kata sebagian orang, fenomena puncak angin utara ini ditandai awal penanggalan China, tanggal 8 februari kemarin, dimana cuaca di wilayah Bintan, Batam dan Karimun, terasa beratnya menjalani perjalanan laut.
Hebatnya, sebagian besar penumpang cuek saja dengan pemutaran film itu. Bisa jadi karena sudah terbiasa, atau nrimo, mau gimana lagi, adanya moda transportasi ke Tanjung Balai Karimun ini ya cuma kapal penumpang ferri ini. Dan jalur yang mesti ditempuh ya itu-itu juga. Saya pengen ngomong ke crew kapal minta ganti filmnya. Lha ini jelas bukan wahana pemutaran film 3D kayak di Ancol itu. Ini dunia nyata. Tapi ngelihat penumpang lain cuek, ya sudahlah.
Dan rute inilah yang rutin dijalani oleh saya dan teman-teman yang mengalami penugasan di Tanjung Balai Karimun. Rute berangkat yang musti nembus laut selama satu setengah jam, bahkan kadang hampir dua jam. Beberapa rekan lagi malah musti menjalani perjalanan yang lebih ekstrim ke arah Tarempa selama dua belas jam dan Dabo Singkep selama empat sampai lima jam. Bisa  mbayangin dengan durasi selama itu berayun menembus ombak menuju tempat kerja demi merah putih, musti modal tekad yang luar biasa. Dan yang pasti, rekan-rekan yang tetap harus mengarungi lautan dalam kondisi ekstrem ini dalam rangka patroli laut. Tidak ada sabtu minggu dan tanggal merah dalam rangka pengawasan penegakan hukum kepabeanan dengan patroli laut.

Mudah-mudahan, di kapal patroli yang mereka pakai, pas di tengah laut dan ditengah terjangan ombak, tidak diputerin film In The Heart of The Sea seperti di ferri yang saya naiki. Nggak pas. Walaupun endingnya Kapten George Pollard dan Owen Chase selamat dan bisa bertemu keluarganya.

family gathering ala PSO


31 Desember 2015, sore itu bertolak dari dermaga milik pengelola kawasan berikat di sekupang, Batam, saya dan keluarga diajak untuk ikut naik ke kapal patroli seri terbaru milik PSO Batam. saya pikir ajakan teman seangkatan saya ini begitu istimewa karena hanya kami sekeluarga diberikan kesempatan mencicipi kapal bontot milik mereka. ternyata tidak. bersama kami ikut juga keluarga dari beberapa pegawai yang bisa ikut dari PSO Batam.

saya tidak begitu hafal mereka dengan posisi-posisi suami mereka di kapal atau di struktur PSO Batam. yang jelas, di kapal yang saya on board bersama keluarga disitu, ramai istri dan anak-anak yang bahkan ada yang berusia masih di sekitar satu tahun lebih. riuh rendah mereka turun naik dari dek bawah sampai anjungan kemudi. sayang cuaca kurang mendukung karena gerimis dan kesempatan untuk berdiri di tepi badan kapal di dek paling atas jadi terhalang. keriuhan anak-anak pegawai anak buah kapal patroli ini hingga kapal mulai bergerak dari tempat mereka sandar menuju belakang pulau mariam atau meriam, sambu menuju batas perairan internasional.
saya kebetulan duduk di anjungan kemudi dan keluarlah pertanyaan polos seorang anak juru mudi : ” ayah, ini kapal ayah kan?”. ayahnya segan menjawab, hingga memaksa sang anak bertanya lagi, ” bener kan ayah, ini kapal ayah?”. saya tersenyum mendengarnya dan menganggap bahwa ini adalah bukti sebagai rasa ikut memiliki dan bangga terhadap properti milik direktorat ini. tentu saja buat sang anak adalah kebanggaan karena ayahnyalah yang membawa dan memegang kemudi kapal.
keriuhan itu perlahan berkurang saat kapal memutar arah kembali ke pangkalan, dan alunan gelombang akibat angin utara membuat kapal bergoyang ke segala arah. perlahan, satu persatu anak -anak kecil itu ada yang mulai mabuk laut, disusul kemudian istri-istri anak buah kapal, termasuk istri saya. mereka bergantian keluar masuk kamar mandi atau menghadapkan mulut ke tong sampah yang ada untuk mengeluarkan muntahnya. beberapa masih kuat dan tahan hingga tidak mengalami mabuk laut. untungnya perjalanan kembali tidak dilakukan dalam waktu yang lama, dan kapal memutar kembali ke pangkalan dengan kecepatan lebih tinggi ke arah dermaga tempat sandar yang masih berstatus numpang.
saya masih belum ngeh dengan maksud teman saya mengadakan “touring” semacam ini dengan membawa keluarga. saya tahu persis kalau rute yang akan dilalui meskipun melalui jalur teraman pun akan terkena dampak gelombang angin utara yang beberapa hari ini sedang kencang-kencangnya.
ternyata rasa penasaran saya terjawab saat ada beberapa istri anak buah kapal yang nyeletuk dan terdengar : ” jadi begini susahnya suami kita bekerja mencari nafkah ya”
saya terus, deg, ini toh maksud temen saya mengadakan kegiatan ini. message-nya nggak perlu berpanjang-panjang kata, cukup : “ayo ikut ngrasain susahnya suamimu kerja “, dan kena.
saya menghitung, kira-kira dengan rute pendek , seperti sea trial dan tidak menghabiskan dana lebih dari 5 juta. daripada mengundang motivator penggugah kesadaran mendukung sepenuhnya kerja suami yang bekerja, nilai segitu menurut saya jelas worthed.
saya rasa inilah family gathering ala PSO.

