ibadah unggulan


Khatib di mesjid belakang kanwil pekanbaru tempat dimana saya sholat jumat dalam suatu kesempatan dinas, istimewa. Beliau menyarankan kepada segenap jamaah untuk mempunyai ibadah unggulan, selain seruan lainnya tentang ajakan taqwa. Sang Khatib menyatakan, ibadah sholat lima waktu, puasa, dan zakat itu sudah semestinya dan wajib dilakukan, karenanya, jangan jadi yang biasa-biasa saja. Musti ada ibadah yang lebih, dan jadi unggulan. Jadilah ia ibadah unggulan, ibadah yang tidak bisa dan belum tentu semua orang melakukannya, meskipun ia sebenarnya mampu. Spesial, biarpun sedikit, tapi terus-menerus.

Tahajud tiap malam, terus-menerus, biarpun cuma dua rokaat, itu contohnya. Atau kalau nggak kuat tahajud, puasa senen kemis, rutin dan istiqomah dijalankan, itu ibadah unggulan. Sodakoh dan infak, biarpun tidak besar, asal selalu dilakukan baik disaat lapang maupun sempit, juga masuk kategori ibadah unggulan. Pendek kata, segala amal baik yang ada tuntunannya biarpun sedikit tapi berkesinambungan dilakukan, bakal jadi ibadah unggulan yang diperhitungkan.

Kegiatan mengadakan ibadah unggulan itu karena kita ingin ada sesuatu yang lebih yang bisa kita lakukan dibanding kebanyakan lainnya. Kita tidak tau, ibadah yang mana yang akan bisa memberatkan timbangan amal baik kita di hari perhitungan kelak.

Benar bahwa semua tergantung kepada Rahman dan Rahim-Nya Alloh semata, tapi mengelola keistimewaan kita dengan membiasakan diri memiliki ibadah unggulan, insya Alloh akan menjadikan kita manusia yang istimewa.

Sebagai penutup, dengan menukil sebuah hadits, “ dari Aisyah ra. ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. masuk ke rumah Aisyah waktu itu ada seorang perempuan, dan beliau bertanya: “Siapakah dia?” Aisyah menjawab: “Ini adalah fulanah yang terkenal shalatnya.” Nabi bersabda: “Wahai fulanah, beramallah sesuai kemampuanmu. Demi Allah. Dia tidak akan pernah jemu menerima amalmu, sehingga kamu sendirilah yang merasa jemu. Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah yaitu yang dikerjakan secara terus menerus.” (HR Bukhari dan Muslim)

Semoga kawan sekalian bersiap diri, memberi nilai lebih ibadah kita dengan melakukan ibadah unggulan yang yang insya Alloh jadi jalan kebaikan kelak.

GO Kandouw


Sebuah bangunan tua dengan arsitektur lama berdiri di sudut jalan masuk kompleks perumahan dinas bea cukai di jalan dwikora Tanjung Balai Karimun. Bangunannya khas dan kokoh dengan banyak jendela yang membuat sirkulasi udaranya lancar. Sedari dulu bangunan ini selalu saja diwarnai khas bea cukai lama, abu-abu, meskipun kini pagarnya telah berganti warna biru-oranye, lazimnya properti bea cukai lainnya di Tanjung Balai Karimun saat ini. Di sudut bangunan itu terpampang tulisan yang catnya sudah mulai terkelupas, Wisma GO Kandouw. Wisma ini disiapkan untuk pegawai lajang dan berdiri bersamaan dengan infrastruktur lain milik bea cukai sekira tahun 1974. Sebuah wisma yang sangat legendaris, utamanya bagi sebagian besar pegawai atau yang sekarang sudah menjadi pejabat yang pernah merasakan penugasan di Tanjung Balai Karimun saat masih lajang.

Buru-20160408-00055

 

