• Perihal

slametsukanto

~ about making ideas happens

slametsukanto

Author Archives: slametsukanto

hangatnya Banjarmasin

17 Friday Feb 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ 2 Comments

Tags

banjarmasin, bus logos, klotok, palangkaraya, pangkalan bun, pasar terapung, perjalanan Sampit ke Banjarmasin, plaza futsal, Pondok Haji Amat, sampit, soto banjar, terminal bus sampit, terminal Patih Rumbih, tim futsal, wisma kencana


Alhamdulillah, edisi eksibisi perdana tim futsal Sampit tanggal 11 Pebruari 2012 bisa berjalan lancar. Eksibisi ini menjadi momen penting bagi segenap pegawai di kantorku. Sebenarnya keberangkatan ini mundur seminggu dari jadwal semula karena sesuatu dan lain hal, lebih kepada kesiapanku yang terlalu mepet.
Surat yang kami layangkan ke Banjarmasin sekitar awal pebruari, bergayungsambut tatkala salah satu utusan dari Banjarmasin menghubungiku dan menanyakan teknis kunjungan.  Selanjutnya komunikasi berjalan lancar hingga saat kami berangkat pada hari Jumat tanggal 10 Pebruari dengan bus Logos yang direncanakan berangkat pada pukul 21:00 dari terminal Patrum ( Patih Rumbih ) Sampit. Bus Logos yang akan kami tumpangi adalah bus dari Pangkalan Bun, dan akhirnya kami mendapatkpan informasi kalau bus direncanakan tiba di Sampit sekitar pukul 23:00 atau dua jam mundur dari jadwal semula. Its no problem buat kami karena jumlah personil sebanyak 12 orang rupanya cukup menghibur untuk bisa bercanda tawa.
Perjalanan Sampit ke Banjarmasin diperkirakan memakan waktu sebelas jam dengan memakan waktu sebentar transit di Palangkaraya. Hal ini yang agak mengecewakan kami, ternyata bus yang kami tumpangi dari Sampit hanya sampai di Palangkaraya untuk selanjutnya kami berganti bus ukuran tigaperempat menuju Banjarmasin. Hugh.. lumayan sempit juga perjalanan Palangkaraya – Banjarmasin dengan bus tigaperempat ini, mana tidak ber-AC lagi.. Tapi alhamdulillah,  yang penting perjalanan berjalan lancar karena semangat kekompakan dan kekeluargaan. Sepanjang perjalanan ada saja hal yang bisa menjadi bahan candaan dan tertawa disamping sisanya dihabiskannya dengan melalangbuana ke pantai kapuk, alias molor.. hahaha…
Sekitar jam 11 siang, kami sampai di Banjarmasin dan dijemput oleh temen-temen Banjarmasin yang dilanjutkan dengan jamuan makan siang soto dan sop Banjar serta sate di Pondok Haji Amat. Taste is good..
Jujugan selanjutnya adalah Wisma Kencana tempat kami akan menginap semalam dengan jumlah room yang telah direserve sebelumnya sebanyak empat room dan tersedia tiga kamar biasa di lantai tiga dan satu kamar VIP di lantai bawah.. hehehe.. Tau dong, where the boss sleep..
Tidak menunggu waktu lama, setelah pembagian kamar, kami memutuskan harus segera mempersiapkan diri untuk pertandingan jam 20:00 WITA atau 19:00 WIB.
Dan tepat di jam itu, bertempat di Plaza Futsal dengan rumput sintetis, pertandingan persahabatan Sampit dan Banjarmasin itu dimulai dengan kesudahan skor 11 untuk Banjarmasin dan 10 untuk Sampit. hehehe.. Hasil ini kami evaluasi belakangan dan ternyata faktornya kelelahan dan demam panggung yang membuat mereka tampil dibawah performa. No problem guys, ini sudah cukup menghiburku.. hehehe…
Ups, ini yang penting.. kedatangan kami benar- benar diprepare dengan baik dan disambut langsung oleh bapak Taryono selaku kepala kantor. There’s something we’ve forgot sir.. sebenarnya kita udah nyiapin sekedar cinderamata mata sederhana made – in Sampit, tapi lupa dibawa anak-anak alias ketinggalan di wisma.. Its ok kan sir,ntar kita titipin ke anggotanya njenengan deh..
Esoknya di pagi-pagi buta kami telah dituntun turun ke sungai  naik klotok-perahu khas Banjarmasin , untuk menyaksikan pasar terapung-wisata khas kota Banjarmasin. Dilokasi ini kami menikmati sarapan pagi soto Banjar dan sate. Manstap..
Kembali ke penyambutan temen2 Banjarmasin, kami angkat topi.. ( ups.. jadi keliatan botakmu men.. ).. Luar biasa.. beliau, Pak Taryono khusus datang di Sabtu malam Minggu tanggal 11 Pebruari ini setelah mengikuti rapat di kantor pusat. Angkat jempol Pak.. kami tersanjung dan merasa mendapatkan pelukan hangat dari keluarga besar bapak di Banjarmasin.. hangat..
Kami tunggu kedatangan keluarga besar bapak di Sampit dengan sebisa kami menyambut sebagaimana bapak menyambut kami dengan hangat, sehangat Banjarmasin…

