• Perihal

slametsukanto

~ about making ideas happens

slametsukanto

Category Archives: kontemplasi

be good and tell it

11 Monday Mar 2013

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ 1 Comment


status di bb temen angkatanku yang sudah jadi petinggi humas di instansiku ini sangat  menarik perhatianku. posisinya sebagai ujung tombak humas menurutku sangat penting dan aku sendiri sangat apresiasi dengan status itu.
aku lantas membuat penafsiran sendiri atas rangkaian kata ” be good and tell it” ini. 
be good, menjadi baik, adalah harapan yang selalu tercetus dalam rangkaian proses reformasi birokrasi di kementerian keuangan. menjadi baik, menjadi lebih baik , dan menjadi yang terbaik dalam jajaran pemerintahan. 
tell it, ceritakan, sampaikan, publikasikan.
“waah.. paling deket hubungannya dengan pencitraan.. ”
ya, memang deket banget.. tentu saja pencitraan yang positif..
“terus nutupi hal-hal yang negatif gitu?”
ya juga.. hal yang negatif harus ditutupi..
“terus dibiarkan aja yang negatif itu? ”
SAMA SEKALI TIDAK…!!!
yang negatif, ya mesti diperbaiki, dibenahi , dan ditata.
“apa sudah dilaksanakan hal itu di lingkungan kementerian kita, kementerian keuangan?”
sudah..
“kok masih belum maksimal ya citranya.. ”
thats it.. disinilah poin pentingnya. pasca kita mencoba menjadi baik, sudah menjadi lebih baik, dan menjadi lebih baik lagi, kita mesti “menceritakannya”. apa nggak riya? toh sudah semestinya prinsip pelayanan dari institusi kita memang seharusnya tidak berharap adanya pujian dan ucapan terimakasih?
yup, bener, bukan itu yang semestinya kita harapkan. bukan hanya sekedar ucapan terimakasih dan pujian. 
kita mengharap lebih dari itu. kita mengharap self pride, rasa bangga menjadi bagian dari keluarga besar kementerian keuangan karena kita telah mencoba maksimal menjadi baik dan akan kita ceritakan dengan cara yang baik pula.
be good and tell it, sebuah motto sederhana yang bisa memberi motivasi kepada kita, terutama aku pribadi, untuk tetap berbuat baik dan selebihnya bisa kita tunjukkan kebaikan itu melalui teladan dan menceritakannya dalam bentuk yang baik pula. muaranya adalah kebaikan bersama . semoga. 

penjaga amanah

24 Thursday Jan 2013

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ Leave a comment


status itu sengaja aku pampang beberapa hari dimulai tanggal 22 Desember kemarin, saat hari itu dirayakan sebagai hari ibu. konon di tanggal itu kita mestinya men-treat istri dan ibu kita ( bersyukurlah bagi yang masih memiliki ibu ) laksana ratu. celakanya, ada teman yang kemudian mengeluarkan joke, “ok, hari ini jadi hari ibu. tapi 364 hari kedepan kembali jadi hari bapak” hahahahaha…
menurutku, men-treat istri atau ibu kita laksana ratu  mestinya tidak terbatas hanya di hari ibu. hari-hari selanjutnya setelah hari ibu, mereka juga berhak mendapatkan perlakuan seperti itu. tapi ada juga kekhawatiran, kalau kita , kaum laki-laki men-treat seperti itu terus, bisa dicap susis-meminjam istilahnya Sule- suami sien istri, atau suami takut istri.
nggak ah, kita sudah semestinya memperlakukan istri kita sebagai ratu. kita harus memperlakukan dia ratu di rumah kita sendiri, sebagai penguasa keberlangsungan administrasi kerumahtanggan. seperti layaknya keberlangsungan istana kepresidenan dengan hadirnya sekretaris kepresidenan. atau seperti layaknya keberlangsungan dunia kepengadilan dengan hadirnya kepaniteraan. atau seperti layaknya keberlangsungan dunia politik dimana para anggota dewan duduk ngantor dengan hadirnya sekretaris jenderal DPR. 
istri kita , memastikan keberlangsungannya  segala hal tetek bengek kerumahtanggaan kita serta yang memastikan berdegupnya jantung rumah tangga dimana kita dan anak kita tinggal didalamnya. menurutku, ia-lah ratu sebenarnya, sang penjaga amanah. 
istri kita, bertanggung jawab memastikan bahwa anak-anak kita terjaga dengan baik di rumah disaat kita meninggalkan mereka mencari nafkah yang entah bisa pulang di hari itu, minggu depan, atau bulan depan. menjaga tetap terjaganya  asupan gizi untuk tumbuh berkembangnya anak-anak kita sehingga bisa berangkat ke sekolah dan bermain bersama teman-temannya . memberikan pertolongan pertama disaat anak-anak kita butuh bantuan medis ringan disaat jatuh dari sepeda yang mengakibatkan lecet dengkulnya. memastikan bahwa baju yang akan dipakai suaminya bekerja esok pagi telah tersedia dan disetrika dengan rapi, demikian juga dengan baju seragam sekolah anak-anak kita. dan masih terlalu banyak hal lagi yang bisa disebutkan, dan andai ada sebutan lain, maka istri kita layak disebut superwoman. 
berbahagialah dan berbanggalah bagi para suami yang memiliki  istri yang dengan ikhlas menjadi penjaga amanah. biarlah kita yang bermandi peluh mencari rizki di tengah terik matahari atau merasakan remuk redamnya tulang pinggang karena berlama-lama menekuni pekerjaan administrasi didalam ruangan. biarlah kita yang ikhlas bermandikan hujan dan merasakan pedihnya udara polusi berkendaraan di jalan raya saat berangkat dan pulang kerja dengan sepeda motor atau kendaraan umum atau merasakan pegalnya tumit kaki menahan pedal kopling dan gas secara bergantian tiap meter di tengah jebakan macet di tengah tol. 
berbahagialah, karena di rumah telah menunggu sang penjaga amanah yang akan membukakan pintu atas kehadiran kita dengan senyum ikhlasnya. 
dan berbahagia dan berbanggalah bagi para istri yang dengan ikhlas menjadi penjaga amanah. insya Alloh surga balasannya.. aamiin..