Yang menarik adalah pengambilan nama wisma menggunakan nama salah satu kepala kantor wilayah Tanjung Balai Karimun, GO Kandouw, yang bertugas pada periode 1965 sampai dengan 1973. Beliau adalah salah satu dari sekian banyak pelaut ulung Bea dan Cukai yang asli dari Menado, tepatnya kelahiran Amurang, sebuah kota kecamatan di Minahasa, pada 23 April 1924. Beberapa purnabhakti yang pernah mengalami masa kepemimpinannya, mengenalnya sebagai harimau selat malaka, karena kegigihannya dalam memberantas penyelundupan. Catatan lainnya tentang beliau adalah keterlibatannya sebagai pengurus Persatuan Sepakbola Karimun, di periode yang sama dengan masa kepemimpinannya di Tanjung Balai Karimun.
Selebihnya, tidak banyak catatan lain tentang sepakterjang beliau selain foto yang terpajang.
Kini, wisma GO Kandouw akan menjalani rehabilitasi dengan biaya DIPA tahun 2016. Keutuhan bentuk aslinya akan tetap dipertahankan, dan dilakukan penambahan bangunan lagi di belakangnya, untuk menambah daya tampung anak lajang dan bujang lokal. Bangunan lama tidak dirubah, hanya di-makeover, ditambah bangunan belakang letter L dengan jumlah kamar yang pasti bertambah. Pertimbangan akan hal itu salah satunya tentu saja adalah sentimental value yang melekat, selain nilai sejarah bangunan awal keberadaan institusi bea dan cukai di Tanjung Balai Karimun. Demikian juga dengan penamaannya, wisma ini akan tetap bernama GO Kandouw. Semoga penggunaan nama salah satu pendahulu bea cukai di Tanjung Balai Karimun ini bisa menjaga ingatan bagi generasi penerus dan merintis penamaan selanjutnya gedung-gedung dan bangunan yang banyak berdiri megah di Tanjung Balai Karimun dengan nama-nama harum pendahulu lainnya.

image

semir

Tags

, , , , , , ,


image

sepatu butut

Foto di atas yang jelas bukan dari jenis sepatu dines. Tapi, memenuhi syarat dan ketentuan untuk digunakan sebagai sepatu dines. Nggak penting merk, yang penting warnanya hitam, bukan jenis selop karena mesti sepatu, dan pake tali  bukan resliting. Yang penting lagi, mesti kinclong tandanya bersih dan terawat.

Nah, ngomongin soal kinclong, sepatu butut saya itu pernah dirawat dengan sangat baik selama penugasan di kantor Tanjung Priok. Yup, meskipun sepatu saya ini menempuh rute panjang dari halte BKN-Cawang sampai halte Enggano-Tanjung Priok, siang hari sesampainya di kantor sudah ada CS yang ngelus-ngelus dan nggosok-nggosok. Alhasil, sore hari saat saya mesti pulang kerja, sepatu saya ini sudah fresh dan siap menempuh kembali rute perjalanan Tanjung Priok – Cawang.

Pak Ujang namanya. “Kantornya” di pojok sebelah kiri pintu menuju mesjid di lantai 4. Tool-nya ya jelas cukup sikat, kain kering, dan Kiwi. Jam kerjanya paling padat adalah Senin sampai Jumat pada saat jam sholat. Tarifnya, seikhlasnya, karena ini kerja sampingannya sebagai CS yang sapu bersih sampah di gedung KPU.

“tugas ekstra”-nya pak Ujang yang menerima nyemir sepatu tadi, juga dibarengi dengan kewajiban dia njagain sepatu-sepatu itu aman dibawah ampuannya, dan menata rapi  sendal-sendal jamaah yang masuk mesjid. Tentu saja bukan cuma sepatu milik pegawai di gedung KPU ini saja, tapi termasuk sepatu-sepatunya tamu dan pengguna jasa yang sholat di mesjid di lantai 4. Tugas ini menjadikan tidak adanya komplain kehilangan sepatu yang biasanya nempel di stigma mesjid umumnya. Yang ada , dan sepertinya jarang kejadian, adalah ketuker atau kehilangan sendal milik pegawai.

Kerjaan ekstra tadi membuat pak Ujang selalu jadi makmum di kloter sholat selanjutnya, setelah memastikan sisa sepatu dan sendal jamaah yang ada aman adanya. Bergegas ia akan membersihkan diri, mengambil wudhu dan memakai sarung untuk sholat fardhu.

Kini sepeninggalan sepatu saya menginjakkan tapaknya dari gedung KPU BC Tanjung Priok, belum ada lagi yang ngelus-ngelus setiap hari kerja. Tidak ada lagi yang memastikan saat ia dipakai di jam pulang kerja dalam kondisi yang fresh setelah disikat dan dilapisi Kiwi. Walhasil, sepatu ini seperti meminta saya melakukan apa yang sudah dilakukan pak Ujang selama dua tahun di KPU Priok, “ayo pak, rajin-rajin semir aku biar sampean keliatan greng makenya”.

