dimanakah pintu langit?

Tags

, , ,


Suatu malam di bulan mulia, ramadhan 1433H, bulan penuh rahmat dan ampunan, aku tidak bisa khusyuk bermunajat dalam do’ a setelah sholat fardhu isya’. Penyebabnya adalah berkecamuknya perasaan dalam hati karena ini adalah kali kesekian dari serangkaian ramadhan dalam hidupku yang tidak bisa aku manfaatkan dengan baik.  Artinya juga ini adalah ketidakkhusyu’anku yang kesekian kalinya di hari-hari di sepanjang ramadhan ini, khususnya di 1433 hijriah, saat aku menjalani ramadhan pertama di tanah Kalimantan.  Ya, ini adalah ramadhanku yang pertama di tanah Kalimantan setelah kedatanganku di pulau terluas di indonesia ini pada pertengahan desember 2011.
Malam itu sebenarnya adalah malam yang umum diketahui oleh segenap kaum muslimin sebagai malam menjelang akhir ramadhan yang semestinya aku bisa khusyuk memburu turunnya lailatul qadr.  Aku tidak memburu dan  tidak menyambut turunnya ribuan malaikat Alloh mencari hamba-Nya yang berharap berkah dimana hitungan amal berlipat selaksa menjadi seribu bulan, khoirummin ‘alfi syahri.  Aku tidak memburu turunnya rahmat saat terbukanya pintu langit menerima semua do’a dari ummat-Nya yang dengan khusyuk dan sungguh-sungguh memohon.  Aku juga tidak memburunya dan memilih “hanya” berdiam diri di kamar rumah dinasku.
Di malam itu , aku membutuhkan uluran tangan yang sanggup menarikku dan menyemangatiku untuk bangkit dan beranjak melangkahkan kaki ke masjid. Disaat seperti itulah aku membutuhkan kedua anakku yang alhamdulillah akan selalu menjadi penyemangat ibadahku.
Aku telah melewatkan malam-malam dimana pintu langit terbuka. Aku menyia-nyiakannya dan tidak menyambut turunnya keutamaan-keutamaan yang berakhir di saat fajar menjelang  padahal kesempatan itu belum tentu bisa aku  temui lagi di tahun mendatang. Artinya aku harus menunggu datangnya saat seperti itu di sebelas bulan mendatang.  Artinya juga di sebelas bulan sisanya menunggu ramadhan di tahun mendatang itu aku harus mencari-cari dimanakah pintu langit yang terbuka dan rangkaian do’a serta amalku disambut hangat tangan-tangan malaikat.
Di sebelas bulan setelah bulan ramadhan itu aku harus menggantinya dengan berdiri dan bermunajat dengan harapan pintu langit akan terbuka dan segala do’aku didengar dan disambut oleh Alloh.. aamiin..

pagi ini aku rindu padamu


pagi ini, tidak seperti pagi kemarin
pagi ini aku begitu merinduimu
aku terbayang teduh tatapan matamu
pagi ini aku hanya bisa menyentuh fotomu

pagi ini aku lihat langit begitu murung
mungkin ia merasakan rindu yang sama denganku
aku lihat pohon juga tertunduk lesu
rasanya ia juga ingin berbagi empati denganku

pagi ini hanya bisa kupanjatkan doa untukmu
doa khusus yang rasanya tidak sama seperti hari lalu
yang biasanya juga aku panjatkan
disaat usai sujud subuh di musholla pagi itu

pagi ini aku begitu merinduimu, ibu
pagi ini aku juga begitu mendamba nasehatmu, bapak
nasehat yang akan aku simpan sebagai bekal 
saat aku akan mendidik anak-anakku seperti caramu

bolehkah aku menyesali waktu yang telah lalu
 kenapa tidak senantiasa berada di dekatmu
saat dimana sesungguhnya aku begitu membutuhkan
sajian tulus terbalut doa dalam setiap petuahmu

pagi ini aku berdoa lebih khusyuk  daripada hari lalu
rasanya inipun tidak setimpal dengan yang aku terima darimu
tapi hanya ini yang bisa aku berikan sebagai tanda baktiku
atas segala yang telah kalian berikan kepadaku, anakmu