cerita cs

15 Wednesday Feb 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ 2 Comments

Tags

baituttaqwa, CS, kanwil, KPR, Malang, membagi dan memberi rezeki, membahagiakan keluarga, tukang pijat, tukang semir


Dalam sebuah kesempatan usai sholat Zuhur yang agak telat di Masjid Baituttaqwa Tanjung Perak, aku merebahkan sejenak punggung dan meluruskannya. Ini adalah hari-hari terakhirku bekerja di kantor ini setelah 3 tahun lebih sejak 27 Agustus 2008 aku memulainya.
Dalam posisi rebah mlumah itu, datanglah mendekat seorang CS yang sudah naik derajat dari hanya seorang tukang semir yang juga pintar memijat ke arahku. Lazimnya Ia, langsung memegang kakiku dan mulai memijat. Aku bilang “jangan, kakiku lagi nggak beres habis dipijit kemarin. Coba kamu liat, masih ada bekas kuku tukang pijatnya”.
Bukannya berhenti, Ia malah berganti menarik tanganku dan mulai memijatnya. Ya, sudahlah pijat aja.
Di saat Ia memijatku, sekilas terlihat cover depan HP- nya yang terpampang homescreen- nya taman cantik. Aku lalu bertanya, itu foto taman dimana itu? Dijawabnya, itu lho Pak di deket Kanwil di pojok. Aku tau dia berbohong, karena aku tau betul tidak ada sudut manapun di kantor ini yang ada taman seperti itu. Akhirnya dia mengakui kalau itu foto taman di rumahnya. aku bilang, ” keren “. Ia jawab, “alhamdulillah” , mensyukurinya.
Aku terus memancing ya, ” mana foto rumahmu?”, dengan senang hati Ia juga menunjukkan foto- foto rumahnya. ” bagus rumahmu, komentarku.
Ia lalu bercerita tentang bagaimana bisa membuat rumah itu dengan dana yang diawalinya hasil mengumpulkan beberapa tahun dan diniati untuk memulai KPR rumah di daerah Malang. subhanalloh.. luar biasa..
Aku bilang, “aku seneng ngliat kamu berhasil membahagiakan anak istrimu..”
Aku tau, Ia hanya seorang CS di kantor yang penghasilannya hanya pas UMR. tapi Ia bisa membangun rumah yang lebih dari cukup sederhana untuk keluarganya. Setiap hari Senin pagi Ia datang dari Malang dengan sepeda motor, hanya bermodal 50ribu di dompetnya. luar biasa.
Aku bertanya lebih jauh tentang darimana Ia mendapatkan uang tambahannya, dan ternyata Ia mendapatkannya hanya sebatas karena kepolosan dan kejujurannya serta karena kemampuannya meladeni bapak-bapak pejabat di kantor sesuai bidang keahliannya.. luar biasa..
Apa yang bisa aku petik dari cerita seorang CS ini hanyalah mesti bertambahnya rasa syukurku atas segala kelebihan yang aku miliki. Alloh tidak pernah salah dan lupa dalam membagi dan memberi rezeki kepada setiap mahluk-Nya. Bahkan seekor cacing didalam tanahpun ada bagian rezeki untuknya. subhanalloh..
Ia yang hanya seorang CS, bisa membahagiakan keluarganya, anak istrinya..

kehabisan waktukah aku?

