Tags

, , , , , , , , , , ,

Sebuah rumah tangga, layaknya adalah kewajiban bagi sang suami untuk menjemput rizki buat anak dan istrinya. Ia biasanya bangun pagi terus keluar dari rumah dan baru kembali sore harinya. Bisa jadi Ia saat itu membawa hasil jerih payahnya menjemput rizki itu, bisa juga Ia akan mendapatkannya di penghujung minggu, atau bahkan Ia akan mendapatkannya di penghujung bulan. Rizki itulah yang Ia berikan kepada sang ahlul bait, istrinya tercinta untuk dikelola dengan baik sehingga tercukupi kebutuhan dasar keluarga. penat dan lelah sepulang kerja itu semestinyalah Ia mendapatkan senyuman manis dari istri tercinta. Sesungguhnya jika yang demikian itu didasari dengan niat ibadah, pahala bagi keduanya.
Apa yang dilakukan istri sehingga Ia juga mendapatkan pahala? apakah hanya karena sekedar Ia menyambut kedatangan sang suami sepulang bekerja? Jangan-jangan, selama suaminya menjemput rizki itu, Ia hanya menghabiskan waktu di depan televisi menyaksikan sinetron kesukaannya? Ataukah Ia menghabiskan waktu sepanjang siang harinya dengan mengunjungi tetangga sebelah rumahnya dan menggunjingkan tetangga lainnya? Ataukah Ia hanya menghabiskan waktu dari terbit matahari hingga menjelang terbenam saat kedatangan suaminya dari bekerja dengan melelahkan kakinya di selasar-selasar mall atau pertokoan?
Istri yang sholehah tidak punya waktu menghabiskan waktu di saat suaminya menjemput rizki dengan melakukan hal-hal yang sia-sia. Ia akan bertindak sebagai seorang kepala rumah tangga sepanjang pagi hingga sang kepala keluarga sebenarnya kembali dari menjemput rizki. Ia akan mendidik dan mengasuh anaknya menjadi calon-calon penerus generasi yang senantiasa mengabarkan kebaikan dan keutamaan akhlak. Ia akan mengajarkan anaknya seperti nabiyulloh Ismail yang sami’na wa’atho’na terhadap perintah Alloh. Ia akan menjadikan calon-calon penerus perjuangan syi’ar Islam itu kuat dengan memberikan konsumsi makanan yang tidak usahlah mahal, tapi tetap bergizi dan bermutu higienis yang tinggi. Ia akan menjaga pintu-pintu rumahnya tetap tertutup serta menjaga hijab dan auratnya selama sang suami tercintanya menjemput rizki. 
Sesungguhnya kepada yang demikian itu adalah keutamaan wanita dan karenanya di telapak kakinyalah diletakkannya surga.

Advertisements