quality meeting

Tags

, , , ,


“flight attendant, door close, slide bar and cross check” demikian aba-aba yang disampaikan oleh pilot lewat speaker di ruang kabin pesawat setelah didahului dengan nada tone single berbunyi “tut”.  Aba-aba itu tentu saja ditujukan kepada segenap flight attendant atau pramugari pesawat setelah pilot mendapatkan laporan final terhadap keseluruhan kondisi pesawat termasuk diantaranya jumlah penumpang. Aba-aba inilah yang aku tunggu di trip perjalananku kali ini dari Jakarta ke Batam menuju Tanjung Uban, dimana keluarga, anak dan istriku tinggal. Aku harus  menempuh perjalanan ini di hari sabtu dimana aku seharusnya masih ada di kelas. 
Perjalananku ke cengkareng menuju penerbangan ini, aku diantar oleh seorang teman yang belum lama kenal. Dia heran dan menyampaikan pertanyaan, kenapa harus pulang sementara hari minggu aku harus kembali. Pertanyaan klasik yang terlontar adalah, “apa ada keperluan penting pak?”. Aku hanya tersenyum dan menjawab ringan, “setiap pertemuan dengan keluarga, anak istriku adalah keperluan penting mas..”, dan dengan tidak membantah ia mengamininya.
Sepanjang perjalananku ke arah bandar udara Cengkareng itu kemudian aku penuhi cerita bahwa betapa banyak juga ayah-ayah lain yang senasib denganku. Yang hanya punya waktu satu atau dua hari berkumpul bersama anak istrinya setelah seminggu atau dua minggu atau bahkan tiga minggu terpisah. Aku juga sadar, bahwa kami , ayah-ayah yang terpisah dari anak istri ini harus memiliki kesiapan yang cukup moril dan materiil, dan rasanya sudah banyak ceritaku di note-note sebelumnya di blog ini yang kalau diceritakan lagi bisa membosankan.. 🙂 . Tapi di perjalanan ini aku mendapatkan pelajaran penting dari teman yang belum lama aku kenal ini. Pelajaran itu adalah kesepahamannya bahwa bagian terpenting dari seluruh rangkaian kesibukan kami, para ayah yang “terpaksa” jauh dari anak istri, tentang quality meeting. Yup, meskipun hanya satu hari satu malam, asal pertemuan dengan anak istri ini berkualitas, jauh lebih penting daripada bertatap muka setiap hari tapi ayah tidak tahu apa-apa tentang perkembangan anak dan aktifitas istrinya. Mudah-mudahan ini bukan sekedar dalil pembenar kami para ayah yang terlalu sering meninggalkan anak istrinya demi sebuah tuntutan tugas dan pekerjaan. Niat kami tentu saja mulia, memberi nafkah yang baik kepada anak istri kami, meskipun “terpaksa” harus berjauhan dengan mereka.
Mudah-mudahan, dengan niatan ibadah, keadaan apapun yang membuat kami berada dalam kondisi seperti ini selalu mendapatkan ridho-Nya.. aamiin..

Tuhan, aku mau bercanda dengan-Mu


    Tuhan, semua adalah milik-Mu
    yang ada di kolong langitpun adalah kepunyaan-Mu
    yang terkandung didalam bumi pun ada dalam genggaman-Mu
    tidak ada satupun yang luput dari perhatian-Mu

    Tuhan, karena kami ada dalam kekuasaan-Mu
    rasanya tidak ada keberanian sedikitpun bagi kami
    untuk menengadahkan muka menatap-Mu
    apalagi membusungkan dada menantang-Mu

    Tuhan, kami adalah mahluk ciptaan-Mu
    sudah seharusnya akan selalu membutuhkan-Mu
    penghambaan kepada-Mu adalah urat nadi kami
    sewajarnya juga sering kami menangis merindu sentuhan-Mu

    Tuhan, kami tidak pernah takut kepada-Mu
    karena kami tahu Maha Rahim-Mu
    meskipun kami juga tetap saja menangis berlinang air mata 
    ketika kami membayangkan murka dan siksa neraka-Mu

    Tuhan, bisakah kami bercanda dengan-Mu?
    karena kami selalu ingin tetap bisa tersenyum
    meskipun kami tetap saja akan murung 
    melihat banyak ancaman siksa di kitab-Mu

    Tuhan, aku mau bersendagurau dengan-Mu
    untuk kami mengawali hari dengan indah dibawah lindungan-Mu
    biarkan kami bisa tetap tersenyum di tengah kerasnya hidup
    walaupun kami akan tetap menangis di tengah sujud menghadap-Mu