07 Tuesday Feb 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ Leave a comment

Tags

bermain bola, OSIS, Primagama, purwakarta, sampit, SMPN 12 Bintan Utara, tadarus al-qur'an, Tanjunguban, Tgperak, Tgpinang


Pagi ini aku tidak dalam kondisi bagus karena semalam tidak nyenyak tidur. Banyak hal yang berkecamuk dalam pikiranku disamping badanku yang pegal gara2 habis main futsal sampai terpaksa minta tolong anggotaku beli minyak tawon jam setengah duabelas malam.
Pagi ini aku seperti mendapat teguran karena telah tidak memanfaatkan waktu terbaik bersama anak-anakku yang sedang dalam masa pertumbuhan. Yang besar menuju dewasa, apalagi semenjak khitan pertumbuhan fisiknya melesat dan saat ini ia telah melewati tinggiku. Pita suaranya juga telah pecah dan berubah menjadi suara yang bukan lagi anak-anak. Banyak perubahan fisik lainnya yang sepertinya juga dipercepat dengan tuntutan posisinya yang menduduki jabatan ketua OSIS di sekolahnya, SMPN 12 Bintan Utara. Dari kecil, TK, memang dia sudah menunjukkan bakat leader dengan menawarkan diri menjadi mayoret ke kepala TK.
Anakku yang kedua, belum khitan, tapi alhamdulillah dia yang paling rajin sholat jamaah di musholla komplek perumahan kami. Dia ini yang paling rajin berkomunikasi denganku melalui telpon seluler dan selalu menjadi andalan sebagai pengawal buat mamanya kalau berpergian keluar Tanjunguban.
Sepanjang perjalananku sejak penempatan pertama di Tanjunguban tahun 1995 sampai kemudian menikah tahun 1997, berpindah tugas ke Tgpriok tahun 2000, ke Tgpinang tahun 2002, ke Purwakarta tahun 2004, ke Tgpinang lagi tahun 2006, ke Tgperak tahun 2008, dan terakhir ke Sampit tahun 2011, ada banyak waktu yang dengan sangat terpaksa aku tidak bisa hadir bersama mereka, dua anakku. Ada banyak waktu yang aku tidak bisa mencium mereka dan merapatkan selimut sebelum mereka tidur. Ada banyak waktu yang aku tidak bisa mengantarkan mereka berangkat sekolah di pagi hari, les Primagama di sore hari, les mengaji di sore hari lainnya, dan berlatih sepakbola di hari Sabtu sore. Ada banyak waktu yang aku tidak bisa menemaninya mengerjakan PR matematika dan pelajaran lainnya. Ada banyak waktu yang aku tidak bisa menemani mereka bermain bola diluar jam latihan rutin. Ada banyak waktu menemani mereka beranjak dari rumah menuju musholla komplek perumahan sesaat setelah terdengar kumandang azan. Dan ada banyak waktu menemani mereka tadarus al-qur’an selepas magrib. Aku banyak berhutang waktu kepada mereka. Hutang waktu yang semestinya aku berikan kepada dua anakku, darah dagingku, yang tidak bisa aku putar kembali.
Saat ini, aku pandangi wallpaper blackberry-ku yang terpampang foto kedua anakku saat masih balita. Lucu.. tersenyum.. tanpa dosa..
Saat ini, walaupun mereka berdua tidak lagi lucu, tapi mereka tetap anakku yang tetap aku cium pipi dan keningnya sebelum tidur.
Saat ini, dari tigapuluh hari waktuku, aku hanya bisa memberikan ciuman di pipi mereka paling banyak lima hari.
Saat ini, aku hanya bisa berharap dan berdo’a , semoga masih ada waktu bagiku bisa menikmati masa tumbuh dan berkembangnya mereka, hingga suatu ketika mereka menjadi anak-anak sholihah yang bisa mendo’akan orang tuanya bila telah tiada.
Semoga Alloh SWT masih menyisakan banyak waktu buatku untuk mereka.. aamiin..