dangkung

Tags

, , , , , , , , , ,


imageimage

dangkung1/dang·kung/ n penyakit kusta yang telah parah (terutama yang telah membusukkan kulit); KBBI

Itu hasil googling saya dengan kata pencarian “dangkung”, dalam rangka mencari arti kata itu. Cukup mengagetkan. Arti lainnya dengan kata yang sama, diterjemahkan dengan arti yang tidak kalah negatifnya. Saya rasa inilah yang membuat pergerakan jumlah kosa kata bahasa Indonesia bergerak lambat sebagai sebuah bahasa besar dengan ribuan bahasa daerah pendukung yang tersebar di seluruh penjuru nusantara.

Saya mencari arti kata “dangkung” bukannya tanpa sebab. Ini karena kata ini masih asing di telinga, saat saya bersama keluarga menyaksikan sebuah tanggapan yang disajikan dalam sebuah acara ngunduh mantu saudara kami di daerah Telok Sasah, sebuah kelurahan di wilayah Tanjung Uban, Bintan. Tanggapan berupa live musik yang disajikan oleh sekelompok orang dengan pakaian sederhana, bahkan sangat sederhana. Beberapa pemain alat musiknya memang masih muda, tapi tidak demikian dengan penyanyinya, ia sudah menuju senja. Suaranya pun tidak bisa dibilang merdu. Tapi cengkok khas melayunya, pas ia bawakan.
Dengan mengambil tempat di belakang barisan para penyambut tamu, grup musik ini memainkan lagu-lagu melayu dari negeri jiran. Seingat saya ada satu lagu populer yang pernah akrab di telinga dengan judul, Nyonya Singapura. Aransemen musiknya yang luar biasa sederhana dan pembawaan penyanyinya yang semangat, membuat suasana hajat ngunduh mantu dari keluarga laki-laki dengan adat melayu ini jadi hidup. Semua tamu undangan benar-benar terhibur. Sebagian malah senyum-senyum melihat tampilan energik sang penyanyi.
Saya bertanya ke istri, tentang nama kesenian ini, dan namanya adalah Dangkung. Semestinya dalam bentuk aslinya, sebagaimana disampaikan beberapa orang yang saya tanya, penampilan grup musik Dangkung ini diiringi dengan joget plus sawerannya. Katanya di beberapa hajatan nikah sebelumnya juga pernah ada, tapi diberikan kesempatan perform di penghujung acara, dan disajikan khas buat ibu-ibu penjaga dapur dan pencuci piring, alias konco wingking.
Praktis selama menikmati santapan yang disajikan oleh tuan rumah ada empat lagu yang bisa saya dengar, dan kami puas. Saya kemudian membandingkan kurang lebihnya kesenian daerah semacam ini dengan sebagian besar kesenian daerah lainnya yang dihidupkan dan dilestarikan oleh orang-orang tua, seperti Tanjidor di Betawi. Kesenian daerah semacam ini dianggap oldis dan kurang diterima. Tuan rumah biasanya lebih senang menyajikan organ tunggal atau band yang lebih modern.

Dangkung, sebuah kegiatan bermusik khas melayu, dengan tampilan seadanya, mestinya tidak disajikan untuk kalangan konco wingking. Ia layak sebagai penampil utama dalam sebuah acara resmi guna menghidupkan dan melestarikan keberadaannya.

meral


Meral adalah nama yang tidak asing bagi sebagian besar pegawai bea cukai. terlebih bagi yang pernah menjalani penempatan di Karimun. ia adalah nama kecamatan, lokasi dimana bangunan Kanwil DJBC Khusus Kepulauan Riau berdiri tegak sejak tahun 1974. jaraknya sekira 5 kilometer dari pelabuhan ferry Tanjung Balai Karimun, dengan menyusuri sepanjang jalan Ahmad Yani.

Meral, letaknya di cekungan yang relatif aman dari ancaman gelombang laut karena terlindung pulau merak, pulau yang sebagian wilayahnya dimiliki oleh Bea Cukai dan dimanfaatkan untuk pembangunan tanki untuk penimbunan bahan bakar minyak dan air bersih untuk keperluan supply kapal patroli.

