Tags

, , , , , , , , , , ,

Saya ingat betul istilah “jarkoni”, gelem ngajar ora gelem nglakoni. Sebuah istilah yang biasanya dilabelkan kepada orang yang hanya bisa memberi ajaran padahal dia sendiri belum tentu bisa atau malah belum nglakoni. Biasanya, orang yang sudah diberi label itu, biarpun kualitas wejangannya bagus, tidak akan bisa memberi dampak yang signifikan kepada orang yang diberi wejangan. Mungkin omongan atau wejangannya atau petuahnya akan tetap didengar, tapi masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Bisa saja niat yang mendengarkan mau melakukan petuah atau ajaran baik yang disampaikannya, tapi melihat kepada siapa yang menyampaikannya, berubah balik arah.
Memberi nasihat, adalah sebuah kewajiban. Seingat saya, di Al-ashr sudah tertuang demikian adanya. “demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali ia yang beriman dan beramal soleh, dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati sepaya menetapi kesabaran” shodaqollohul’adziim..
Kembali ke person yang memberi wejangan atau nasehat. Bahwasanya semestinyalah pendengar wejangan tidak usah melirik siapa pemberi wejangan, cukup perhatikan content-nya. Sepanjang content-nya on the track, take it. Kalau ternyata sebaliknya, leave it. Sesederhana itukah?
Ternyata tidak. Pakem jarkoni masih menjadi pakem utama, dan inilah sebaik-baik pemberi wejangan atau nasehat. Sampaikanlah oleh kita apa yang sudah kita ketahui ilmunya, apa yang sudah kita alami, at least atas apa yang sudah kita telaah dari experience orang lain.
Saya masih teringat cerita salah satu anggota saya, pak Zul, waktu tugas di Tanjungpinang. Pak Zul bercerita waktu itu ia sedang bersantai sepulang kerja di tenda payung depan rumahnya sambil menghisap rokok dan bertelanjang dada, kegerahan. Maklum, postur anggota saya ini masuk kategori overweight. Tidak lama ia duduk, terlantun azan maghrib dari musholla dekat rumahnya. Segera setelah azan maghrib itu selesai, ia meluncurkan perintah kepada anak lelakinya yang masih sekolah SD yang tengah bermain di dekatnya, “ayo nak, segera berangkat ke musholla, sholat maghrib..”. “jarak azan maghrib dengan sholatnya itu pendek, nanti kamu ketinggalan..”. Dengan ringan anaknya menjawab, “ ayah aja nggak pernah sholat maghrib di musholla..”.
Sebuah cerita yang pada akhirnya mengingatkan saya, dan mudah-mudahan temen-temen semua, lebih mudah memberi nasehat dengan memberi teladan. Karena ternyata, memberi nasehat itu susah kalau kita sendiri belum melaksanakannya.
Wallohua’lamubishshowaab..

Advertisements