fajar di Sampit, 12122011

01 Wednesday Feb 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ Leave a comment

Tags

banjar, batak di palangkaraya, batavia air, bukit jalil, gubernur kalteng, hotel idola, kalimantan tengah, matahari terbit, palangkaraya, palangkaraya - sampit, rumah makan idola, tjilik riwut


Desember tanggal 11 tahun 2011, dengan Batavia Air, aku tiba di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, Ibukota Provinsi Kalimantan Tengah. Sebuah bandara yang namanya diambil dari nama Gubernur Kalteng. Rute-ku selanjutnya adalah Palangkaraya – Sampit, kota dimana aku ditempattugaskan. Aku sudah mendapat ancar-ancar kemana aku harus njujug sesampainya di Tjilik Riwut yaitu ke arah luar komplek bandara dengan taksi dan menemui agen “travel” yang akan membawaku ke Sampit. Ternyata lokasi “counter” travel itu pas di bunderan depan komplek bandara yang untuk keluarnya disediakan taksi bertarif flat.
Di konter itu aku memesan seat satu orang tujuan Sampit dengan membawa tiga tas bawaanku. Harga yang mesti aku bayar untuk rute Palangkaraya – Sampit adalah 75rb saja dengan jarak tempuh kurang lebih 200 kilometer. Kendaraan yang saat itu tersedia adalah xenia dan aku diminta langsung menaikkan tasku ke bagasi belakang xenia itu. Sambil menunggu aku sempatkan berbincang-bincang dan makan indomie rebus di warung sebelah konter travel. Sudah kuduga, ternyata bapak yang menjajakan jasa travel ini adalah orang Batak.. hehehe.. nggak di Bukit Jalil nggak di Palangkaraya, ketemu juga kawan Batak kalo urusan beginian. Dan sebagai bentuk perkenalanku, dengan senang hati aku traktir dia kopi itam. Dan alhamdulillah aku mendapatkan privilege untuk bisa duduk di kursi paling depan. Mantap lae..
Sekitar jam 4:30 sore dalam kondisi hujan lebat, berangkatlah xeniaku menuju Sampit dengan estimasi perjalanan 4 sampai 5 jam. Jadi kira-kira nyampe Sampit jam 9-an malam. Tidak masalah, karena sudah ada kawan-kawan yang akan menjemput disana. Yang aku doakan, semoga selama perjalanan 4 sampai 5 jam ini berjalan lancar.
Palangkaraya kotanya lumayan besar, tapi relatif sepi dengan jalan yang kelihatan lebaaar.. ini karena volume kendaraannya belum banyak kali ya. Di beberapa hari kemudian, aku menjalani rute darat Sampit – Palangkaraya ini lagi dalam rangka tugas sebanyak dua kali..
Perjalanan Palangkaraya – Sampit alhamdulillah berjalan lancar dengan bantuan sopir orang banjar yang sepanjang perjalanan aktif berkomunikasi dengan salah satu penumpang yang juga dari suku yang sama. Aku hanya menjadi pendengar yang baik dan sesekali menimpali seperlunya , kalo pas nyambung dengan apa yang mereka omongkan. Kami berhenti sekali di rumah makan yang letaknya kurang lebih di tengah-tengah antara Palangkaraya – Sampit yaitu di rumah makan Idola. Nama Idola akhirnya menjadi nama hotel tempat aku menginap pertama kali di Sampit, Kotawaringin Timur. Sekitar jam 09:30 malam, travel-ku nyampe di kantorku dengan sambutan dari kawan-kawan di kantor yang kemudian mengantarkanku menginap di hotel Idola untuk menjalani aktifitas pertamakali di kantor baru esok pagi.
Di salah satu kamar di hotel Idola itulah aku mengabadikan matahari terbit di pagi hari yang pertama kali di Sampit, kota dimana aku akan menjalani penugasanku yang mudah-mudahan tidak terlalu lama . Semoga Alloh Subhanahuwata’ala senantiasa memberikan bimbingan , rahmat dan barokah buatku selama aku menjalani amanah ini. Aamiin..

sepenggal cerita tentang ayahanda

28 Saturday Jan 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ 1 Comment


Sudah lama rasanya ingin menuangkan apa yang ada di benak dan di hati semenjak kepergian Ayahanda pada hari Kamis tanggal 27 Mei 2010 sekitar pukul 00:45 WIB. Rasa yang berkecamuk bukan karena ketidakikhlasan atas kepergian beliau karena kami sekeluarga telah mengikhlaskannya pergi ke haribaan Alloh subhanahu wataála. Rasa ini lebih karena ada perasaan bersalah karena tidak lebih banyak meluangkan waktu bersamanya saat ia masih ada. Rasa ini juga karena kerinduan atas segala sikap arifnya dalam menyikapi masalah walaupun dengan temperamen aslinya yang keras yang tertempa karena keadaan dan perjuangan dalam hidupnya.

