Tags

, , , , , , , , , , , , , , , ,

setahun setengah penempatanku di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur. penempatan yang diawali di pertengahan Desember 2011 ini aku rasakan banyak membuatku belajar. ya, sejatinya dimanapun aku ditempatkan, adalah layaknya sebuah sekolah dimana aku menjadi muridnya. murid yang semestinya patuh kepada guru yang ada yaitu bumi yang aku pijak lengkap dengan segenap adat kebiasaannya serta langit yang aku junjung dengan segenap kondisi alam yang menaunginya.
Sampit, nama yang sangat populer, dengan konotasi negatif akibat kerusuhan antar suku yang terjadi di tahun 2001, letaknya di tepi sungai Mentaya. nama Sampit sendiri tidak aku temui jejaknya di sebuah nama kecamatan atau nama desa / kelurahan sekalipun. yang jelas, nama kabupaten dimana nama Sampit ini ada adalah di Kotawaringin Timur dengan akronim Kotim, sebagai bagian dari Provinsi Kalimantan Tengah.
kota kabupaten ini memiliki fasilitas akses keluar masuk orang dalam rangka migrasi yang cukup lengkap dimana tersedia akses penerbangan langsung dari dan ke Surabaya, Semarang, dan Jakarta termasuk penerbangan ke sesama kota di wilayah Kalimantan yaitu Pangkalan Bun, Ketapang, Pontianak, Banjarmasin, dan Kota Baru. penerbangan ke tempat tujuan-tujuan tadi dilayani oleh dua maskapai saja yaitu Merpati dan Kalstar. demikian juga dengan fasilitas pelabuhan penumpang yang melayani pelayaran ke Surabaya dan Semarang yang dilayani oleh Pelni dan Dharma Lautan Nusantara.
kondisi perkembangan perekonomian yang sedang menggeliat dengan dibuka luasnya perkebunan sawit dan pabrik pengolahannya, mengakibatkan migrasi pekerja yang lumayan masif dari Jawa dan Sumatra. tentu saja migrasi ini didominasi oleh penduduk dari pulau terpadat di indonesia, Jawa, yang mencoba peruntungannya di kota kabupaten yang tengah berkembang sesuai dengan mottonya : bergerak cepat membangun Kotim.
satu setengah tahun sejak pertengahan Desember 2011 aku bertugas di kota yang kalau aku ceritakan kepada teman-temanku bahwa ada bandara yang bisa didarati pesawat Boeing 737 seri 300 yang dioperasikan oleh Kalstar dan Merpati , komentar mereka adalah : oh ya? kota yang seperti dibangun di atas papan datar dan dibuat garis kotak-kotak menjadi blok-blok. akibatnya, jarak tempuh rumah dinas tempat tinggalku ke kantor yang hanya sekitar dua kilometer mesti melewati lima traffic light.
kota yang tidak susah mencari makanan khas jawa timur seperti rawon, penyetan, pecel, bebek goreng, soto ayam dan lainnya, karena memang di kota inilah banyak warga Banyuwangi, Madiun, Pacitan dan sebagian warga Jawa Timur lainnya menggantungkan peruntungan nasib menjual makanan.
kota inilah yang di jalan depan rumah dinas tempat kami tinggal tidak pernah absen suara deru knalpot sepeda motor yang sudah di-oprek memekakkan telinga, bahkan sampai jam istirahat kami. akan hal ini, pernah kepikiran melemparkan ketapel atau batu atau apapun ke pengendara motor yang entah telinganya bolot atau apa, sampai dia jatuh kesungkur, atau apapun yang bikin dia kapok, atau teman-temannya kapok dan nggak bakalan mondar-mandir lagi di jalan raya itu.
kota ini, akhirnya harus aku tinggalkan setelah satu setengah tahun menyusurinya. kota yang aku bisa menemukan segelintir orang muda yang berjuang menegakkan kembali runtuhnya lembaga pendidikan Muhammadiyah karena terbakar. kota yang terpaksa harus dikeruk hasil buminya berupa hasil tambangnya untuk dijual ke China dengan mendapatkan ganti PAD dan bea keluar. kota yang terpaksa atau senang hati hutannya digusur dan digantikan dengan pepohonan sawit yang menghasilkan minyak kelapa sawit dan turunannya yang juga bisa menyumbang PAD dan bea keluar. ia juga bisa bak gula-gula yang menyedot datangnya orang-orang dari jawa yang sudah penuh sesak untuk menjadi pekerja kebun sawit.
kota ini mudah-mudahan akan semakin berkembang dengan tanpa ada konflik suku atau penyebab apapun. niscaya suatu ketika aku mengunjunginya kembali akan tertegun karena perubahan positifnya.
semoga teman-temanku, sahabat-sahabatku, yang selama satu setengah tahun ini menemani, menyemangati, mendukungku, dan mendo’akanku selalu tetap dalam lindungan Alloh subhanahu wata’ala.. aamiin..
selamat tinggal Sampit.. selamat tinggal Sungai Mentaya.. sampai ketemu di lain kesempatan..

Advertisements