Hari ini tanggal 9 september 2010 atau bertepatan dengan tanggal 30 ramadhan 1431 hijriyah, dalam perjalanan pulang di atas pesawat Citilink GA 030 Surabaya-Batam diatas ketinggian 11.000 feet, saya menyempatkan diri menuliskan sesuatu.
Hari ini adalah hari terakhir perjalanan satu bulan dari bulan yang penuh rahmat dari Alloh subhanhu wata’ala, bulan Ramadhan. Bulan yang lazimnya dibagi kepada tiga tahapan perjalanan amal beserta imbalannya, yaitu sepuluh hari pertama dilingkupi dengan rahmat,  sepuluh hari kedua dilingkupi dengan maghfiroh, dan sepuluh hari terakhir dengan itqumminannar.
Ada perbedaan yang benar-benar diperlihatkan oleh Alloh pada bulan Ramadhan. Di bulan ini, entah karena janji pahala yang diberikan kepada setiap amal perbuatan baik yang dilipatgandakan hingga tujuhratus kali, atau karena dibelenggunya setan yang biasanya memberatkan langkah kali ummat ke musholla atau masjid, atau karena semata-mata mengharap ridho-Nya.
Tiga puluh hari berpuasa wajib, buat insan yang bekerja adalah jauh lebih ringan. Karena artinya ia telah mengisi keseluruhan harinya dengan kerangka ibadah. Sejak terbangun sahurnya pukul 03.00 dini hari, imsak dan sholat subuh di sepuluh menit sesudahnya, mengisi waktu menunggu datangnya fajar dengan membaca Al Qur’an dan menutupnya dengan dua rokaat sholat sunnah.
Selanjutnya sampai kepada masanya ia bersiap berangkat ke tempat kerja pukul 06.30 dan mulailah ia menjadi pekerja ibadah hingga saatnya sholat dhuha ditunaikan pukul 09.00. Waktu selanjutnya adalah 11.30 saatnya berkumandang azan zuhur dan 14.30 saatnya azan ashr berkumandang dan diselingi diantara keduanya dengan mendengarkan majlis taklim. 
Alloh memberikannya nikmat pertamanya di dunia saatnya azan magrib tiga pukul 17.30 dan wajib dibatalkannya puasa. Satu jam kemudian adalah waktu baginya berduyun-duyun untuk berjamaah isya’ yang diteruskan dengan taraweh hingga membaca qur’an sampai 21.00 saatnya ia kembali ke peraduannya untuk kembali terbangun pukul 03.00 dinihari dan begitu seterusnya setiap hari selama periode sebulan ramadhan.
Subhanalloh.. Bisakah rutinitas seperti itu kembali berulang dan berulang terus bukan hanya di ramadhan? Sungguh, setelah hari ini, hari berikutnya tidaklah akan sama tanpa kehadiranmu ya Ramadhan..

Advertisements