Malam itu, malam setelah sore harinya sekitar pukul 14.00 WIB kami mengebumikan ayahanda di komplek pemakaman yang selama ini menjadi tetangga kami, karena letaknya yang hanya berbatas dinding tembok, kami berbincang tentang betapa mulianya ayah kami sembari mendo’akannya:

Alloohummaghfir lahu Warhamhu Wa ‘Aafihi Wa’fu ‘ahu, Wa Akrim Nuzulahu, Wa Wassi’ Madkholahu, Waghsilhu Bil Maa’i WatsTsalji Wal Barodi, Wa Naqqihi Minal Khothooyaa Kamaa Naqqaitats Tsaubal Abyadho Minad Danasi, Wa Abdilhu Daaron Khoiron Min Daarihi, Wa Ahlan Khoiron Min Ahlihi, Wa Zaujan Khoiron Min Zaijihi, Wa Adkhilhul Jannata, Wa A’idhu Min ‘Adzaabil Qabri.

Ya Allah, Ampunilah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempat-kanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.” (HR. Muslim 2/663)

Bapak-demikian kami anak-anaknya terbiasa memanggilnya-adalah sosok yang luar biasa di mata kami. Banyak hal yang membuat kami mengaguminya. Ia bukanlah seorang pejabat tinggi, bukan juga pengusaha sukses, tapi bagi kami Ia adalah lebih dari itu.

Bapak adalah seorang tukang batu, yang ditekuninya dari ia masih lajang hingga menikah dan dikaruniai sepuluh orang anak yang karena kehendak Alloh anak yang nomor 6 dipanggil-Nya dalam usia remaja. Sepuluh jumlah kami bersaudara yang untuk saat ini apabila aku ditanyakan tentang hal itu akan kusampaikan dengan rasa bangga. ya, aku merasa bangga bahwa meskipun kami yang tersisa sembilan bersaudara adalah tidak dalam posisi yang hebat dengan penghasilan luar biasa, tapi Bapak telah mengentaskan kami menyelesaikan jenjang pendidikan dengan skala prioritas minimal sarjana untuk yang laki-laki dan minimal SMA untuk yang wanita. Apa yang mendasarinya untuk memberi prioritas itu hanya semata amanah al-Qur’an bahwa arrijaalu qowwamuuna ‘alannisaa, Bapak harus mempersiapkan rijal-rijalnya menjadi qowwaamun ‘alannisaa.

Kami mengingat semasa dalam proses tumbuh bersama, untuk mencukupi semua kebutuhan kami dengn kemampuannya sebagai tukang batu, kami harus berbagi satu butir telor yang digoreng melebar hingga cukup bagi kami membaginya dengan sayur asem buatan emak .

Saat kebutuhan sekolah kami meningkat dan penghasilan Bapak tidak mencukupi, dengan sepeda ontel emak pergi ke pegadaian di ujung jalan desa sebelah pasar randugunting untuk menggadaikan kain “tapih” miliknya. Emak juga kadang harus berhutang di warung tetangga kami untuk kebutuhan dapur. Tapi itu barokah luar biasa bagi kami hingga membuat kami alhamdulillah bisa menyelesaikan pendidikan yang kami inginkan.

Pola pendidikan yang Bapak terapkan kepada kami tegas tapi demokratis. Beliau tidak pernah memaksakan kehendaknya terhadap apa yang kami mau dan hanya memberikan bekal iman dan taqwa yang membuat kami berpegang teguh kepada agama tercinta sebagai sandaran hidup.kegiatan rutin yang harus dilakukan adalah sholat magrib di langgar hibah Mbah Tasnyan – kakek kami dan tadarus al-qur’an sepulangnya di rumah.