lelahkah berbuat dan berprasangka baik?

25 Sunday Nov 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ Leave a comment


Aku menanyakan kalimat tanya seperti di judul note itu di sebuah kesempatan ceramah yang diisi oleh seorang pejabat struktural yang juga seorang motivator. Aku , dan mungkin di sebagian orang kebanyakan, wajar saja menanyakan hal itu. Bagaimana tidak, dari serangkaian ceramah yang disampaikannya adalah tentang selalu berbuat baik, berpikir positif dan berprasangka baik dalam lingkungan pekerjaan yang note bene akan selalu dipenuhi dengan manusia dari berbagai karakter. Dan wajar juga pertanyaan itu aku sampaikan karena ada saatnya dimana kita sebagai manusia biasa menggerutu perihal perilaku seseorang yang senantiasa kita perlakukan dengan baik tapi mendapatkan feedback sebaliknya. Sering juga kita mengalami bahwa segala kebaikan kadang ditafsirkan terbalik dengan tujuan mulia kita. 
Tentu saja dari pertanyaan yang aku ajukan itu, tidak ada jawaban yang sesuai dengan keinginanku, dimana ia akan merasa lelah di suatu ketika, seperti halnya aku, atau beberapa orang lain yang mengalami hal serupa denganku. Jawabannya adalah tetap saja jawaban positif, yang tentu saja menurut pendapatku tidak mungkin dilakukan selain manusia setingkat dewa atau nabi, yang memang didesain Tuhan dengan segunung sabar dan seluas lautan prasangka baik. 
Aku tidak mencecarnya lebih jauh, bahkan ketika ada kesempatan bertatap muka berdua selepas acara ceramah itu. Aku lebih mencari dan memilih jawabanku sendiri. Aku lebih memilih tetap memberikan penilaian terbaik kepada beliau dan membiarkan sembari mendoakan agar beliau tetap sperti adanya sekarang, menebar aura positif kepada setiap orang dan kelompok yang ditemuinya langsung maupun melalui media ceramah.  Dan aku berdoa mudah-mudahan beliau diberikan kesehatan dan tidak mengenal lelah dan tetap dalam sehat walafiat.
Aku percaya masih banyak juga insan-insan dengan tipikal seperti itu bertebaran di bumi Alloh. Insan yang senantiasa menyeru kepada kebaikan dan tentu saja berbuat kebaikan, dengan tidak mengenal kata lelah. Lelah bagi insan-insan ini hanya akan mengurangi semangat mereka, karena memang demikian teladan yang diterima dari rasul Muhammad SAW. Kelelahan yang hanya mereka harapkan balasannya kelak di akhirat.
Aku kemudian merefresh tentang sejarah kesabaran dan tidak pantang lelahnya Nabi Muhammad SAW ketika di awal kenabian  menyampaikan  Diinul Islam. Betapa ketika Rasul dilempari batu dan dicaci , seketika malaikat Jibril menawarkan “jasa”-nya untuk memberi pelajaran kepada mereka, ditolak oleh Rasul. “mereka belum tahu tentang kebenaran Diin ini”, demikian jawabnya menolak tawaran malaikat Jibril.  Dan hari-hari berikut, tetap dipenuhinya dengan menyampaikan kebaikan dan kebenaran, dan tentu saja aura positif dengan tanpa menyisakan dendam. subhanalloh.. laqod kaana lakum fiirasulillaahi uswatun hasanah.
Bisakah kita meniru Rasul?insya Alloh mestinya bisa.. bismillah..