SAMSUNG

prasasti peletakan batu pertama kantor Bea Cukai di Meral

Berdiri sejak tahun 1974, komplek bangunan Kanwil DJBC Khusus Kepulauan Riau, dengan ratusan pegawai yang pernah mengabdikan dirinya dalam institusi ini, menjadikan kantor ini tidak hanya  dikelilingi oleh rumah dinas bagi pegawai Bea Cukai yang masih aktif, juga dikelilingi oleh purnabhakti Bea Cukai yang sudah terlanjur mengambil tempat tinggal di daerah Meral.Walaupun dominasi pendatang keturunan Tiongkok lebih mendominasi di sepanjang sisi jalannya. Walhasil, jangan heran kalau suatu ketika pegawai bersinggungan kendaraan atau apapun yang menghasilkan interaksi yang kurang mengenakkan, ternyata ujung-ujungnya berurusan dengan keluarga Bea Cukai juga. Bisa anaknya, cucunya, menantunya, adiknya, kakaknya, atau iparnya.

Seperti yang terjadi hari ini, saat kami melaksanakan kegiatan pembinaan jasmani, rombongan lari kami bersinggungan dengan seorang pemuda. ribut sedikit, bersitegang, hingga akhirnya nglurug kantor. Saya iseng tanya ke salah satu warga yang ikut nglurug itu.

“njenengan siapanya anak yang ribut itu?”, tanya saya.

“saya om-nya dia pak. saya anaknya penisunan bea cukai juga”, jawab dia sambil menyebut salah satu nama pegawai yang sudah purnabhakti.

‘hmm.. lha dia yang ribut ngadu itu siapa?”, tanya saya lebih lanjut.

“dia juga anaknya pensiunan bea cukai pak. baru saja orang tuanya meninggal, makanya mungkin dia agak sensitif”, jawab pemuda itu lagi. saya nggak kepikiran namanya dia, saking tegangnya suasana.

Kami sama-sama melihat pembicaraan bertensi tinggi yang dilakukan oleh temen saya dengan pemuda yang ribut itu dan tetuanya dia.

Terus saya bilang ke warga yang saya ajak bicara, ” lha kalau urusannya masih keluarga bea cukai, ngapain juga kita sampai ribut? udah kita selesaikan kekeluargaan saja”.

“ya terserah dia pak, saya cuma nemeni saja.”, jawabnya.

Saya tidak berani mengambil kendali pembicaraan, dan kesudahan dari pembicaraan tensi tinggi ini, dia akan melanjutkan ke laporan ke polisi, dan mereka bubar.

Sesudahnya, saya kemudian mengajak ngobrol dengan pak Afrizal, pengelola kantin yang tadi ketempatan untuk pembicaraan tensi tinggi itu.

“pak, apakah ada paguyuban bagi pegawai yang telah purnabhakti?”, tanya saya.

“itulah pak, saya sudah sejak awal pensiun empat tahun lalu, mengajak teman-teman untuk membentuk paguyuban dan menempatkan pak kanwil sebagai pelindungnya.”, jawab pak Afrizal yang kepalanya mirip temen saya yang mengelola situs pribadi .

“tapi kira-kira ada nggak teman-teman bapak yang bisa diajak runding untuk pembentukan paguyuban ini?”, tanya saya lagi.

“ada pak. insya Alloh nanti saya ajak mereka untuk kumpul”, jawab dia.

Saya memandang kejadian sepele tadi dari sudut pandang lain, ternyata memang perlu ada jembatan yang menghubungkan pegawai bea cukai aktif dengan yang telah purnabhakti. Saya jadi ingat dengan cara apik yang dijalankan pak Heru dalam merangkul para pejabat yang telah purnabhakti, san saya melihat sendiri dalam kesempatan capacity building Customs Literacy Forum awal Desember tahun lalu. Saya respek dengan cara beliau memperlakukan senior yang telah selesai menjalankan pengabdiannya di institusi Bea Cukai. diberikannya waktu kepada para senior untuk berbicara di forum formil dengan suasana yang santai. Forum yang niatnya melakukan recording secara tertulis sepak terjang bea cukai. rombongan senior yang terdiri dari Pak Yossy, pak Ahmad Riyadi, dan pak Nasir Adnan, dijamu dengan sangat baik. sebuah perlakuan simpatik dari seorang pemimpin yang terpilih dengan cara yang fair dan legitimate.

Kembali ke Meral, saya punya mimpi membangun keberadaan para pegawai yang telah purnabhakti di Meral khususnya dan di Karimun pada umumnya, sebagai ring satu untuk membentengi dan membangun institusi yang pernah jadi tempat pengabdiannya. Berikutnya di ring dua adalah putra-putri pegawai yang telah purnabhakti, yang mudah-mudahan memiliki rasa kebanggaan bahwa institusi bea cukai  yang menjadi sandaran tempat kedua orangtuanya dulu mengabdi.

Mudah-mudahan mimpi saya tidak berlebihan, mengingat saya sudah melihat sendiri teladan dari pucuk pimpinan bea cukai yang menempatkan seniornya yang telah purnabhakti secara elegan, dan semoga Meral dimana gedung Kanwil DJBC Khusus Kepri ini berdiri, tetap menjadi tempat yang hangat.