Masya Alloh.. mengingat masa itu membuat kami menitikkan air mata dan mengucap syukur dengan keadaan sekarang..

ini semua berkat jasamu Ayahanda.. semoga Alloh senantiasa melindungi dan menempatkanmu di Jannah-Nya. aamiin ya robbal ‘alamiin..

dzulhijjah 1432 H

27 Friday Jan 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ Leave a comment


Dzulhijjah tahun ini, aku mendapatkan amanah diluar expektasiku semula. aku mendapat amanah ditempatkan di kantor Sampit sebagai menggantikan mas Imam  yang bergeser posisi ke Pangkalan Bun menduduki posisi Kepala Kantor.
ekspektasiku semula adalah, aku mendapatkan penempatan di sekitar Batam, Bintan atau Karimun. sungguh sebuah anugerah apabila aku mendapatkan penempatan disana. akan tetapi inilah kenyataannya dan mau atau tidak mau harus aku jalani. 
siapapun yang mendapatkan amanah, semestinya akan muncul pertanyaan, apakah sanggup menjalaninya? mudah2an Alloh SWT selalu memberikan segala kemudahan dalam menjalankan amanah ini.
nama Sampit sebenarnya tidak asing bagiku di posisi sekarang. Ia adalah salah satu  tempat tujuan barang impor angkut lanjut dari Tanjung Perak. beberapa hari sebelum keluarnya skep mutasi ini bahkan aku telah beberapa kali komunikasi dengan pegawai disana menanyakan ketibaan barang impor angkut lanjut yang diangkut dari Tanjung Perak. nama pegawai ini adalah Pak Isnan, mudah2an orangnya baik dan bisa aku andalkan dalam menjalankan amanah ini. Aamiiin..
begitu aku kabarkan penempatan tugas baru ini ke istri dan anakku, mereka langsung melakukan pencarian di Google dan didapatlah informasi tentang keberadaan Sampit. 
insya Alloh setelah kenaikan kelas, dengan bulat hati mereka akan ikut denganku ke Sampit atau dengan nama asli kabupatennya : Kotawaringin Timur.
sekali lagi, aku tetap berdo’a semoga Alloh subhanahu wata’ala senantiasa memberikan rahmat dan hidayah serta memberikan segala kemudahan kepada kami, aku dan keluargaku, dalam menjalankan amanah ini. aamiin..

tiga tahun lebih

27 Friday Jan 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ Leave a comment

Tags

rumah dinas injoko, shomad, Tanjung Uban


Sejak tiba di Surabaya tanggal 26 Agustus 2008, hingga saat dilaunchingnya kantorku menjadi kantor pabean modern pada tanggal 9 September tahun yang sama, berarti aku sudah bertugas lebih dari 3 tahun. Rekor penempatan mendekati penempatan pertama kali seperti di Tanjung Uban tahun 1995 sampai dengan 2000, atau lima tahun.
Surabaya , tinggal di komplek rumah dinas Injoko, komplek rumah dinas yang sedikit banyak aku ikut “merawatnya”. Komplek yang cukup unik karena petugas keamanannya hanya start bekerja mulai jam 21:30 BBWI dan tidak pernah tergantikan sejak komplek ini ada. Pak shomad namanya. Laki-laki bertubuh gendut dengan usia yang tidak lagi muda yang juga seorang alim di lingkungannya disebelah komplek berbatas tembok di sebuah rumah sementara yang berdiri diatas tanah bukan miliknya.
Minimal ada tiga peninggalanku yang kalau suatu ketika aku meninggalkan Surabaya, namaku akan disebut sebagai orang yang ikut merawat komplek rumah dinas ini dengan segenap partisipasi warganya. Pertama , lapangan olahraga sepakbola lengkap dengan gawangnya. Alhamdulillah, tiap sore anak2 kecil baik dari lingkungan komplek blok A maupun blok B, mereka bisa memanfaatkannya untuk bermain bola dengan bola plastik. Rencananya aku ingin mengusulkan ke Kanwil untuk merubah lapangan ini menjadi lapangan futsal yang lebih baik dan bisa disewakan melalui koperasi ataupun dibawah pengelolaan RT. Insya Alloh..
Kedua, lampu jalan. Alhamdulillah, dengan adanya lampu jalan yang mengambil fasilitas PJU dari PLN, komplek blok A menjadi terang benderang.
Ketiga, pos satpam yang juga merupakan rumah keduanya Pak Shomad. Pos satpam yang dulunya banyak dikeluhkan warga karena lebih mirip kandang atau gubuk, sekarang sudah berdiri megah menyambut penilaian kampung aman. Mudah2an bisa jadi juara. Kalau tidak nomer  satu, ya nomer dua, atau minimal juara harapan.
Mudah2an apa yang telah aku upayakan bisa menjadi ladang amal dan menjadi berkah buatku dan buat segenap warga blok A. aamiin..