tidak tahu sakitnya, hanya tahu senangnya

19 Monday Nov 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ Leave a comment


Perburuan tanaman hias untuk aku tempatkan di ruangan kerjaku yang sudah direnovasi sampai di sebuah tempat penjualan tanaman hias yang letaknya kurang lebih satu kilometer dari kantorku. Saat memasuki tempat penjualan, aku tidak begitu jelas melihat nama dari tempat ini, dan aku rasa memang tidak ada nama yang tertera di pintu masuknya. 
Selanjutnya aku bertemu penjualnya , asli jawa yang mengadu nasib di Sampit sudah lama   dan bidang usaha yang dipilihnya adalah berjualan tanaman hias. Aku tidak banyak tahu tentang harga tanaman dan hanya penikmat keindahannya. Dan ketika aku menanyakan harga tanaman yang aku ancer-ancer untuk dibeli, terkaget-kaget dengan harga yang disampaikannya. Untuk ukuran tanaman palem biasa yang biasanya banyak tumbuh di jawa, dia tawarkan dengan harga tujuhpuluh lima ribu rupiah perpot. Aku juga kemudian tanaman palem alternatif lainnya yang menurut perkiraanku harganya tidak sampai limapuluh ribu rupiah. Rupanya atas tanaman terakhir yang aku tanyakan tadi, harganya malah mendekati seratus ribu. Aku lantas bergurau dengan ibu yang menjual tanaman hias ini dengan mengatakan betapa besarnya omset dan hasil dari berjualan tanaman ini dengan mengambil sampel dua tanaman yang aku tawar tadi. 
Ternyata dia menjawab pernyataanku tentang omset dan hasil penjualan itu dengan senyuman. 
Dengan arif, lantas diceritakannya bahwa tidak selamanya usaha berjual tanaman ini mendatangkan hasil menggembirakan, tidak selalu seperti nampaknya sekarang. Ia menceritakan bagaimana suatu ketika dagangan bunganya ini layu dan mati didalam truk yang membawanya dari Jamrud di Tanjung Perak ke Pelabuhan Sampit karena “delay”-nya keberangkatan kapal akibat cuaca buruk. Dihitung-hitung ada sekitar tigapuluh lima jutaan ia merugi karena kejadian itu dan yang lebih menyesakkan, betapa kerugian itu tidak bisa dibebankannya kepada siapapun karena ia tidak mengenal yang namanya asuransi ( atau asuransi juga tidak mau menanggung kerugian karena pengangkutan tanaman ya.. )
Dialog singkat dengan ibu penjual tanaman hias itu mengingatkanku satu hal, betapa kita sering hanya melihat hasil akhir yang dicapai oleh seseorang yang sukses dengan tanpa melihat bagaimana ia-nya berproses. Betapa kita hanya melihat enaknya ia saat ini, dan tidak tahu atau tidak mau tahu sakitnya untuk mencapai tahapan enak itu. Betapa banyak juga orang yang ingin langsung sukses dengan tanpa melalui sakitnya proses yang biasanya dilalui orang untuk menuju sukses itu. Bisakah? bisa saja menurutku, tapi mungkin ia tidak akan setahan banting dengan orang lain yang sudah lebih dulu merasakan jatuh bangunnya meniti sukses. 
Rasanya, perlu bagi aku untuk tidak hanya tahu senangnya, tapi juga tahu sakitnya, agar bisa menghargai betapa susahnya meniti jalan menuju pencapaian yang diinginkan. 
Rasanya tidak perlu bicara materi, karena pencapaian keberhasilan  tiap orang pasti berbeda, meskipun awam bahwa yang menjadi tolok ukur sebuah keberhasilan pencapaian adalah materi. 
Bisa jadi seseorang merasa bahagia sekali dengan rumah BTN tipe 45 di kampung dengan kendaraan sepeda motor roda dua seadanya. Bisa jadi seseorang merasa bahagia dengan mendapatkan penghasilan yang hanya cukup makan di hari itu juga, tapi yang penting anak istrinya bahagia. Bisa jadi seseorang merasa bahagia saat ia bisa senantiasa berada di sebelah anak dan istri tercintanya meskipun uang yang ada di dompetnya tidak lebih dari lembaran bergambar Sultan Mahmud Badarudin II. 
Mudah-mudahan aku termasuk golongan orang yang pandai bersyukur dan merasa bahagia dengan apa yang telah Alloh berikan. aamiin..

