Selama kurang lebih satu setengah tahun lalu di kota kabupaten yang di tahun 2001 pernah terjadi rusuh antar suku, saya banyak menemukan tempat usaha yang punya nama khas. Sepanjang saya menyusuri jalan Soeprapto, jalan Ahmad Yani dan jalan Gatot Subroto, dan jalan Baamang ke arah bandara, ada saja nyempil tempat usaha dengan nama khas, Barokah. Nama khas ini juga sudah sering saya temui sebagai nama tempat usaha pada saat penempatan di Tanjung Perak, Surabaya.
Ini beneran, sepintas seperti nggak ada kreatifnya sama sekali. Nggak warung makan tenda, nggak truk pengangkut barang seken atau rombeng, penginapan, tempat jualan vcd, pendeknya semua jenis usaha diberi label “barokah”. Dan lebih sip-nya lagi, si owner tempat usaha dengan label nama itu ternyata dari satu suku yang sama, saudara saya di seberang jembatan suramadu. Suku yang di tahun yang saya sebutkan di awal itu menjadi pihak yang “terpaksa” terusir dari kota kabupaten Kotawaringin Timur .
Dan sekarang, saat saya sudah mutasi ke Tanjung Priok, label nama itu ternyata tetap ada. Dan masih di sekitar kegiatan usaha yang sama, warung makan tenda, truk pengangkut barang, penginapan, tempat jualan vcd.
Tentu saja pemilihan nama itu bukan suatu kebetulan, dan lebih kepada sebagai sebuah harapan atau do’a. Diberi nama “barokah” mudah-mudahan segala hasil usaha yang diperolehnya juga menjadi barokah.
Dilihat dari KBBI, sebenernya nggak ada rujukan kata “barokah” di bahasa Indonesia. Yang ada kata “berkah” yang diterjemahkan sebagai “karunia Tuhan yg mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia; berkat”. Jadi kata “barokah” sebenernya masih nyuplik bahasa arab aslinya yang di-Indonesiakan menjadi “berkah”.
Klop, pastinya semua orang maunya segala usahanya lewat dunia perniagaan mendatangkan kebaikan bagi kehidupan dirinya, keluarganya, orang disekitarnya, dan tentu saja bagi kehidupan di akhirat kelak.

Advertisements