haruskah aku ragu akan ketetapan-Mu?

25 Wednesday Jan 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ Leave a comment


kegalauan hati adalah hal yang lumrah terjadi suatu ketika di setiap manusia. Itu fitrah adanya. Rasulullah SAW sendiri pernah mengalaminya pada masa sulit ketika secara bertubi-tubi ditimpa musibah terberatnya yaitu kehilangan kakek, Abu Thalib dan istrinya, Khadijah.
Kegalauan hati adalah masa dimana seorang manusia didera ketidakpercayaan atau keraguan akan ketetapan Ilahi. Keraguan akan apakah benar ketetapan kejadian atau rentetan kejadian yang terjadi dan dialaminya adalah benar wajar adanya ditimpakan kepadanya. Apa yang menjadi keraguannya adalah karena dirinya telah merasa bahwa ia telah berbuat yang terbaik kepada Tuhannya dan sekarang adalah saatnya Tuhan membalas kebaikannya. Apa yang menjadi keraguannya juga adalah apakah benar Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang? Kalau benar, kenapa Ia selalu atau seringkali menimpakan cobaan, ujian atau masalah kepadanya. 
Keraguan itu timbul dalam pertanyaan selanjutnya yaitu apakah benar takdir buruk harus selalu menimpanya dan itu telah tercatat di Lauhul Mahfuz? 
Masya Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Berkehendak…
Tidak ada yang tidak mungkin bagi Alloh azza wajalla..
Alloh Maha Tahu apa yang terbaik bagi mahluk-Nya..
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Apabila engkau telah selesai (dari satu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmu lah engkau berharap.” (QS 94 Al Insyirah ayat 5-8).

Hari berikutnya tidaklah sama

25 Wednesday Jan 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ Leave a comment


Hari ini tanggal 9 september 2010 atau bertepatan dengan tanggal 30 ramadhan 1431 hijriyah, dalam perjalanan pulang di atas pesawat Citilink GA 030 Surabaya-Batam diatas ketinggian 11.000 feet, saya menyempatkan diri menuliskan sesuatu.
Hari ini adalah hari terakhir perjalanan satu bulan dari bulan yang penuh rahmat dari Alloh subhanhu wata’ala, bulan Ramadhan. Bulan yang lazimnya dibagi kepada tiga tahapan perjalanan amal beserta imbalannya, yaitu sepuluh hari pertama dilingkupi dengan rahmat,  sepuluh hari kedua dilingkupi dengan maghfiroh, dan sepuluh hari terakhir dengan itqumminannar.
Ada perbedaan yang benar-benar diperlihatkan oleh Alloh pada bulan Ramadhan. Di bulan ini, entah karena janji pahala yang diberikan kepada setiap amal perbuatan baik yang dilipatgandakan hingga tujuhratus kali, atau karena dibelenggunya setan yang biasanya memberatkan langkah kali ummat ke musholla atau masjid, atau karena semata-mata mengharap ridho-Nya.
Tiga puluh hari berpuasa wajib, buat insan yang bekerja adalah jauh lebih ringan. Karena artinya ia telah mengisi keseluruhan harinya dengan kerangka ibadah. Sejak terbangun sahurnya pukul 03.00 dini hari, imsak dan sholat subuh di sepuluh menit sesudahnya, mengisi waktu menunggu datangnya fajar dengan membaca Al Qur’an dan menutupnya dengan dua rokaat sholat sunnah.
Selanjutnya sampai kepada masanya ia bersiap berangkat ke tempat kerja pukul 06.30 dan mulailah ia menjadi pekerja ibadah hingga saatnya sholat dhuha ditunaikan pukul 09.00. Waktu selanjutnya adalah 11.30 saatnya berkumandang azan zuhur dan 14.30 saatnya azan ashr berkumandang dan diselingi diantara keduanya dengan mendengarkan majlis taklim. 
Alloh memberikannya nikmat pertamanya di dunia saatnya azan magrib tiga pukul 17.30 dan wajib dibatalkannya puasa. Satu jam kemudian adalah waktu baginya berduyun-duyun untuk berjamaah isya’ yang diteruskan dengan taraweh hingga membaca qur’an sampai 21.00 saatnya ia kembali ke peraduannya untuk kembali terbangun pukul 03.00 dinihari dan begitu seterusnya setiap hari selama periode sebulan ramadhan.
Subhanalloh.. Bisakah rutinitas seperti itu kembali berulang dan berulang terus bukan hanya di ramadhan? Sungguh, setelah hari ini, hari berikutnya tidaklah akan sama tanpa kehadiranmu ya Ramadhan..

Do’a dan Nadar

25 Wednesday Jan 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ Leave a comment


Dalam suatu kesempatan perbincangan di kendaraan yang membawaku berangkat ke kantor  di suatu pagi, aku berbincang serius dengan yunior angkatan , tentang Nadar.
Perbincangan bermula saat ia menceritakan tentang telah ditunaikannya nadar yang telah diucapkannya ketika ia dan istrinya berniat untuk segera memiliki momongan setelah mereka menikah. Ia dan istrinya ini adalah pasangan usia muda yang keduanya baru menikah dan keduanya memiliki profesi kerja dengan domisili pekerjaan yang berbeda. Istrinya bekerja di sebuah bank plat merah di jakarta, sementara Ia bekerja sekantor denganku.
Dari awal sebenarnya mereka bersegera memiliki momongan, tapi di awal pasca pernikahan itu juga ada beberapa hal yang pada akhirnya berujung kepada kekhawatiran keduanya tentang kehadiran si buah hati. Atas dasar itulah, mereka berdoa dan menyampaikan nadar untuk segera diberikan momongan.
Kenapa sebuah permintaan dari hamba kepada Tuhannya harus disertai dengan nadar? Apakah tidak cukup sebuah permintaan do’a seperti biasanya dari seorang mahluk kepada Sang Khalik dengan tanpa embel-embel nadar? 
Keterbatasan pengetahuan agama kami berdua pada akhirnya membatasi jawabannya atas pertanyaan itu selain hal yang kami ketahui bahwa nadar adalah wajib hukumnya ditunaikan apabila apa yang kita kehendaki tercapai.
Tapi keterbatasan itu juga yang membuatku berpikir bahwa apa yang disampaikan sebagai “‘ud’unii istajiblakum” adalah hanya sebuah pintu bagi setiap mahluk dalam rangka meminta apapun yang dikehendakinya kepada Sang Khalik. Tapi kapan permintaan itu direalisasikan oleh-Nya? Jawaban atas pertanyaan ini adalah murni menjadi domain Alloh Sang Khalik. Ada kalanya sebuah permintaan dalam bentuk do’a itu segera terrealisasi dan ada juga yang hingga berkali-kali dikumandangkannya tetap saja tidak terrealisasi. Atau jawaban atas do’a itu baru terrealisasi kemudian hari disaat si pemohon telah lupa bahwa ia pernah memintanya. Dalam menghadapi hal ini, berbaik sangkalah kepada Sang Khalik, yang Maha Tahu kapan saat terbaik buat mahluknya. Wallohu a’lamu bishshowaab..
Apakah sebuah do’a harus disangatkan dan dimaknai sebagai sebuah do’a atau permintaan yang sungguh dengan disertai nadar? Pertanyaan ini juga menarik karena mungkinkah Sang Khalik meminta imbalan atas apa yang diberikan kepada manusia? Alloh Maha Kaya, mustahil bagi Alloh meminta imbalan dari mahluknya. 
‘ud’unii istajiblakum… Berdo’alah kepadaKu, niscaya aku kabulkan.. