“Ah, om dulu kecilnya nakal..”, ucapan itu  meluncur dari mulut keponakanku suatu ketika. Repotnya, itu disampaikan di hadapan kedua anakku, dimana saat itu kami berkesempatan datang ke Debong Wetan, Tegal, tempat kelahiranku dan menghabiskan masa kanak-kanakku.
Nakal? rasanya tidak. Bahkan masa kecilku termasuk anak baik-baik yang menurutku jauh dari kata nakal versiku. Karena nakal menurutku adalah tidak patuh weling-nya orang tua, tinggal kelas, suka berkelahi, gemar berbohong, suka mengambil yang bukan haknya, atau merokok bahkan nge-lem. wuiih.. Alhamdulillah, didikan bapak ibuku menjauhkanku dari tindakan-tindakan seperti itu.
Aku cukup patuh dengan apa yang diperintah oleh bapak ibuku, aku tidak pernah tinggal kelas bahkan di kelulusan MI-ku bisa dapat NEM tertinggi di Madrasah Ibtida’iyah-ku. Aku juga tidak suka dan tidak bisa berkelahi, takut berbohong serta takut mengambil sesuatu yang bukan hakku. Apalagi merokok dan nge-lem  di usia kanak-kanakku, amit-amit.. Buat beli jajan aja susah, apalagi buat beli rokok atau lem Aica Aibon.
Aku tidak tahu persis apa definisi nakal dari sudut pandang keponakanku. Aku juga tidak sadar kalau tingkah lakuku -yang menurutku masih dalam batas kewajaran- dibawah perhatian keponakan-keponakanku. Aku juga bukan termasuk anak yang pandai dalam bidang permainan anak-anak seusiaku seperti permainan kelereng, layang-layang atau permainan lain yang membutuhkan keahlian. Di permainan seperti itu, aku lebih banyak kalahnya.
Yang jelas , di masa kecilku, ruang bermain terbuka sangat luas. Di belakang rumah ada bekas galian bata merah milik tetangga yang kalau musim hujan praktis jadi tempatku memancing ikan gabus. Kalau hasil memancing di belakang rumah itu kurang memuaskan, masih banyak kolam-kolam bekas galian bata lagi di tetangga yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Di halaman depan rumah adalah area bermain lainnya hingga kuburan sebelah rumahpun jadi tempat persembunyian terbaik dalam permainan petak umpet. Rasanya dulu ada banyak jenis permainan yang terus terang saat ini aku kesulitan mengingat nama dari jenis permainan tersebut. Yang jelas, aku ingat betul kalau  bermain dengan teman-teman sebayaku itu lebih menarik bagiku dibanding membuka buku pelajaran sekolah . ( Mudah2an kedua anakku tidak membaca tulisanku ini… hehehe..)
Suatu saat, aku dan teman-teman mainku sangat ingin merasakan manisnya tebu, dan itu kalau dibeli sebenarnya bisa saja karena harganya juga sangatlah murah. Tapi entah siapa yang memulai, kami berempat, berjalan kaki menyusuri rel kereta api yang jaraknya tidak sampai satu kilometer dari rumah menuju area perkebunan tebu yang berada di sepanjang kanan kiri rel kereta api hingga kemudian, aku lupa bagaimana caranya, kami bisa naik kereta sampai di stasiun Pangkah. Resiko selanjutnya mudah ditebak dimana kami kemudian diperintahkan oleh kondektur kereta untuk turun di stasiun yang jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggal kami, Desa Debong Wetan. Karena ketidaktahuan kami alur jalan darat, terpaksa jalur kereta apilah yang kami susuri menuju rumah. Dan, mohon maaf, entah karena kekesalan kami atau iseng, kami menempatkan batu-batu kerikil di sepanjang besi rel.
Alhamdulillah, atas ulah iseng kami itu , aku tidak mendengar adanya kejadian apapun di jalur rel yang kami isengi. 
Kini, kedua anakku menikmati masa bermain yang bentuk permainannya tentu saja berbeda dengan jamanku kecil dulu, menurutku. Bisa saja waktu kecilku dulu sudah ada rubik, tapi aku tidak tahu karena ketiadaan biaya untuk bisa membelinya. Yang jelas jamanku sedikit sekali permainan yang sifatnya mengisolir diri, jika bermain layangan atau memancing masuk kategori itu. sisanya adalah permainan yang memerlukan kerja sama tim ataupun kompetisi orang perorang dalam satu permainan. 
Aku iri dengan masa kecilku. begitu banyak permainan yang bisa menghabiskan waktu belajarku di malam hari dengan gobak sodor, atau congklak di siang hari sepulang sekolah, atau kasti ketika di sekolah. 
Aku iri dengan masa kecilku, saat dimana tanah-tanah lapang masih terbentang dan banyak juga pohon-pohon besar tempat kami sembunyi dipermainan petak umpet. 
Aku iri dengan masa kecilku, saat dimana masih banyak kolam-kolam luas tempat kami menikmati tarikan ikan “krotong” atau “betik” yang memakan umpan di ujung kail kami.

Advertisements