    Tuhan, aku mahluk-Mu yang tidak pernah berbagi  ceria dan gembira 
    dan hanya berkirim keluhan, pinta, dan curahan air mata
    karenanya, ijinkanlah aku bercanda dan tertawa dengan-Mu
    sekedar berbagi bahagia atas segala nikmat dan anugerah-Mu

puisi untukmu, ibu


catatan saya ini catatan titipan dari seorang sahabat yang ingin mengungkapkan perasaan bangga dan kagum terhadap ayahanda tercintanya. Sahabatku ini terinspirasi oleh tulisan saya di blog yang berjudul aku selalu butuh ridhomu.
“Bapak”, demikian sahabat saya biasa memanggil ayahandanya, “adalah sosok yang luar biasa taat kepada Ibu”. Ibu yang dimaksud adalah nenek sahabat saya . “Saat bapak ditakdirkan oleh Alloh untuk menjadi yatim diusianya yang menginjak tahun ke-empat, di saat itulah Ibu menjadi panutan hidupnya”.
Tidak ada warisan berlimpah yang ditinggalkan almarhum ayahandanya saat itu. Hanya seorang ibu yang menyandang status janda miskin saja yang kemudian mendampinginya mengarungi kerasnya kehidupan. Betapa kondisi serba kekurangan bahkan memaksanya untuk mengikuti sunnah rasul Ibrahim dengan berkhitan secara massal. Kondisi demikian pula yang memaksanya menumpangkan namanya tercantum namanya di KK tetangga untuk sekedar bisa didaftarkan di sekolah dasar.
“Bapak tidak pernah membantah satu katapun apa yang dikatakan ibunya”, demikian sahabat saya berucap. Pernah di suatu waktu, saat ia masih SD, ia telah berniat membeli minyak rambut pomade yang sudah habis (untuk urusan rambut, ia memang selalu ingin tampil wellgroomed..) sepulang sekolah. Niatnya, sebenarnya mudah terlaksana dan memang lokasi dimana toko yang akan disambanginya untuk membeli pomade ini searah dengan perjalanannya pulang dari sekolah ke rumah. Akan tetapi karena di awal keberangkatannya, ibu telah berpesan untuk tidak mampir-mampir sepulang sekolah, maka niat membeli pomade itu pun diurungkan dan dibatalkannya hingga hari dimana ibu mengijinkannya membeli. Tentu saja dengan konsekuensi jeda waktu dimana ia terpaksa menikmati kondisi rambut yang tidak bisa rapi sebagaimana biasanya.
Suatu ketika juga, sebagaimana rutin dilakukannya setiap hari, ia bangun dari tidurnya untuk menunaikan sholat tahajud dengan didahului mandi. Selesai mandi, ia bersegera menggelar sajadah untuk sholat tahajud. Di saat itu, ibu juga terbangun dan meminta kepadanya untuk menunda sholat tahajudnya dan melanjutkan tidur. Ia menuruti apa yang diminta ibu dengan merebahkan kembali tubuh di atas sajadah dengan kondisi badan yang sebenarnya sudah segar karena telah dibasuh air mandi . Tidak lama, mungkin karena Ibu melihat anaknya ini tidak benar-benar bisa tidur, ibu meminta ia melanjutkan sholat tahajudnya.
“Masih banyak cerita lain tentang betapa taatnya Bapak kepada Ibunya”, demikian kata sahabatku. Bahkan disaat usianya kini telah menginjak tahun ke 67 , ia masih demikian adanya. Tidak pernah berkata tidak apa yang menjadi perintah dan permintaan ibunya.
“Betapa agungnya Ibu dimata Bapak”, hingga terciptalah sebuah puisi :

