Perburuan tanaman hias untuk aku tempatkan di ruangan kerjaku yang sudah direnovasi sampai di sebuah tempat penjualan tanaman hias yang letaknya kurang lebih satu kilometer dari kantorku. Saat memasuki tempat penjualan, aku tidak begitu jelas melihat nama dari tempat ini, dan aku rasa memang tidak ada nama yang tertera di pintu masuknya. 
Selanjutnya aku bertemu penjualnya , asli jawa yang mengadu nasib di Sampit sudah lama   dan bidang usaha yang dipilihnya adalah berjualan tanaman hias. Aku tidak banyak tahu tentang harga tanaman dan hanya penikmat keindahannya. Dan ketika aku menanyakan harga tanaman yang aku ancer-ancer untuk dibeli, terkaget-kaget dengan harga yang disampaikannya. Untuk ukuran tanaman palem biasa yang biasanya banyak tumbuh di jawa, dia tawarkan dengan harga tujuhpuluh lima ribu rupiah perpot. Aku juga kemudian tanaman palem alternatif lainnya yang menurut perkiraanku harganya tidak sampai limapuluh ribu rupiah. Rupanya atas tanaman terakhir yang aku tanyakan tadi, harganya malah mendekati seratus ribu. Aku lantas bergurau dengan ibu yang menjual tanaman hias ini dengan mengatakan betapa besarnya omset dan hasil dari berjualan tanaman ini dengan mengambil sampel dua tanaman yang aku tawar tadi. 
Ternyata dia menjawab pernyataanku tentang omset dan hasil penjualan itu dengan senyuman. 
Dengan arif, lantas diceritakannya bahwa tidak selamanya usaha berjual tanaman ini mendatangkan hasil menggembirakan, tidak selalu seperti nampaknya sekarang. Ia menceritakan bagaimana suatu ketika dagangan bunganya ini layu dan mati didalam truk yang membawanya dari Jamrud di Tanjung Perak ke Pelabuhan Sampit karena “delay”-nya keberangkatan kapal akibat cuaca buruk. Dihitung-hitung ada sekitar tigapuluh lima jutaan ia merugi karena kejadian itu dan yang lebih menyesakkan, betapa kerugian itu tidak bisa dibebankannya kepada siapapun karena ia tidak mengenal yang namanya asuransi ( atau asuransi juga tidak mau menanggung kerugian karena pengangkutan tanaman ya.. )
Dialog singkat dengan ibu penjual tanaman hias itu mengingatkanku satu hal, betapa kita sering hanya melihat hasil akhir yang dicapai oleh seseorang yang sukses dengan tanpa melihat bagaimana ia-nya berproses. Betapa kita hanya melihat enaknya ia saat ini, dan tidak tahu atau tidak mau tahu sakitnya untuk mencapai tahapan enak itu. Betapa banyak juga orang yang ingin langsung sukses dengan tanpa melalui sakitnya proses yang biasanya dilalui orang untuk menuju sukses itu. Bisakah? bisa saja menurutku, tapi mungkin ia tidak akan setahan banting dengan orang lain yang sudah lebih dulu merasakan jatuh bangunnya meniti sukses. 
Rasanya, perlu bagi aku untuk tidak hanya tahu senangnya, tapi juga tahu sakitnya, agar bisa menghargai betapa susahnya meniti jalan menuju pencapaian yang diinginkan. 
Rasanya tidak perlu bicara materi, karena pencapaian keberhasilan  tiap orang pasti berbeda, meskipun awam bahwa yang menjadi tolok ukur sebuah keberhasilan pencapaian adalah materi. 
Bisa jadi seseorang merasa bahagia sekali dengan rumah BTN tipe 45 di kampung dengan kendaraan sepeda motor roda dua seadanya. Bisa jadi seseorang merasa bahagia dengan mendapatkan penghasilan yang hanya cukup makan di hari itu juga, tapi yang penting anak istrinya bahagia. Bisa jadi seseorang merasa bahagia saat ia bisa senantiasa berada di sebelah anak dan istri tercintanya meskipun uang yang ada di dompetnya tidak lebih dari lembaran bergambar Sultan Mahmud Badarudin II. 
Mudah-mudahan aku termasuk golongan orang yang pandai bersyukur dan merasa bahagia dengan apa yang telah Alloh berikan. aamiin..

Advertisements