aku iri dengan masa kecilku

19 Monday Nov 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ Leave a comment


“Ah, om dulu kecilnya nakal..”, ucapan itu  meluncur dari mulut keponakanku suatu ketika. Repotnya, itu disampaikan di hadapan kedua anakku, dimana saat itu kami berkesempatan datang ke Debong Wetan, Tegal, tempat kelahiranku dan menghabiskan masa kanak-kanakku.
Nakal? rasanya tidak. Bahkan masa kecilku termasuk anak baik-baik yang menurutku jauh dari kata nakal versiku. Karena nakal menurutku adalah tidak patuh weling-nya orang tua, tinggal kelas, suka berkelahi, gemar berbohong, suka mengambil yang bukan haknya, atau merokok bahkan nge-lem. wuiih.. Alhamdulillah, didikan bapak ibuku menjauhkanku dari tindakan-tindakan seperti itu.
Aku cukup patuh dengan apa yang diperintah oleh bapak ibuku, aku tidak pernah tinggal kelas bahkan di kelulusan MI-ku bisa dapat NEM tertinggi di Madrasah Ibtida’iyah-ku. Aku juga tidak suka dan tidak bisa berkelahi, takut berbohong serta takut mengambil sesuatu yang bukan hakku. Apalagi merokok dan nge-lem  di usia kanak-kanakku, amit-amit.. Buat beli jajan aja susah, apalagi buat beli rokok atau lem Aica Aibon.
Aku tidak tahu persis apa definisi nakal dari sudut pandang keponakanku. Aku juga tidak sadar kalau tingkah lakuku -yang menurutku masih dalam batas kewajaran- dibawah perhatian keponakan-keponakanku. Aku juga bukan termasuk anak yang pandai dalam bidang permainan anak-anak seusiaku seperti permainan kelereng, layang-layang atau permainan lain yang membutuhkan keahlian. Di permainan seperti itu, aku lebih banyak kalahnya.
Yang jelas , di masa kecilku, ruang bermain terbuka sangat luas. Di belakang rumah ada bekas galian bata merah milik tetangga yang kalau musim hujan praktis jadi tempatku memancing ikan gabus. Kalau hasil memancing di belakang rumah itu kurang memuaskan, masih banyak kolam-kolam bekas galian bata lagi di tetangga yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Di halaman depan rumah adalah area bermain lainnya hingga kuburan sebelah rumahpun jadi tempat persembunyian terbaik dalam permainan petak umpet. Rasanya dulu ada banyak jenis permainan yang terus terang saat ini aku kesulitan mengingat nama dari jenis permainan tersebut. Yang jelas, aku ingat betul kalau  bermain dengan teman-teman sebayaku itu lebih menarik bagiku dibanding membuka buku pelajaran sekolah . ( Mudah2an kedua anakku tidak membaca tulisanku ini… hehehe..)
Suatu saat, aku dan teman-teman mainku sangat ingin merasakan manisnya tebu, dan itu kalau dibeli sebenarnya bisa saja karena harganya juga sangatlah murah. Tapi entah siapa yang memulai, kami berempat, berjalan kaki menyusuri rel kereta api yang jaraknya tidak sampai satu kilometer dari rumah menuju area perkebunan tebu yang berada di sepanjang kanan kiri rel kereta api hingga kemudian, aku lupa bagaimana caranya, kami bisa naik kereta sampai di stasiun Pangkah. Resiko selanjutnya mudah ditebak dimana kami kemudian diperintahkan oleh kondektur kereta untuk turun di stasiun yang jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggal kami, Desa Debong Wetan. Karena ketidaktahuan kami alur jalan darat, terpaksa jalur kereta apilah yang kami susuri menuju rumah. Dan, mohon maaf, entah karena kekesalan kami atau iseng, kami menempatkan batu-batu kerikil di sepanjang besi rel.
Alhamdulillah, atas ulah iseng kami itu , aku tidak mendengar adanya kejadian apapun di jalur rel yang kami isengi. 
Kini, kedua anakku menikmati masa bermain yang bentuk permainannya tentu saja berbeda dengan jamanku kecil dulu, menurutku. Bisa saja waktu kecilku dulu sudah ada rubik, tapi aku tidak tahu karena ketiadaan biaya untuk bisa membelinya. Yang jelas jamanku sedikit sekali permainan yang sifatnya mengisolir diri, jika bermain layangan atau memancing masuk kategori itu. sisanya adalah permainan yang memerlukan kerja sama tim ataupun kompetisi orang perorang dalam satu permainan. 
Aku iri dengan masa kecilku. begitu banyak permainan yang bisa menghabiskan waktu belajarku di malam hari dengan gobak sodor, atau congklak di siang hari sepulang sekolah, atau kasti ketika di sekolah. 
Aku iri dengan masa kecilku, saat dimana tanah-tanah lapang masih terbentang dan banyak juga pohon-pohon besar tempat kami sembunyi dipermainan petak umpet. 
Aku iri dengan masa kecilku, saat dimana masih banyak kolam-kolam luas tempat kami menikmati tarikan ikan “krotong” atau “betik” yang memakan umpan di ujung kail kami.

push to the limit

31 Wednesday Oct 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ 7 Comments

Tags

ayu banyuwangi, Bintaro, la yukallifullahu nafsan, push to the limit, STAN


Dalam sebuah kesempatan mendengar khutbah jum’at di mesjid yang saya lupa namanya, yang letaknya di sebelah kanan setelah pintu keluar gerbang kampus STAN di sisi Bintaro, saya terkesan dengan isi khutbah. Dalam rangkaian khutbah itu, ada satu kalimat nukilan dari al-Qur’an : Al Baqarah ayat 286 : 

“La yukallifullahu nafsan illa wus’aha
Laha ma kasabat wa alayha maktasabat”
Alloh tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.

Yang menarik adalah pendapat yang disampaikan oleh khatib yang menyatakan bahwa konteks dari ayat ini menurutnya lebih kepada bahwa tidak semestinyalah seseorang menyatakan bahwa beban yang ditanggungnya telah melebihi kapabilitasnya sementara ia sendiri belum melakukan usaha  kebaikan hingga titik limitnya.  Semestinyalah seseorang mengusahakan kebaikan sebisa mungkin dan mendorongnya hingga batas maksimum yang bisa diusahakannya. Konteks lainnya dari ayat ini sebagaimana disampaikan oleh khatib adalah mengajak segenap jamaah untuk tidak  terlalu gampang menyerah dalam mengusahakan kebaikan. 

Kebaikan menurut saya  itu universal dan tidak mesti terkait dengan hal-hal yang besar dan wow..   Dan dalam rangka mengharap reward pahala atas kebaikan yang kita lakukan itu mesti dibalut dengan keikhlasan, keimanan dan tauhid. 
Kebaikan namanya jika kita bisa berbaik dengan tetangga meskipun hal ini sepertinya sepele. Kebaikan juga namanya jika kita menghormati orang lain dan menebarkan salam dan senyum meskipun tidak semua orang perlu tahu bahwa kita tengah menghadapi permasalahan. Kebaikan juga namanya jika kita mau menyingkirkan buruk sangka dan menggunjingkan keburukan orang apalagi itu adalah orang-orang terdekat kita, baik saudara maupun rekan sekerja. Kebaikan lagi namanya juga jika kita bisa senantiasa menyisihkan sebagian dari rizki kita untuk sedekah dan amal jariyah.

Push to the limitnya adalah tetap membaiki dan tidak mengajak berantem tetangga meskipun ia selalu menyakiti kita dengan menyajikan setelan musik kenceng hingga tengah malam saatnya kita istirahat.. hehehe..

Push to the limitnya adalah tetap menghormati dan menebarkan salam dan senyum meskipun itu terhadap orang yang paling kita benci karena pernah menyakiti perasaan kita melalui ucapan dan tindak lakunya. Meskipun juga kita tengah menghadapi permasalahan karena tidak memiliki cukup uang untuk membeli tiket pulang menjenguk keluarga yang sudah tiga minggu ditinggalkan… xixixi..

Push to the limitnya lagi adalah tetap menutup mulut meskipun kita memegang segudang keburukan atau aib dari orang-orang terdekat kita , baik saudara maupun rekan sekerja. Lebih baik memilih membicarakan hal lain yang tengah jadi topik hangat tentang kekalahan Manchester United dari Chelsea karena banyaknya blunder dari bek .. 🙂 

Push to the limitnya lagi dan lagi adalah mau menyisihkan bukan hanya sekedar dua setengah persen dari rizki kita untuk disedekahkan dan diamaljariyahkan. sisihkan lebih dari sekedar itu, lima persen, sepuluh persen, atau hingga separuh dari rizki kita untuk kebaikan sedekah dan amal jariyah. Meskipun karena itu kita jadi tidak bisa makan penyetan ayam goreng kampung di warung jawatimuran Ayu Banyuwangi dan hanya sanggup makan penyetan tempe goreng  dan telor dadar goreng.. hehehehe…

Bisakah? mudah-mudahan bisa, karena ada janji reward pahala disana sepanjang kita ikhlas melakukannya.. insya Alloh..

aamiin yang tidak sama panjang

31 Wednesday Oct 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ Leave a comment

Tags

aamiin, Andrea Hirata, Aray, do something different, Ikal, Jimbron, lafaz aamiin, Sang Pemimpi


Masih ingat film Sang Pemimpi yang dibuat berdasar novel Andrea Hirata? aku ingat betul adegan saat Aray , Jimbron dan Ikal ikut dalam barisan shaf sholat di musholla. Saat tiba waktunya para makmum menjawab akhir dibacakannya surah Alfatihah, Aray -dengan tipikal anak-anak seusianya- melantunkan lafaz “aamiin” yang jauh lebih panjang dari makmum yang lain. Lantunan lafaz ini bahkan divisualisasikan membuat sang imam mengernyitkan dahi dan hampir saja menoleh untuk mencari tahu siapa gerangan sang makmum yang melafazkan “aamiin” tidak sama panjang.
Adegan di film Sang Pemimpi itu menurutku sebenarnya terjadi lebih karena sifat iseng Aray yang mungkin berniat “do something different” yang mungkin juga tujuannya bisa membuat Ikal atau bahkan makmum lainnya tersenyum.

Potongan adegan seperti terjadi di film Sang Pemimpi itu, bisa saja  banyak terjadi dalam cuplikan kehidupan. Bahkan mungkin setiap orang pernah mengalaminya, khususnya bagi mereka yang berani tampil dan menunjukkan kalau ia berbeda dengan kebanyakan. Saat dimana seseorang kemudian berani mengungkapkan pendapat yang berbeda atau bahkan sama sekali berbeda, saat itulah ia seolah telah mengucapkan lafaz “aamiin ” yang tidak sama panjang seperti terjadi di adegan film Sang Pemimpi. Saat itulah bisa saja orang lain menertawakannya, mencibirnya, memandang sinis kepadanya, atau bahkan memarahi dan memusuhinya. 
Dalam kaidah sebenarnya, menurutku juga, apa yang dilakukan oleh Aray adalah kurang tepat. Semestinya ia bisa memilih media lain untuk eksis dengan keperbedaannya atau sekedar keisengannya. Tapi, aku juga mafhum bahwa Aray masih anak kecil yang masih banyak membutuhkan bimbingan bagaimana semestinya ia selaku makmum membantu membuat suasana sholat yang khusyuk bagi segenap jamaah, bukan malah sebaliknya.
Menjadi “berbeda” – seolah seperti melantunkan lafaz “aamiin ” yang tidak sama panjang seperti dalam adegan film Sang Pemimpi – seyogyanya ditempatkan dalam situasi yang tepat dan on the track. Menjadi berbeda dalam sebuah lingkungan yang memaksa kita menjadi pusat perhatian, seyogyanya tetap dalam kondisi dimana keperbedaan itu akan menjadi panutan dan terjangkau oleh segenap pemerhati dan tidak menjadikan kita seolah berdiri diatas menara gading.
Betapa sesungguhnya dengan mengangkat tema cerita atas apa yang dilakukan oleh Aray, semestinya ada keberlanjutan yang kongkrit dengan memberikan pemahaman bahwa tindakan berbeda yang dilakukannya adalah kurang tepat dan bukan pada tempatnya. Semestinya sebagai seorang makmum, Aray harus “sama” dengan makmum lainnya dalam melafazkan “aamiin” . 

today is the great day to learn something new

30 Tuesday Oct 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ Leave a comment

Tags

angkatan 162, diklatpim 4 angkatan 162, jurangmangu, kementerian keuangan, reformasi birokrasi


Rangkaian kata-kata motivasi itu meluncur dengan fasihnya dari pimpinan tertinggi di lembaga diklat pengembangan sumber daya manusia dimana saat itu aku sedang mengikuti kegiatan didalamnya. Bapak  Safuadi, demikian namanya, ada di pagi itu untuk memberikan sambutan pembukaan yang sedianya sederhana saja, tapi kenyataannya tidak. Waktu yang mestinya mempunyai porsi sebagai “sambutan” yang umumnya berdurasi sepuluh sampai limabelas menit, berubah menjadi satu sampai dua jam.  Tapi “sambutan” pagi itu berubah  menjadi acara “cuci otak” sebelum kami, segenap peserta diklat memulai rangkaian hari panjang selama 41 hari di lembaga diklat ini.

Pagi itu, beliau banyak memberikan induksi positif yang seolah memompa motivasi segenap peserta diklat. Motivasi yang meskipun beragam dari tempat keberangkatan masing-masing peserta diklat, dari ujung barat indonesia, sampai ujung timur indonesia, namun harus disatukan dalam satu tekad bulat bahwa kedatangan kami di Jurangmangu adalah untuk menimba ilmu ( dengan bonus rekreasi dan bertemu keluarga dibiayai dinas tentunya ). Ilmu yang sedianya mudah-mudahan akan bermanfaat bagi kami , segenap pegawai Kementerian Keuangan yang tengah menjadi leader dari reformasi birokrasi.
Pagi itu banyak induksi positif yang disampaikan pak Safuadi kepada kami, para peserta diklat.  Dan salah satu induksi positif itu adalah kemauan kita untuk senantiasa belajar dan memberikan anggapan bahwa hari ini adalah hari terbaik yang kita punya untuk selalu belajar atas sesuatu yang baru,  today is a great day to learn something new.

Kata–katamotivasi itu disampaikannya lagi kepada kami di saat penutupan diklat dengan ditambahkannya “hutang” kepada kami segenap peserta diklat. Hutang itu adalah untuk belajar lagi ke jenjang / strata yang lebih tinggi dari yang saat ini kami pegang. Hutang yang menurut pemikiran kami sedianya, “buat apalagi kami mengejar pendidikan yang lebih tinggi lagi?”. Ternyata tidak demikian menurut beliau, karena apa yang kita dapat saat ini mungkin bukan untuk kita, tapi bagi anak kita, keponakan-keponakan kita, ataupun sepupu-sepupu kita.  Semestinya kita membiarkan mereka termotivasi dengan pencapaian kita.

Pagi itu, setelah selama menempuh enam minggu pendidikan di medan diklat dimana aku dulu diterima sebagai pegawai Kementerian Keuangan,  di Jurangmangu, ada harapan besar yang dibebankan di pundak kami, para peserta diklat kepemimpinan tingkat empat angkatan 162. Beban dan amanah yang mesti kami laksanakan di tempat kerja masing-masing  untuk juga selalu memberikan induksi postif kepada segenap rekan kerja dan bawahan. Sekali lagi muaranya adalah keberhasilan kepeloporan Kementerian Keuangan dalam mengarungi reformasi birokrasi yang meskipun terkadang menemui onak dan duri dalam perjalanannya, mudah-mudahan akan berhasil dan menjadikan Indonesia lebih baik.

Semoga.

dimanakah pintu langit?

30 Tuesday Oct 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ Leave a comment

Tags

1433, kalimantan, ramadhan, ramadhan 1433


Suatu malam di bulan mulia, ramadhan 1433H, bulan penuh rahmat dan ampunan, aku tidak bisa khusyuk bermunajat dalam do’ a setelah sholat fardhu isya’. Penyebabnya adalah berkecamuknya perasaan dalam hati karena ini adalah kali kesekian dari serangkaian ramadhan dalam hidupku yang tidak bisa aku manfaatkan dengan baik.  Artinya juga ini adalah ketidakkhusyu’anku yang kesekian kalinya di hari-hari di sepanjang ramadhan ini, khususnya di 1433 hijriah, saat aku menjalani ramadhan pertama di tanah Kalimantan.  Ya, ini adalah ramadhanku yang pertama di tanah Kalimantan setelah kedatanganku di pulau terluas di indonesia ini pada pertengahan desember 2011.
Malam itu sebenarnya adalah malam yang umum diketahui oleh segenap kaum muslimin sebagai malam menjelang akhir ramadhan yang semestinya aku bisa khusyuk memburu turunnya lailatul qadr.  Aku tidak memburu dan  tidak menyambut turunnya ribuan malaikat Alloh mencari hamba-Nya yang berharap berkah dimana hitungan amal berlipat selaksa menjadi seribu bulan, khoirummin ‘alfi syahri.  Aku tidak memburu turunnya rahmat saat terbukanya pintu langit menerima semua do’a dari ummat-Nya yang dengan khusyuk dan sungguh-sungguh memohon.  Aku juga tidak memburunya dan memilih “hanya” berdiam diri di kamar rumah dinasku.
Di malam itu , aku membutuhkan uluran tangan yang sanggup menarikku dan menyemangatiku untuk bangkit dan beranjak melangkahkan kaki ke masjid. Disaat seperti itulah aku membutuhkan kedua anakku yang alhamdulillah akan selalu menjadi penyemangat ibadahku.
Aku telah melewatkan malam-malam dimana pintu langit terbuka. Aku menyia-nyiakannya dan tidak menyambut turunnya keutamaan-keutamaan yang berakhir di saat fajar menjelang  padahal kesempatan itu belum tentu bisa aku  temui lagi di tahun mendatang. Artinya aku harus menunggu datangnya saat seperti itu di sebelas bulan mendatang.  Artinya juga di sebelas bulan sisanya menunggu ramadhan di tahun mendatang itu aku harus mencari-cari dimanakah pintu langit yang terbuka dan rangkaian do’a serta amalku disambut hangat tangan-tangan malaikat.
Di sebelas bulan setelah bulan ramadhan itu aku harus menggantinya dengan berdiri dan bermunajat dengan harapan pintu langit akan terbuka dan segala do’aku didengar dan disambut oleh Alloh.. aamiin..