IBU …
tak ada yang dapat kukatakan kepadamu, selain untaian terimakasih yang tiada tara, untuk segala kasih dan pengorbananmu…
Semoga …
Allah selalu memberiku kesempatan dan menyadarkanku akan kesempatan itu,
untuk sedikit mewujudkan mimpimu atas diriku sebagai ucapan terimakasihku,
walau seandainyapun kuwujudkan semua mimpimu atasku, tak akan mampu menebus semua pengorbananmu,
Namun setidaknya ada yg bisa kulakukan untuk sedikit menebus air mata yang selalu mengalir mengiringi doa panjangmu untuk kami,
Doa panjang yang kau panjatkan pada ILLAHI RABBI saat kami sedang terlelap dalam indahnya mimpi,
doa yang tiada lelah selalu engkau sertakan dalam setiap langkah kami,
doa yang selalu dan akan selalu menjadi sumber kekuatan kami,
doa yang kadang tak pernah kami sadari sebagai harapan kecil darimu untuk kami,
harapan yang tak pernah engkau katakan dan kadang harus terabaiakan karena engkau tak ingin membebani langkah putra putrimu dengan sedikit harapanmu,
Maafkan kami yang tanpa sadar mungkin telah merenggut sebagian dari mimpimu,

IBU betapa mulianya dirimu…
Maafkan kami yang kadang tak mengerti akan kata hatimu,
harapan kecilmu, dan sedikit impianmu atas kami,
Dalam diammu semakin kumenyadari, bahwa belum ada yg bisa kami lakukan untuk membahagiakanmu IBU …
Namun kami selalu memohon,
Semoga Allah memberi kami banyak kesempatan untuk memberikan kebanggaan kepadamu IBU …
Kebangaan yang akan menghadirkan senyum manismu,
senyuman yg ketika merekah hangatnya melebihi sinar mentari pagi,
Senyuman yang mampu membuat kami seolah tak memerlukan apa-apa lagi di dunia ini,
Senyummu IBU penerang jalan kami,
ridhomu IBU permudah langkah kami.

Semoga suatu saat ada yang bisa lakukan umtukmu, sehingga engkau bangga menyebut kami anakmu, seperti bangganya kami, menyebut engkau ,sang malaikat kami di bumi, IBU …
sang surya kami …

I LOVE U So much …
IBU …

(tribute untuk sahabatku fhierda, maaf jika kurang berkenan)

waktu


apa yang terjadi kepadaku saat ini?
rasanya hanya membuang-buang waktu saja
padahal ia tidak bisa kembali
ia hanya menguap begitu saja

apa yang membuatku seperti ini?
rasanya seperti tidak berdaya
hanya mengisi hari dengan hal yang sia-sia
dan waktupun menguap begitu saja

apa yang bisa menggugahku dari keadaan ini?
rasanya ingin ada yang meraih tanganku
mengajakku memanfaatkan luangnya waktu
agar ia tigak menguap dan berlalu begitu saja

apa yang aku rasakan saat ini?
rasanya hanya gundah gulana didalam hati
memandang kosong di ujung malam hingga pagi menjelang
dan di hari itu waktu terbuang tanpa sisa menguap begitu saja

Tuhan, bantu aku tetap terjaga
agar aku tidak terlena dan membuang waktu dalam hampa
aku ingin Engkau selalu mengingatkanku
betapa berharganya waktu, sayang jika dibuang percuma
dan menguap begitu saja

berdamai dengan waktu

Tags

, , ,


Suatu malam, karena banyaknya waktu luang yang ada, aku mengisinya dengan membuat note di ipad.  Sementara ini sudah ada tigapuluh tulisan lebih yang berisi segala hal, mulai dari kisah tentang pekerjaan, suasana hati, perjalanan atau sekedar permainan pikiran. Tidak ada yang aku rekayasa dari semua tulisan itu, murni apa adanya.. hehehehe..

Tema awal dari rangkaian menulis ini adalah dalam rangka mengisi waktu. Ya, waktu yang sebagaimana aku sampaikan di awal tadi, banyak tersedia disepanjang hari selama penempatan dinasku di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur dimana  hitungan saat aku membuat tulisan ini adalah memasuki bulan kesembilan.

Ketersediaan waktu jugalah yang memaksa aku harus mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat, dimana pilihanku jatuh kepada dua kegiatan yaitu menulis dan berolahraga, futsal dan bulutangkis. Satu cabang olahraga lagi , bola volley sedang dalam tahap membangun team dan melatih pemain mendatangkan pelatih lokal dengan harapan akhir tahun ini menjelang Hari Keuangan bisa tampil dalam kompetisi. Semua itu bermuara satu hal, membuat aku tenggelam dalam kesibukan alias menyibukkan diri, dan tidak merasakan pergeseran waktu. Rasanya setiap minggu menunggu kapan datangnya saat bermain badminton, kapan datangnya saat bermain futsal dan kapan datangnya saat melihat anggota aku berlatih bola volley. Terus begitu setiap minggu hingga sampai di bulan ke sembilan ini.

Tapi  tetap saja, waktu, adalah musuhku disaat malam menjelang tidur tapi dihinggapi rindu yang sangat kepada keluarga nun jauh disana. Rasanya tetap saja tidak puas mendengar suara mereka, chat lewat bbm atau melihat foto terkini yang mereka kirim. Rasanya tetap saja aku pengen ada di sisi mereka. hiks..

Waktu juga menjadi musuhku di hari minggu dan hari libur lainnya dimana biasanya seorang ayah menghabiskan waktu liburnya bersama keluarga, sedangkan aku tidak. Aku disini, di Sampit, pulau Kalimantan, mereka, anak istriku, di Bintan (tapi mungkin juga lain rasanya seandainya hari minggu atau hari libur itu aku jalani di Surabaya dimana tersedia banyak mall dan tempat yang bisa dikunjungi untuk menghibur diri…hehehe..)

Waktu, rasanya cepat sekali disaat aku diberi kesempatan menemui keluarga. Rasanya ingin disaat aku bersama keluarga, waktu di freeze atau minimal dibuat slow motion.
Waktu, adalah relatif..  Ia akan menjadi sama sekali tidak bersahabat manakala kita menungguinya, dan akan terasa sangaaaaat lama. Ia juga tetap saja tidak bersahabat dan menjadi seolah-olah di- fast forward manakala kita  mengharapkannya lebih dari sekedar 24 jam sehari.

Kini aku, dan mudah-mudahan teman-teman lain yang mungkin senasib dengan aku di seluruh wilayah Indonesia yang sedang dalam masa penempatan dan terpisah dengan keluarga, harus berdamai dengan waktu. Rasanya ia tidak mungkin kita lawan karena sebenarnya juga ia berada didalam rasa di hati kita sendiri dan relatif.

Mudah-mudahan waktu, yang relatif ini, tidak membuat kita menjadi rugi, sebagaimana diwahyukan dalam Kitabulloh, karenanya  kita mesti mengisinya dengan berbuat baik dan menjadi rahmatan lil’alamiin.. aamiin..

Tjilik Riwut JT671

Tags

, , , , , , , , , , , , , ,


Dinihari itu aku terbangun dan terlihat jam menunjuk pukul 01:00 WIB. Segera aku bergegas ke kamar mandi dan membasuh muka dengan berwudhu, kubuka lembar sajadah indah , pemberian teman yang ia belikan sebagai oleh-oleh sewaktu umrah , dan mengangkat tangan mengucap takbir mengawali sholat. Dua rokaat aku selesaikan, kulirik jam dan telah menunjuk pukul 01:15 WIB, atau lima belas menit lagi menjelang kedatangan travel yang akan membawaku ke Palangkaraya. Ya, pagi ini aku mesti berangkat dinihari kesana untuk naik pesawat di Bandara Tjilik Riwut pukul 06:50 WIB . Rute penerbangan lewat Palangkaraya ini terpaksa aku tempuh karena connecting dengan penerbangan lanjutannya ke Batam di hari yang sama. bisa saja aku mengambil penerbangan lewat Sampit dengan Kalstar, tapi mesti nginep dulu di jakarta untuk bisa berangkat keesokan paginya ke Batam. Atau bisa juga berangkat dari Sampit ke Surabaya dengan Merpati , tapi sama juga, mesti nginep dulu sebelum keesokan paginya terbang ke Batam. Lumayan repot.. hihihi.. makanya aku pilih rute Palangkaraya – Jakarta – Batam yang connect di hari yang sama, lebih praktis menurutku.
Tepat pukul 01:30 WIB, hp-ku berdering dan ketika kuangkat terdengar suara laki-laki yang tidak lain adalah sopir travel yang akan menjemputku. Tidak lama, setelah sepuluh menit dari pembicaraan melalui telpon tadi , mobil travel innova itu sudah ada di jalan depan rumah, jalan HM Arsyad, tepat di depan Pengadilan Negeri Sampit, dan setelah aku letakkan tas di bagasi, kami berangkat menjemput penumpang travel lain. Tepat pukul 02:00 WIB, kami meninggalkan Sampit menuju Palangkaraya dengan muatan sebanyak empat orang, aku duduk di depan, dua penumpang lainnya duduk di tengah dan satu orang duduk di bangku paling belakang. Kami sama-sama calon penumpang penerbangan melalui Bandara Tjilik Riwut di Palangkaraya. Perjalanan empat jam ini harus ditempuh dengan perkiraan waktu tiba tepat di Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya sekitar pukul 06:00 WIB. Dari waktu tempuh empat jam ini, kami berhenti sekali di kilometer 98 atau lebih kurang di separuh perjalanan. Tempat istirahat atau pemberhentian ini berupa sebuah warung yang lumayan komplit yang beberapa kali aku menjalani trip ini selalu ditunggu oleh seorang anak perempuan keturunan suku banjar. Di warung yang juga jadi tempat istirahat truk bermuatan barang dari Banjarmasin untuk tujuan Sampit ini aku bisa meminum segelas coffeemix dan menjalankan sholat subuh.
Tepat pukul 06:00 WIB saya sampai di Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya dan langsung menuju konter check-in Lion Air. Dari pengamatanku beberapa kali menempuh rute ini, penerbangan Lion Air rute Palangkaraya – Jakarta ini lumayan juga jumlah penumpangnya dan menurut hitunganku hampir selalu dalam kondisi 90% kursi boeing 737-900ER terisi. Salah satu alasannya menurutku karena tidak ada delay atas rute penerbangan ini karena pesawat standby di bandara.
Sekedar menggambarkan Bandara Tjilik Riwut, namanya diambil dari Gubernur Kalimantan Tengah pertama, seorang putra daerah asli Kalimantan bersuku Dayak. Bandara ini sebagaimana bandara lain di indonesia yang sebenarnya adalah pangkalan TNI AU, terletak di arah luar kota Palangkaraya arah Banjarmasin. Tataruang untuk memasuki areal atau kawasan bandara ini tertata rapi dengan akses masuk berupa jalan besar yang dipisahkan oleh taman di tengahnya. Bangunan bandara sendiri menyerupai rumah adat dayak atau sering dinamakan betang, dengan ornamen tameng di hampir seluruh tiang penyangga bangunan bandara bagian luarnya.
Setelah boarding, aku segera menuju ke warung yang ada di sudut ruangan sebelum ruang tunggu dan meminta untuk dibuatkan segelas energen cereal rasa coklat untuk sekedar mengisi perut pengganti sarapan sebelum limabelas menit kemudian memasuki ruang tunggu untuk boarding.
Dan tepat sesuai jadwal penerbangan, pesawat Lion Air JT 671 yang aku tumpangi berangkat ke jakarta. Di cengkareng selanjutnya aku melapor ke bagian transit dan menunggu jadwal keberangkatan pesawat selanjutnya ke Batam untuk kemudian ke Tanjung Uban, Bintan. Bersyukurnya aku di rute penerbangan ini, kadang aku bisa bertemu dengan teman dan sahabat yang bersedia meluangkan waktu menemaniku menunggu saat terbang ke Batam.
Keseluruhan waktu yang mesti aku tempuh dalam rangka kepulangan menuju rumah ini kurang lebih empatbelas jam, sebuah hitungan waktu yang cukup lama yang disebabkan dua kali penerbangan, tiga moda transportasi ( darat, laut dan udara ) dan melewati dua pulau besar ( Kalimantan dan Jawa ) dan dua pulau kecil ( Batam dan Bintan ). Mudah-mudahan selama aku menjalani rute perjalanan ini senantiasa mendapat perlindungan Alloh subhanahu wata’alaa.. aamiin..

melihatmu tumbuh


Nak, usiamu sekarang sudah lewat empatbelas tahun, usia yang sebagian besar terpaksa kamu lewati tanpa kehadiran papamu secara penuh. Usiamu hanya berbeda tiga tahun dari adikmu yang juga mengalami nasib sama dengan dirimu, tumbuh dengan tanpa kehadiran papamu di setiap harinya.
Empatbelas tahun yang lalu, kami, papa dan mamamu menunggu saat kehadiranmu di klinik sederhana milik Bidan Yeni di Tanjung Uban, Bintan . Sebuah klinik yang menurut kami sudah cukup representatif menyambut kehadiranmu di dunia dengan suara jerit melengking tangismu. Saat yang kami tunggu selama kurang lebih sembilan bulan sepuluh harimu di kandungan mamamu. Sembilan bulan itu pula mamamu selalu mendapat sapaan tentang betapa besarnya kandungan yang berisi dirimu. Sapaan orang- orang itu adalah dari saudara-saudara kita yang setelah dirimu menginjak usia empat belas tahun kini engkau akan memanggilnya sebagai bude, pakde, mbah dan uwak. Orang banyak menyangka betapa besar ukuran kandungan mamamu dan menebak ada anak kembar didalam perut mamamu.
Sepanjang dirimu didalam kandungan itu, kami merasa telah berusaha cukup memenuhimu dengan makanan terbaik yang bisa kami beri. Kamu tahu nak, saat itu kami berikan makanan laut yang segar dan susu terbaik yang bisa kami beri serta makanan lain yang dari situ kami berharap dirimu bisa tumbuh dengan baik dan kelak menjadi pejuang bagi keluarga, bangsa dan agamamu.
Tiga tahun setelah kelahiranmu, di bulan yang sama, bulan Januari, dirimu ikut serta menunggu kelahiran adikmu di sebuah klinik milik dokter spesialis kandungan di Tanjung Pinang, Bintan. Saat itu adikmu lebih beruntung karena bisa ditangani oleh dokter spesialis kandungan, sedangkan dirimu “hanya” ditangani oleh seorang bidan.
Papa dan mamamu tak henti-hentinya bersyukur atas kelahiran kalian yang tidak memaksa kami, orangtuamu, mengeluarkanmu dari rahim mamamu dengan biaya besar melalui operasi cesar seperti beberapa saudaramu yang lain. Kalian terlahir dan hadir di dunia ini dengan proses normal dengan tenaga mamamu dan ditemani papamu disisinya.
Kini engkau telah tumbuh besar seiring perubahan pita suaramu dan tinggi berat badanmu yang telah menyamai tinggi papamu. Kini engkau telah belajar menghadapi beragamnya karakter manusia melalui media organisasi di sekolah , dimana dirimu menerima daulat sebagai ketuanya. Engkau juga belajar bahwa dalam sebuah kompetisi seperti layaknya kehidupan ada kalanya menang dan ada kalanya kalah yang kalian pelajari itu dari kegemaran kalian bersepakbola, sebuah olah raga dimana dirimu memfavoritkan sekali klub asal Inggris, Tottenham Hotspurs. Papa dan mamamu akan selalu setuju dan berusaha memenuhi keinginan kalian sepanjang itu bisa membekalimu meniti kerasnya kehidupanmu kelak dimana kalian berdua terlahir sebagai lelaki, mesti bersiaplah menjadi pemimpin di keluargamu nanti , dimana tugas kami adalah membekalimu dengan ilmu dunia dan ilmu akherat.
Nak, papamu sadar, bahwa disepanjang paruh usiamu, kalian hadir tanpa kehadiran papamu dan melihatmu tumbuh dan hanya ada mamamu yang dengan setia mengurus segala kebutuhanmu. Keadaan ini mesti kita hadapi sebagai sebuah perjuangan dan ujian dari Alloh Subhanahu wata’ala. Tugasmu sekarang, gapailah apa yang menjadi harapan dalam mimpimu setelah kami membekalimu dengan ilmu dunia dan ilmu akhirat. Bukankah engkau pengen sekolah tinggi hingga ke Tootenham Hotspurs dimana klub kesayanganmu berada? Dan adikmu, bukankah ia pengen sekolah ke Manchester dimana Manchester United klub kesayangannya berada? Mimpikanlah itu dan buatlah nyata suatu hari kelak dengan do’a, ikhtiar dan tawakkalmu. Mudah2an, papa dan mamamu bisa melihat kalian tumbuh dan menggapai apa yang diimpikan, aamiin ya robbal’alamiin..