 

in the heart of the sea

Tags

, , , , , , , , , ,


IMG-20160317-00042

illustrasi : MV Oceanna 15 saat akan merapat ke pelabuhan Tanjung Balai Karimun

Piye perasaanmu jal, naik ferry Oceanna dari Harbour Bay ke Tanjung Balai Karimun sore hari , di tengah perjalanan disajikan pemutaran film In The Heart of The Sea, tentang kapten George Pollard dan Owen Chase yang pekerjaannya memburu ikan paus. Menonton film ini di tengah saya menjalani perjalanan laut yang akan menempuh waktu satu setengah jam, dengan ombak yang lumayan tinggi karena hembusan angin utara yang kencang, seperti tengah menikmati wahana film 3 D. Asli.
Saat film memperlihatkan scene kapal layarnya digoyang gelombang lautan lepas, saya juga merasakan goyangan yang sama. Untungnya jendela ferri ini cukup bening, jadi masih terlihat gedung-gedung tinggi di sisi kanan, gedung di Singapura, atau lalu lalang kapal lain, atau minimal masih terlihat daratan di kejauhan.
Memang di bulan ini adalah saat berhembus kencangnya angin utara. Dan sekitaran pertengahan februari ini adalah puncaknya, saat perayaan Cap Go Meh, dan angin seperti tidak henti-hentinya bertiup kencang. Kata sebagian orang, fenomena puncak angin utara ini ditandai awal penanggalan China, tanggal 8 februari kemarin, dimana cuaca di wilayah Bintan, Batam dan Karimun, terasa beratnya menjalani perjalanan laut.
Hebatnya, sebagian besar penumpang cuek saja dengan pemutaran film itu. Bisa jadi karena sudah terbiasa, atau nrimo, mau gimana lagi, adanya moda transportasi ke Tanjung Balai Karimun ini ya cuma kapal penumpang ferri ini. Dan jalur yang mesti ditempuh ya itu-itu juga. Saya pengen ngomong ke crew kapal minta ganti filmnya. Lha ini jelas bukan wahana pemutaran film 3D kayak di Ancol itu. Ini dunia nyata. Tapi ngelihat penumpang lain cuek, ya sudahlah.
Dan rute inilah yang rutin dijalani oleh saya dan teman-teman yang mengalami penugasan di Tanjung Balai Karimun. Rute berangkat yang musti nembus laut selama satu setengah jam, bahkan kadang hampir dua jam. Beberapa rekan lagi malah musti menjalani perjalanan yang lebih ekstrim ke arah Tarempa selama dua belas jam dan Dabo Singkep selama empat sampai lima jam. Bisa  mbayangin dengan durasi selama itu berayun menembus ombak menuju tempat kerja demi merah putih, musti modal tekad yang luar biasa. Dan yang pasti, rekan-rekan yang tetap harus mengarungi lautan dalam kondisi ekstrem ini dalam rangka patroli laut. Tidak ada sabtu minggu dan tanggal merah dalam rangka pengawasan penegakan hukum kepabeanan dengan patroli laut.

Mudah-mudahan, di kapal patroli yang mereka pakai, pas di tengah laut dan ditengah terjangan ombak, tidak diputerin film In The Heart of The Sea seperti di ferri yang saya naiki. Nggak pas. Walaupun endingnya Kapten George Pollard dan Owen Chase selamat dan bisa bertemu keluarganya.

family gathering ala PSO


31 Desember 2015, sore itu bertolak dari dermaga milik pengelola kawasan berikat di sekupang, Batam, saya dan keluarga diajak untuk ikut naik ke kapal patroli seri terbaru milik PSO Batam. saya pikir ajakan teman seangkatan saya ini begitu istimewa karena hanya kami sekeluarga diberikan kesempatan mencicipi kapal bontot milik mereka. ternyata tidak. bersama kami ikut juga keluarga dari beberapa pegawai yang bisa ikut dari PSO Batam.

