Rasanya semenjak hari itu, saya tidak akan memandang rendah kerjaan tukang poto. Kerjaan yang selalu ada akunnya sendiri dalam proposal kegiatan, yang budgetnya kadang pengennya selalu dikurang-kurangi. Kerjaan yang tipikal pekerjanya nggak rapi, punya previlege buat slonang-slonong dalam even-even kegiatan yang sangat sakral sekalipun demi mendapatkan angle yang pas untuk potonya.

Tau kenapa? ini karena susahnya saya menemukan foto album kegiatan sekian tahun yang lalu yang pernah ada di kantor saya, dalam rangka mereview sepak terjang pendahulu-pendahulu bea cukai di Tanjung Balai Karimun. Jelalatan kesana kemari, termasuk nyambangi gudang, dan dipati kenyataan jawaban : “nggak tau kemana kemarin diberesin waktu perbaikan gedung”. Dan begitu menemukan setumpuk album di ruang tunggu widyaiswara, yang merupakan bagian dari ruang kelas Pangkalan Sarana Operasi Bea dan Cukai Tanjung Balai Karimun, seperti penggemar akik yang menemukan akik yang dicarinya di Rawa Bening.

Album foto terlama yang ada adalah saat upacara serah terima jabatan Kepala Kantor Wilayah Tanjung Balai Karimun dari Bapak HK Irooth ke Bapak Drs. Bambang Soebadhi.

Coba anda perhatikan foto pengambilan sumpah jabatan Bapak Drs. Bambang Soebadhi ini. Sumpah jabatan sebagai rangkaian kegiatan serah terima jabatan Kepala Kantor Wilayah Tanjung Balai Karimun dari Bapak HK Irooth pada tanggal 24 April 1984.
SAMSUNG

pengambilan sumpah jabatan Bapak Drs. Bambang Soebadhi

Yang dilanjutkan dengan kegiatan mengantar Bapak HK Irooth dengan upacara pramuka dalam rangka meninggalkan Tanjung Balai Karimun dengan kapal patroli bea dan cukai :

SAMSUNG

upacara pramuka menarik mobil yang dinaiki Bapak HK Irooth dan ibu tanggal 27 April 1984

Dua foto diatas membuktikan keberlangsungan kegiatan pada tanggal 24 dan 27 April 1984 bisa disaksikan saat ini berkat jasa dua orang tukang poto. Satu orang berbaju putih-putih yang slonang-slonong pada saat pengambilan sumpah jabatan dan satu orangberseragam bea cukai yang mengambil posisi di tempat yang semestinya kosong. Dua orang ini dimafhumi keberadaannya selama mereka dengan sigap menenteng kamera dan jeprat-jepret mengabadikan moment yang hingga saat ini bisa kita lihat.

Sekali lagi, saya tidak akan meremehkan lagi peran tukang poto, baik dalam acara besar maupun dalam acara sunatan sekalipun. Peran mereka begitu penting sebagai bagian dari kegiatan dokumenter kegiatan masa lalu. Dan buat pemerhati sosial media, bisa untuk menguatkan argumen, karena katanya : no picture, hoax.

note : tribute to Kang Ardani, tukang poto DJBC masa kini.

Advertisements