pagi ini aku rindu padamu

26 Wednesday Sep 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ 1 Comment


pagi ini, tidak seperti pagi kemarin
pagi ini aku begitu merinduimu
aku terbayang teduh tatapan matamu
pagi ini aku hanya bisa menyentuh fotomu

pagi ini aku lihat langit begitu murung
mungkin ia merasakan rindu yang sama denganku
aku lihat pohon juga tertunduk lesu
rasanya ia juga ingin berbagi empati denganku

pagi ini hanya bisa kupanjatkan doa untukmu
doa khusus yang rasanya tidak sama seperti hari lalu
yang biasanya juga aku panjatkan
disaat usai sujud subuh di musholla pagi itu

pagi ini aku begitu merinduimu, ibu
pagi ini aku juga begitu mendamba nasehatmu, bapak
nasehat yang akan aku simpan sebagai bekal 
saat aku akan mendidik anak-anakku seperti caramu

bolehkah aku menyesali waktu yang telah lalu
 kenapa tidak senantiasa berada di dekatmu
saat dimana sesungguhnya aku begitu membutuhkan
sajian tulus terbalut doa dalam setiap petuahmu

pagi ini aku berdoa lebih khusyuk  daripada hari lalu
rasanya inipun tidak setimpal dengan yang aku terima darimu
tapi hanya ini yang bisa aku berikan sebagai tanda baktiku
atas segala yang telah kalian berikan kepadaku, anakmu

← Older posts
Newer posts →

Recent Posts

  • Klaster Asli
  • Tapak Tuan
  • Omah Cilik
  • tugas baru
  • Poluan

Recent Comments

Anwar Hidayat's avatarAnwar Hidayat on tugas baru
slametsukanto's avatarslametsukanto on Gedung Negara
Shinta's avatarShinta on Gedung Negara
slametsukanto's avatarslametsukanto on sei bati, bandara perintis di…
RHA Airport's avatarRHA Airport on sei bati, bandara perintis di…

Archives

  • November 2025
  • July 2024
  • June 2017
  • October 2016
  • June 2016
  • March 2016
  • February 2016
  • January 2016
  • November 2015
  • March 2015
  • January 2015
  • December 2014
  • March 2014
  • January 2014
  • December 2013
  • September 2013
  • July 2013
  • June 2013
  • May 2013
  • March 2013
  • January 2013
  • November 2012
  • October 2012
  • September 2012
  • August 2012
  • July 2012
  • June 2012
  • April 2012
  • March 2012
  • February 2012
  • January 2012

Categories

  • gawean
  • jalan-jalan
  • kontemplasi

Blog Stats

  • 29,333 hits
//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Blogs I Follow

  • Catatan Anak Bangsa
  • Kumpulan Tulisan El
  • Dinnar Homestay Surabaya Indonesia
  • pelangi.kata
  • Tulisan ringan alumni STAN
  • Aku Yang Berlumur Dosa
  • santo for mitsubishi bintaro
  • Tamar Devils_Manchunian
  • ummulnurien.com
  • cerita anwar
  • padmanaba
  • erliharyanto
  • Memento
  • Look, Think and Write
  • kotakpermen.wordpress.com/
  • beautifulhello.wordpress.com/
  • website situnis
  • Lambangsarib's Blog
  • kembalikan, kampung halamanku
  • RISTEK FT UNNES

tulisan saya

kunjungan

  • 29,333 hits

lima terbaru

  • Klaster Asli
  • Tapak Tuan
  • Omah Cilik
  • tugas baru
  • Poluan

Create a free website or blog at WordPress.com.

Catatan Anak Bangsa

raga pasti mati, tulisan mungkin abadi

Kumpulan Tulisan El

Selalu ada Petunjuk, Untuk Kemudahan

Dinnar Homestay Surabaya Indonesia

Penginapan sederhana berfasilitas bintang lima, Lokasi di Surabaya Selatan, dekat dengan Masjid Al-Akbar Surabaya.

pelangi.kata

saat goresan kata menciptakan warna ide yang nyata..

Tulisan ringan alumni STAN

mengikat ilmu dengan menuliskannya...

Aku Yang Berlumur Dosa

kusadar hidup ini hanya sebentar...dan kubersyukur hari ini masih mendapat kasih sayang...

santo for mitsubishi bintaro

The greatest WordPress.com site in all the land!

Tamar Devils_Manchunian

Hidup lebih baik saling berbagi ilmu untuk meraih kesuksesan

ummulnurien.com

cerita anwar

Just another WordPress.com weblog

padmanaba

erliharyanto

Ya Allah, tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus

Memento

- memento mori, memento vivere -

Look, Think and Write

kotakpermen.wordpress.com/

beautifulhello.wordpress.com/

website situnis

travelling

Lambangsarib's Blog

Catatan Orang Biasa

kembalikan, kampung halamanku

tentang kampung, tentang halaman, tentang apapun

RISTEK FT UNNES

Kerohanian Islam Teknik

Privacy & Cookies: This site uses cookies. By continuing to use this website, you agree to their use.
To find out more, including how to control cookies, see here: Cookie Policy
  • Subscribe Subscribed
    • slametsukanto
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • slametsukanto
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar