Sudah lama saya sering melihat, pas berada di ketinggian (pas naik pesawat) dalam perjalanan pulang pergi Surabaya – Batam, keberadaan cluster-cluster asli di Jawa. Ya, ini menurut saya, adalah cluster asli yang terbentuk bukan oleh developer, tapi alami semata bisa jadi karena satu rumpun paseduluran. Kita bisa liat keberadaannya, klaster ini ada di jeda jarak setiap satu hingga dua kilo hamparan sawah. Yang khas, di setiap klaster ini, ada senuah masjid besar yang berdiri. Ia seolah menjadi center dari klaster ini, meskipun posisinya tidak selalu di tengah. Khas dengan kubah besarnya yang terlihat megah terlihat dikelilingi rumah-rumah atap genteng di sekelilingnya. Dan saya yakin, jamaahnya kalaupun seluruh penghuni klaster ini datang semua sholat berjamaah, tidak akan memenuhi separuhnya. Kesempatan melihat dan mendatangi sendiri masjid di tengah klaster ini kesampaian saat saya mengunjungi Masjid Raudhatul Jannah di Desa Dahanrejo. Lokasinya pas seberang Kantor Desa Dahanrejo, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik. Masjid yang megah yang menurut perkiraan saya bisa menampung seribu jamaah, dengan halaman parkir yang cukup luas. Saya mengunjunginya pas sholat zuhr, dan dihadiri tidak lebih dari 15 jamaah. Kehadiran jamaah masjid di tengah sawah ni yang juga menarik adalah biasanya tidak akan mengumandangkan azan di tepat waktu sholat sebagaimana tertuang dalam aplikasi Salaam-nya Samsung. Dan ini lumrah terjadi di sebagian besar wilayah Jawa lainnya. Biasanya akan mundur ngepasin jadwal istirahatnya para pekerja sawah, pekerja kebon, atau pekerja tambak. Mundurnya kumandang azan ini mengakomodir mereka, para jamaah untuk mentas dulu dari sawahnya, bersih-bersih, dan baru berangkat ke masjid. Saya tetep senang melihat keluar dari jendela pesawat dalam perjalanan pulang – pergi Surabaya – Batam, melihat klaster-klaster asli yang tetap terjaga ada masjid sebagai senternya.