Tags

, ,

Untuk yang kedua kalinya saya tertarik dengan bacaan yang ada di Lionmag, Wisdom in the air yang ditulis oleh Jemy V.Confido yang punya situs di http://www.jemyconfido.com
Kali ini, Jemy menuturkan tentang Kebenaran dan Pembenaran.
Alkisah tentang seorang pemuda yang memiliki sebuah mikroskop. Sedemikian takjubnya ia dengan benda ini sehingga berulangkali dicobanya alat ini untuk melihat benda-benda yang indah seperti kelopak bunga dan batu mutiara. Hingga suatu ketika, saat ia tengah menyantap sambal kegemarannya yang biasa ia beli d warung pinggir jalan, tergerak hatinya untuk mencoba melihat apa yang ada dalam sambal itu. Betapa terkejutnya ia manakala dilihatnya ada cacing bergerak2 didalam sambal yang ditempatkannya dibawah mikroskop itu. Sejenak ia terduduk dan berpikir merenung betapa ia telah sekian tahun lamanya mengkonsumsi sambal itu, dan baik- baik saja. Bahkan ia masih teringat saat teman2 nya diolehi bungkusan sambal itupun mereka berkomentar yang sama. 
Lamanya ia terdiam sampai kemudian pemuda ini mengambil keputusan. Diangkatnya mikroskop itu, dibantingnya hingga berkeping dan dilemparkannya ke semak belakang rumahnya.
Kisah diatas menggambarkan kehidupan nyata yang seringkali dihadapi kita. Saat kita bertemu dengan hal yang indah dan menyenangkan kita, akan dengan senang hatinya kita menerimanya sebagai sebuah kebenaran. Akan tetapi saat kita dihadapkan dengan hal yang tidak berkenan dan tidak menyenangkan, dengan mudahnya kita akan membuangnya dan mencari pembenaran atas tindakan kita itu.
Jemy Confido menggrading Pembenaran sebagaimana sebuah stadium kanker. Dimana menurutnya, stadium awal dari Pembenaran itu adalah Blaming atau menyalahkan orang lain. Contoh yang disampaikannya adalah ungkapan : ” saya sudah berusaha melakukan yang terbaik, tapi tidak ada yang mendukung saya”. Bisa jadi sebenarnya orang tersebut telah benar-benar berusaha, tapi dalam konteks ini orang tersebut adalah dia belum berusaha sebaik yang dia ucapkan namun menutupinya dengan menyalahkan pihak-pihak yangg tidak mendukungnya. Pengobatan atas kanker pembenaran stadium ini bisa diobati dengan merubah pertanyaan tersebut diatas ditujukan kepada diri kita sendiri dengan bertanya : ” benarkah saya sudah melakukan yang terbaik dan benarkah tidak ada satu orangpun yang mendukung saya?”
Pada stadium menengah, pembenaran mengambil bentuk excuse. Dalam hal ini si pelaku seolah-olah menerima bahwa dirinya belum berusaha namun memaklumi hal tersebut karena ia tidak memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan usaha tersebut. Contoh excuse misalnya : “tentu saja saya belum bisa melakukan usaha terbaik karena saya tidak memiliki biaya, orang dan waktu yang cukup untuk itu”. Pembenaran dalam bentuk excuse bisa dikoreksi dengan pertanyaan : ” bila saya memiliki biaya, orang dan waktu apakah saya akan melakukan usaha yang lebih baik daripada yang saya lakukan sekarang?”
Pembenaran stadium akhir adalah mengambil bentuk Justify. Pelaku dalam konteks ini membenarkan sikap atau tindakan yang dilakukannya. Contoh Justify misalnya : ”     Saya tidak perlu melakukan usaha terbaik karena belum jelas hasil yang akan dicapai “. Stadium ini lebih sulit diatasi karena pelaku berlindung dibalik argumen yang sepertinya cukup kuat. Tapi koreksi bisa dilakukannya dengan mengajukan pertanyaan : ” Bila hasilnya sudah jelas, apakah saya bersedia melakukan usaha terbaik? “.
Jemy Confido menyampaikan bahwa semakin tinggi stadium pembenaran yang dialami seseorang, semakin kuat dalih-dalih yang digunakannya.
Lalu bagaimana agar kita terlepas dari pembenaran? Jawabannya terletak pada kisah si pemuda dengan mikroskopnya diatas. Sama seperti kehidupan kita, saat kita menemukan ( memiliki ) mikroskop, kita akan menerimanya dengan baik saat kita menggunakannya untuk melihat fakta-fakta yang indah seperti kelopak bunga atau berlian. Sebaliknya, ketika kita menggunakan mikroskop untuk melihat fakta-fakta yang tidak indah seperti cacing dalam sambal tadi, maka kita dihadapkan pada dua pilihan yaitu membuangnya mikroskopnya dan membiarkan kita memakan sambal yang ternyata ada cacingnya atau pilihan yang lebih bijak adalah dengan berhenti memakan sambal yang kurang higienis itu sebelum kita sakit perut.     

Advertisements