Tags

, , , , , ,

“Putra njenengan berapa pak?” tanyaku dalam perjalanan naik ojek ke terminal busway Tanjung Priok. “Delapan pak”, jawab bapak tukang ojek yang membawaku itu. Sayangnya aku tidak bisa melihat raut muka wajahnya, yang dari nada dan tekanan suaranya saat menyebut jumlah anaknya itu terdengar bangga.
“Semua sudah bekerja pak?” tanyaku lagi, dan dijawab “sudah pak, dan sudah pada berkeluarga”. “Yang paling kecil aja yang belum nikah dan masih pengin kuliah”, terusnya lagi.
“Dari hasil ngojek ini saja pak?”, tanyaku lagi meneruskan jawabannya bahwa ia bisa dengan lancar menafkahi keluarganya. “Ya pak, alhamdulillah..” jawabnya, tetap dengan nada bangga.
“Ya saya mangkal di depan kantor itu saja pak sejak puluhan tahun lalu,” tambahnya lagi.
“Masya Alloh “, gumamku dalam hati.
Aku tidak bisa bertanya lebih jauh lagi karena sudah sampai di terminal busway. Aku merogoh kocek untuk mengambil uang sebagai bayaran ongkos ojek. Saat turun itu sebenarnya aku sudah menanyakan namanya, tapi saat menuangkannya dalam tulisan ini, aku lupa.
Selanjutnya, sepanjang perjalanan di busway itu aku hanya merenungi percakapan singkat dengan bapak tukang ojek tadi. Betapa mesti bersyukurnya aku dengan keadaanku saat ini. Subhanalloh.

Lain waktu..
“Putro kulo isin nyebutaken bapakne ngasto nopo wektu ditangleti rencange pak..” ( anak saya malu ngomong apa kerjaan bapanya waktu ditanya temennya pak..), kata pak Gino, seorang CS kantor,  ke aku di suatu siang ba’da sholat dhuhur di selasar kanan masjid. Percakapan sebelumnya , diawali dengan bahasa Indonesia, tapi kemudian berganti bahasa jawa setelah pak Gino tau asalku dari Tegal sedangkan beliau kelahiran Jogja.
“Lho kenapa mesti malu.. mestinya kan dia bangga pak”, jawabku.
“Mungkin  dia bingung mau bilang ke temennya kalo bapaknya cuma tukang sapu di kantor bea cukai, tapi kok bisa punya rumah. Padahal rumah saya ya sederhana saja pak, yang penting ada tempat ngiyup dan jualan kelontong kecil-kecilan buat istri nambah-nambah uang belanja”, lanjut pak Gino lagi.
“Ya mungkin juga pak”, timpalku.
Pak Gino, sosok orang tua yang “hanya” seorang cleaning service di kantor bea cukai di Tanjung Priok, sudah pasti pembawaannya sederhana saja. Yang penting buatnya lantai bersih dan ruangan yang menjadi wilayah tanggung jawabnya juga rapi dan bersih. Kerjaan yang sudah ditekuninya , juga dari puluhan tahun yang lalu. Sisanya, beliau tetap berharap gaji bulanan dan uang makan yang alhamdulillah menurutnya saat ini bisa berjumlah dua jutaan.
“Saya bisa nyekolahkan anak-anak saya ya dari nyapu-nyapu ini pak”, tambahnya lagi dengan raut muka bangga.
Masya Alloh.. dua teladan sederhana di depan mataku adalah sosok nyata, bahwa tidak ada alasan khawatir kecukupan urusan dunia. Semua sudah ditakar dan diurus sesuai dengan porsinya masing-masing. Aku menyimak bahwa khawatir dan takut itu lumrah, dan karena memang demikian adanya sifat manusia. Sisanya adalah bersabar di saat musibah dan bersyukur di saat bahagia.
Tukang ojek depan kantor dan pak Gino yang CS di kantor itu aku yakin pernah merasakan khawatir dan takut akan kecukupan penghasilannya bagi nafkah keluarganya. Aku yakin juga masa-masa sulit pernah melewati mereka.
Tapi keduanya tetap eksis dan bersahaja, dan kuncinya sekali lagi adalah bersabar di saat musibah dan bersyukur di saat bahagia.

Advertisements