matematika alqur’an


tepat tiga hari kepulangan emak, kami, anak-anaknya yang berjumlah sembilan, berkumpul untuk membicarakan hal-hal yang mendesak diputuskan. hal-hal yang mesti diputuskan malam itu juga karena kesempatan kami bisa berkumpul dalam formasi lengkap adalah langka, bahkan dalam momen lebaran hari raya iedul fitri sekalipun.
tidak ada rasa sedih berlebihan yang terlihat diwajah kami di kesempatan itu. rasa sedih karena kehilangan orang terkasih yang sewajarnya saja yang nampak dari raut muka kami. sisanya adalah RASA BANGGA yang mesti saya tulis dengan huruf besar. ya, rasa bangga itu justru yang akhirnya mendominasi topik pembicaraan kami karena hal-hal mendesak dimusyawarhkan tadi sudah dengan cepat diputuskan bersama. rasa bangga karena kami memiliki orang tua yang luar biasa, tentu saja di mata kami dan versi kami.
kami bersembilan sepakat bahwa manajemen yang orangtua kami terapkan dalam mengelola rumah tangga adalah murni berdasar hitung-hitungan alqur’an, matematika alqur’an. kami semua menyadari bahwa kami dibesarkan tidak dengan limpahan kekayaan materi yang membuat kami bisa melalui jenjang pendidikan diatas rata-rata di lingkungan sekitar kami. kami hanya dibesarkan oleh seorang bapak yang mempunyai profesi tukang batu yang tentu saja tidak memiliki fix income sebagaimana pegawai kantoran. tukang batu yang hanya akan dapat menerima upahnya setelah tetesan keringat telah bercucuran dari sekujur tubuhnya. upah itu bisa harian, mingguan atau borongan tergantung perjanjian yang disepakati dengan pemberi kerja. kondisi ini jugalah yang membuat orangtua kami memutuskan untuk membagi jenjang pendidikan yang lebih tinggi kepada anak laki-lakinya dibanding anak perempuannya. orangtua kami membuat skala prioritas demikian karena anak laki-lakinya akan jadi kepala rumah tangga jika kelak mereka telah memutuskan menikah.
manajemen yang menurut hitungan kami, akan selalu berdampak besar pasak dari tiang,mengingat kami tahu betul berapa nilai rupiah yang yang mengalir ke kantong orangtua kami dan berapa yang mesti dikeluarkannya dalam rangka membiayai kehidupan kami secara keseluruhan. kadang malah pengeluaran yang mesti keluar dalam rangka membiayai pendidikan kami berlipat karena secara bersamaan ada diantara anaknya yang masuk jenjang sekolah yang lebih tinggi. itu menurut hitungan kami, dimana saat itu kebisaan kami hanyalah meminta dan menyampaikan kebutuhan kami yang mesti dipenuhi dalam rangka proses pendidikan. sungguh jahat kami saat itu karena tidak bisa mandiri dan membantu pembiayaan pendidikan yang menjadi beban orangtua kami.
kami juga tahu bahwa kondisi keterpaksaan yang ada memaksa orangtua kami berhutang sementara ke warung tetangga kami untuk kebutuhan dapur. tapi posisi hutang ini akan menjadi skala prioritas orangtua kami untuk melakukan pelunasan hingga sisanya itulah yang bisa kami nikmati sampai ada kelanjutan rizki yang turun di kesempatan berikutnya.
sebuah manajemen yang kadang dengan apa adanya disampaikan bahwa orangtua kami masih senantiasa direpoti oleh anaknya yang telah berkeluarga dan baru belajar membangun dan memanage rumahtangga. bahwa kadang juga dengan keterpaksaan disampaikan bahwa mereka tidak memiliki apa yang dibutuhkan, tapi sesaat hari berikutnya bisa dipenuhinya apa yang menjadi kebutuhan dan diminta oleh anaknya.
kami sepakat bahwa manajemen yang dipakai oleh orangtua kami adalah manajemen alqur’an. sebuah manajemen yang menyerahkan hitung-hitungan mungkin dan tidak mungkinnya dipenuhi kebutuhan keluarga kepada Alloh semata. orangtua kami sadar bahwa tugas mereka hanya bekerja sebisa yang mereka mampu untuk mencukupi kebutuhan kami, sembilan orang anaknya.
jadi, dalam kondisi saat ini, kami anak-anaknya yang jauh lebih baik dari nasib pekerjaan orangtua kami, malu rasanya untuk mengeluh tentang betapa beratnya membiayai sekolah anak-anak kami yang bilangan nominalnya saja paling banyak hanya separoh dari yang orang tua kami tanggung. 
semestinyalah kami tetap berguru kepada guru terdekat kami, orangtua kami dalam menata dan memanage rumah tangga kami melalui manajemen alqur’an.
subhanalloh..