saya tidak begitu hafal mereka dengan posisi-posisi suami mereka di kapal atau di struktur PSO Batam. yang jelas, di kapal yang saya on board bersama keluarga disitu, ramai istri dan anak-anak yang bahkan ada yang berusia masih di sekitar satu tahun lebih. riuh rendah mereka turun naik dari dek bawah sampai anjungan kemudi. sayang cuaca kurang mendukung karena gerimis dan kesempatan untuk berdiri di tepi badan kapal di dek paling atas jadi terhalang. keriuhan anak-anak pegawai anak buah kapal patroli ini hingga kapal mulai bergerak dari tempat mereka sandar menuju belakang pulau mariam atau meriam, sambu menuju batas perairan internasional.
saya kebetulan duduk di anjungan kemudi dan keluarlah pertanyaan polos seorang anak juru mudi : ” ayah, ini kapal ayah kan?”. ayahnya segan menjawab, hingga memaksa sang anak bertanya lagi, ” bener kan ayah, ini kapal ayah?”. saya tersenyum mendengarnya dan menganggap bahwa ini adalah bukti sebagai rasa ikut memiliki dan bangga terhadap properti milik direktorat ini. tentu saja buat sang anak adalah kebanggaan karena ayahnyalah yang membawa dan memegang kemudi kapal.
keriuhan itu perlahan berkurang saat kapal memutar arah kembali ke pangkalan, dan alunan gelombang akibat angin utara membuat kapal bergoyang ke segala arah. perlahan, satu persatu anak -anak kecil itu ada yang mulai mabuk laut, disusul kemudian istri-istri anak buah kapal, termasuk istri saya. mereka bergantian keluar masuk kamar mandi atau menghadapkan mulut ke tong sampah yang ada untuk mengeluarkan muntahnya. beberapa masih kuat dan tahan hingga tidak mengalami mabuk laut. untungnya perjalanan kembali tidak dilakukan dalam waktu yang lama, dan kapal memutar kembali ke pangkalan dengan kecepatan lebih tinggi ke arah dermaga tempat sandar yang masih berstatus numpang.
saya masih belum ngeh dengan maksud teman saya mengadakan “touring” semacam ini dengan membawa keluarga. saya tahu persis kalau rute yang akan dilalui meskipun melalui jalur teraman pun akan terkena dampak gelombang angin utara yang beberapa hari ini sedang kencang-kencangnya.
ternyata rasa penasaran saya terjawab saat ada beberapa istri anak buah kapal yang nyeletuk dan terdengar : ” jadi begini susahnya suami kita bekerja mencari nafkah ya”
saya terus, deg, ini toh maksud temen saya mengadakan kegiatan ini. message-nya nggak perlu berpanjang-panjang kata, cukup : “ayo ikut ngrasain susahnya suamimu kerja “, dan kena.
saya menghitung, kira-kira dengan rute pendek , seperti sea trial dan tidak menghabiskan dana lebih dari 5 juta. daripada mengundang motivator penggugah kesadaran mendukung sepenuhnya kerja suami yang bekerja, nilai segitu menurut saya jelas worthed.
saya rasa inilah family gathering ala PSO.

dangkung

Tags

, , , , , , , , , ,


imageimage

dangkung1/dang·kung/ n penyakit kusta yang telah parah (terutama yang telah membusukkan kulit); KBBI

Itu hasil googling saya dengan kata pencarian “dangkung”, dalam rangka mencari arti kata itu. Cukup mengagetkan. Arti lainnya dengan kata yang sama, diterjemahkan dengan arti yang tidak kalah negatifnya. Saya rasa inilah yang membuat pergerakan jumlah kosa kata bahasa Indonesia bergerak lambat sebagai sebuah bahasa besar dengan ribuan bahasa daerah pendukung yang tersebar di seluruh penjuru nusantara.

Saya mencari arti kata “dangkung” bukannya tanpa sebab. Ini karena kata ini masih asing di telinga, saat saya bersama keluarga menyaksikan sebuah tanggapan yang disajikan dalam sebuah acara ngunduh mantu saudara kami di daerah Telok Sasah, sebuah kelurahan di wilayah Tanjung Uban, Bintan. Tanggapan berupa live musik yang disajikan oleh sekelompok orang dengan pakaian sederhana, bahkan sangat sederhana. Beberapa pemain alat musiknya memang masih muda, tapi tidak demikian dengan penyanyinya, ia sudah menuju senja. Suaranya pun tidak bisa dibilang merdu. Tapi cengkok khas melayunya, pas ia bawakan.
Dengan mengambil tempat di belakang barisan para penyambut tamu, grup musik ini memainkan lagu-lagu melayu dari negeri jiran. Seingat saya ada satu lagu populer yang pernah akrab di telinga dengan judul, Nyonya Singapura. Aransemen musiknya yang luar biasa sederhana dan pembawaan penyanyinya yang semangat, membuat suasana hajat ngunduh mantu dari keluarga laki-laki dengan adat melayu ini jadi hidup. Semua tamu undangan benar-benar terhibur. Sebagian malah senyum-senyum melihat tampilan energik sang penyanyi.
Saya bertanya ke istri, tentang nama kesenian ini, dan namanya adalah Dangkung. Semestinya dalam bentuk aslinya, sebagaimana disampaikan beberapa orang yang saya tanya, penampilan grup musik Dangkung ini diiringi dengan joget plus sawerannya. Katanya di beberapa hajatan nikah sebelumnya juga pernah ada, tapi diberikan kesempatan perform di penghujung acara, dan disajikan khas buat ibu-ibu penjaga dapur dan pencuci piring, alias konco wingking.
Praktis selama menikmati santapan yang disajikan oleh tuan rumah ada empat lagu yang bisa saya dengar, dan kami puas. Saya kemudian membandingkan kurang lebihnya kesenian daerah semacam ini dengan sebagian besar kesenian daerah lainnya yang dihidupkan dan dilestarikan oleh orang-orang tua, seperti Tanjidor di Betawi. Kesenian daerah semacam ini dianggap oldis dan kurang diterima. Tuan rumah biasanya lebih senang menyajikan organ tunggal atau band yang lebih modern.

Dangkung, sebuah kegiatan bermusik khas melayu, dengan tampilan seadanya, mestinya tidak disajikan untuk kalangan konco wingking. Ia layak sebagai penampil utama dalam sebuah acara resmi guna menghidupkan dan melestarikan keberadaannya.

meral


Meral adalah nama yang tidak asing bagi sebagian besar pegawai bea cukai. terlebih bagi yang pernah menjalani penempatan di Karimun. ia adalah nama kecamatan, lokasi dimana bangunan Kanwil DJBC Khusus Kepulauan Riau berdiri tegak sejak tahun 1974. jaraknya sekira 5 kilometer dari pelabuhan ferry Tanjung Balai Karimun, dengan menyusuri sepanjang jalan Ahmad Yani.

Meral, letaknya di cekungan yang relatif aman dari ancaman gelombang laut karena terlindung pulau merak, pulau yang sebagian wilayahnya dimiliki oleh Bea Cukai dan dimanfaatkan untuk pembangunan tanki untuk penimbunan bahan bakar minyak dan air bersih untuk keperluan supply kapal patroli.

SAMSUNG

prasasti peletakan batu pertama kantor Bea Cukai di Meral

Berdiri sejak tahun 1974, komplek bangunan Kanwil DJBC Khusus Kepulauan Riau, dengan ratusan pegawai yang pernah mengabdikan dirinya dalam institusi ini, menjadikan kantor ini tidak hanya  dikelilingi oleh rumah dinas bagi pegawai Bea Cukai yang masih aktif, juga dikelilingi oleh purnabhakti Bea Cukai yang sudah terlanjur mengambil tempat tinggal di daerah Meral.Walaupun dominasi pendatang keturunan Tiongkok lebih mendominasi di sepanjang sisi jalannya. Walhasil, jangan heran kalau suatu ketika pegawai bersinggungan kendaraan atau apapun yang menghasilkan interaksi yang kurang mengenakkan, ternyata ujung-ujungnya berurusan dengan keluarga Bea Cukai juga. Bisa anaknya, cucunya, menantunya, adiknya, kakaknya, atau iparnya.

Seperti yang terjadi hari ini, saat kami melaksanakan kegiatan pembinaan jasmani, rombongan lari kami bersinggungan dengan seorang pemuda. ribut sedikit, bersitegang, hingga akhirnya nglurug kantor. Saya iseng tanya ke salah satu warga yang ikut nglurug itu.

“njenengan siapanya anak yang ribut itu?”, tanya saya.

“saya om-nya dia pak. saya anaknya penisunan bea cukai juga”, jawab dia sambil menyebut salah satu nama pegawai yang sudah purnabhakti.

‘hmm.. lha dia yang ribut ngadu itu siapa?”, tanya saya lebih lanjut.

“dia juga anaknya pensiunan bea cukai pak. baru saja orang tuanya meninggal, makanya mungkin dia agak sensitif”, jawab pemuda itu lagi. saya nggak kepikiran namanya dia, saking tegangnya suasana.

Kami sama-sama melihat pembicaraan bertensi tinggi yang dilakukan oleh temen saya dengan pemuda yang ribut itu dan tetuanya dia.

Terus saya bilang ke warga yang saya ajak bicara, ” lha kalau urusannya masih keluarga bea cukai, ngapain juga kita sampai ribut? udah kita selesaikan kekeluargaan saja”.

“ya terserah dia pak, saya cuma nemeni saja.”, jawabnya.

Saya tidak berani mengambil kendali pembicaraan, dan kesudahan dari pembicaraan tensi tinggi ini, dia akan melanjutkan ke laporan ke polisi, dan mereka bubar.

Sesudahnya, saya kemudian mengajak ngobrol dengan pak Afrizal, pengelola kantin yang tadi ketempatan untuk pembicaraan tensi tinggi itu.

“pak, apakah ada paguyuban bagi pegawai yang telah purnabhakti?”, tanya saya.

“itulah pak, saya sudah sejak awal pensiun empat tahun lalu, mengajak teman-teman untuk membentuk paguyuban dan menempatkan pak kanwil sebagai pelindungnya.”, jawab pak Afrizal yang kepalanya mirip temen saya yang mengelola situs pribadi .

“tapi kira-kira ada nggak teman-teman bapak yang bisa diajak runding untuk pembentukan paguyuban ini?”, tanya saya lagi.

“ada pak. insya Alloh nanti saya ajak mereka untuk kumpul”, jawab dia.

Saya memandang kejadian sepele tadi dari sudut pandang lain, ternyata memang perlu ada jembatan yang menghubungkan pegawai bea cukai aktif dengan yang telah purnabhakti. Saya jadi ingat dengan cara apik yang dijalankan pak Heru dalam merangkul para pejabat yang telah purnabhakti, san saya melihat sendiri dalam kesempatan capacity building Customs Literacy Forum awal Desember tahun lalu. Saya respek dengan cara beliau memperlakukan senior yang telah selesai menjalankan pengabdiannya di institusi Bea Cukai. diberikannya waktu kepada para senior untuk berbicara di forum formil dengan suasana yang santai. Forum yang niatnya melakukan recording secara tertulis sepak terjang bea cukai. rombongan senior yang terdiri dari Pak Yossy, pak Ahmad Riyadi, dan pak Nasir Adnan, dijamu dengan sangat baik. sebuah perlakuan simpatik dari seorang pemimpin yang terpilih dengan cara yang fair dan legitimate.

Kembali ke Meral, saya punya mimpi membangun keberadaan para pegawai yang telah purnabhakti di Meral khususnya dan di Karimun pada umumnya, sebagai ring satu untuk membentengi dan membangun institusi yang pernah jadi tempat pengabdiannya. Berikutnya di ring dua adalah putra-putri pegawai yang telah purnabhakti, yang mudah-mudahan memiliki rasa kebanggaan bahwa institusi bea cukai  yang menjadi sandaran tempat kedua orangtuanya dulu mengabdi.

Mudah-mudahan mimpi saya tidak berlebihan, mengingat saya sudah melihat sendiri teladan dari pucuk pimpinan bea cukai yang menempatkan seniornya yang telah purnabhakti secara elegan, dan semoga Meral dimana gedung Kanwil DJBC Khusus Kepri ini berdiri, tetap menjadi tempat yang hangat.

PSK


Sengaja saya tidak menuliskan kepanjangannya di tittle, biar “tittle catching” . Atau meniru triknya media, biar bikin heboh dulu, yang penasaran trus lanjut baca.

PSK, sebuah akronim yang pada zamannya, sama sekali tidak berkonotasi negatif. PSK yang pada zamannya, di era gemilangnya, dikenal di seantero Riau dan kepulauannya adalah kepanjangan dari Persatuan Sepakbola Karimun, perkumpulan yang terdiri dari pemain bola yang tinggal di Kecamatan Karimun dimulai di era tahun 60-an.

Yang menarik, mayoritas pemain bola yang ada di PSK itu adalah pegawai bea dan cukai yang tergabung dalam PORBC. Sebagian lainnya diisi oleh pegawai dari PN Timah. Beberapa prestasi yang berhasil ditorehkan oleh PORBC dalam berbagai kegiatan di wilayah kecil, Tanjung Balai Karimun, yang saat itu masih berstatus kecamatan, tertulis dalam beberapa piagam penghargaan yang masih tersimpan rapi. Bahkan dalam rangka mempertahankan tradisi juara itu, pendahulu-pendahulu Bea Cukai sengaja merekrut pemuda-pemuda yang memiliki talenta-talenta unggul di bidang sepakbola, bahkan cabang olah raga lainnya. Tentu saja saat itu metode rekrutmen pegawai masih mudah, dan hanya mengandalkan “assessment” personal dan kemampuan yang terlihat, jago olahraga.

Saya merasa tertarik untuk mencari siapa gerangan pegawai yang dulu direkrut untuk mengisi formasi di bidang sepakbola, tergabung di PORBC, dan kemudian ditarik memperkuat PSK ke kancah sepakbola Divisi III. Dan saya beruntung bertemu dengan salah satunya yang sekitar tiga tahun lagi akan memasuki masa purnabhakti. Namanya Zulkifli, seorang pelaksana di KPPBC Tanjung Balai Karimun, dan ini penampakannya :

IMG-20160121-WA0018

Perawakan yang tidak terlalu tinggi, badan cenderung gelap, dengan lidah yang agak cadel, khas melayu. Ya, pak Zulkifli putra asli Karimun. Semenjak ia diterima sebagai pegawai Bea Cukai, memperkuat PORBC, bergabung dengan PSK, ia hanya berkutat di pulau kecil ini, Karimun.

Pembicaraan tentang PSK yang saya mulai dengan beliau langsung menghilangkan jarak kami. Dengan antusiasnya beliau bercerita tentang masa puncak kejayaan PSK dibawah binaan Herias Hutabarat yang saat itu menjabat Kepala Kantor Bea Cukai Tanjung Balai Karimun, PSK berhasil masuk ke level Divisi yang lebih tinggi.

Beliau kemudian berkenan meminjamkan saya sebuah buku yang dicetak pada saat Reuni 40 tahun PSK, sebuah buku yang menurut saya punya nilai sejarah. Di buku itu banyak terpampang nama-nama pegawai bea cukai , sebagian dari yang ada saya kenal karena jadi pejabat, sebagian lainnya tidak saya kenal. Panjang juga narasi sejarah tentang keberadaan PSK yang seolah mensiratkan bahwa PSK adalah Bea Cukai, karena mayoritas pemainnya adalah pegawai Bea Cukai. Reuni 40 tahun PSK saat itu, seperti reuninya orang Bea Cukai dengan mengambil tempat di Karimun.

SAMSUNG

lapangan sepakbola Teluk Air

Pagi harinya, saya menyambangi tempat latihan yang disampaikan oleh pak Zulkifli. Lapangan Sepakbola Teluk Air. Letaknya ada sekira tigaratus meter dari komplek rumah dinas Teluk Air tempat saya tinggal. Berada di Jalan Pendidikan, Kecamatan Teluk Air, berseberangan dengan radar pantai milik Pangkalan Sarana Operasi Bea Cukai Tanjung Balai Karimun yang sudah tidak berfungsi. Lewat dinding di belakang gawang, saya masuk ke lapangan dan mengabadikan kondisi terkini lapangan sepakbola Teluk Air. Lapangan dimana pada jamannya PSK mengasah tajinya untuk bisa beradu dengan kesebelasan lain di Riau daratan. Saya mencoba merasakan bagaimana gegap gempitanya pertandingan di sebuah lapangan bola level kecamatan. Saya bisa merasakan bahwa saat itu, hiburan yang ada di kecamatan Karimun adalah hiburan menonton bola. Dan dari foto-foto reuni perak PSK yang pak Zulkifli bawa menunjukkan benar adanya, bangku penonton penuh terisi.

Saat ini PSK, telah berganti akronim menjadi PS Karimun dan dibawah pengelolaan Pemkab Karimun lewat KONI-nya. Pegawai Bea Cukai yang dulu pernah berkiprah di PSK, tidak lagi aktif didalamnya. Saat ini beberapa mereka hanya tersisa kenangan dan cerita, bahwa mereka pernah sama-sama berpeluh bergabung dalam sebuah kesebelasan kebanggaan, PSK – Persatuan Sepakbola Karimun.

retak seribu

Tags

, , , , , , ,


sudah pernah jalan di Tanjung Uban di Pulau Bintan? kalau belum, cobalah sesekali jalan dan menikmati slow motion-nya kehidupan seperti di film Cars saat Lightning McQueen tersesat ke daerah yang sudah tidak lagi disinggahi kendaraan. anda akan merasakan betapa hiruk pikuk yang selama ini dialami di Jakarta, seperti terlepas begitu saja. ini menurut versi saya, dan satu-satunya alasan mengatakan demikian adalah karena home base saya ada di Bintan, tepatnya tanjung uban. kalau anda pengen tahu bentuk geografis pulau Bintan, lihatlah kacang mente, maka tanjung uban itu lokasinya ada di bagian atas, sementara tanjung pinang ada di bagian bawah lengkap dengan pulau penyengat di seberangnya.

Tanjung Uban, kodratnya adalah kehidupan melayu yang mendominasi. karenanya jangan ditanya jumlah kedai kopi yang ada, dan hal yang menarik dari sebagian besar kedai kopi yang ada adalah cangkir khas made in tiongkok seperti ini :

SAMSUNG

Cangkir kopi

cangkir itu tentu saja muat kopinya tidak banyak, karena itu adalah porsi yang pas untuk diminum. karena bisa saja seseorang bertemu dengan beberapa temen dalam sehari di kedai kopi yang berbeda. dan jadi nggak asik kalau memenuhi undangan menghabiskan waktu di kedai kopi itu tanpa ngopi. asiknya, budaya minum kopi ini mengadopsi minum kopi pancung, kopi yang disajikan separuh dari porsi normalnya.

saya ngga usah membedakan penamaan lainnya untuk kopi. karena selain nama kopi o, sependengaran saya belum pernah mendengar penyajian kopi obeng, kopi menggunakan es. istilah obeng melekat hanya di sajian minum teh saja, ada teh o atau teh obeng.

di Tanjung Uban, hanya ada satu kedai kopi yang melalui tahapan giling dulu sebelum diseduh, namanya kedai kopi seloka. tempatnya pas di arah keluar pelabuhan penumpang Tanjung Uban , sebelah kanan. tanya saja, kedai kopi Seloka, orang setempat sudah pasti tahu. tempatnya kurang asik sebenarnya apalagi untuk ukuran anak muda, karenanya kedai kopi ini hanya disinggahi orang-orang tua yang sudah mulai melekatkan pantanya di kursi kedai kopi jam setengah enam pagi.

satu lagi kawan, sesekali pesanlah kopi dengan meminta untuk disajikan dengan cangkir retak seribu. permintaan khusus yang artinya sang peminum kopi meminta kopinya dituangkan dalam cangkir yang sudah “berumur”. tau kan kalau orang sudah berumur? ia akan terlihat guratan ketuaan. demikian juga dengan cangkir retak seribu, dimana sejatinya ia sama sekali tidak retak, tapi sudah dipenuhi guratan-garis seperti mau retak. itu terjadi sangking tua-nya cangkir ini mengantarkan kopi panas bagi peminumnya. cobalah sesekali merasakan sensasinya, walaupun saya yakin buat kawan yang sayang sekali meluangkan waktu berlama-lama duduk di kedai kopi, rasanya tidak jauh beda. cuma biar kawan ikut membayangkan, sudah berapa banyak bibir yang pernah menempel di cangkir retak seribu itu.

fenomena ayah dan anak


 

pilkada serentak 9 desember lalu di provinsi kepri, menghasilkan keputusan sementara keunggulan pasangan Sanur terhadap pasangan Sah. beberapa pihak, terhenyak melihat hasil akhir pungutan suara rekap yang dihimpun oleh KPU Provinsi Kepri. artinya beberapa pihak tersebut berekspektasi atau memprediksi bahwa semestinya hasilnya tidak demikian. saya tidak bisa memberikan opini apapun kenapa hasilnya menjadi demikian.
yang ada dalam pandangan saya adalah, karakter orang indonesia sepertinya tidak hilang dari masyarakat Kepulauan Riau yang melakukan pemilihan kemarin. yang saya maksud adalah tentang cara pandang hubungan orang tua dan anak.
figur Sani, adalah figur yang kuat sekali sebagai seorang ayah. semestinya juga, beliau lebih tepat dipanggil sebagai kakek. figur yang menurut saya semestinya tidak usah lagi bertanding dalam percaturan politik dan perebutan posisi pemerintahan.
tapi saat kenyataannya beliau diusung kembali menjadi bakal calon gubernur provinsi kepulauan riau untuk masa periode 2016-2021, membuat siapapun rivalnya, menjadi lawan yang seolah-olah menyiratkan “anak muda melawan orang tua”, atau “anak berlaga melawan ayah”.
saya sangat yakin bahwa hal semacam ini sudah ditangkap kemungkinan berkembangnya opini semacam ini di kalangan masyarakat. pas-nya, figur seorang ayah yang melekat pada Sani, dilabelkan dengan sebuah jargon “sani ayah kita”. sebuah pilihan kalimat yang simpel tapi memberi pesan menguatkan, “ini lho ayah kalian..” walaupun massive-nya message ini saya lihat baru di minggu-minggu terakhir menjelang 9 desember, hari h pilkada. hasilnya ternyata efektif untuk membuat masyarakat menjatuhkan pilihan pada Sani, setidaknya ini berdasar hasil sementara KPU Provinsi Kepri sebelum diuji di sidang MK nanti. tentu saja hitung-hitungan efektif akan hal semacam ini perlu penelitian yang lebih mendalam.
sekali lagi ini pengamatan saya yang sempit akan wawasan politik. message saya sederhana, bahwa ternyata semassive apapun kampanye yang dilakukan oleh pasangan calon, dari sekian banyak faktor pengangkat perolehan suara, layak diperhitungkan suasana psikologis warga masyarakat dengan mempertimbangan hubungan ayah dan anak. jangan sampai terbentuk image, sang anak melawan sang ayah.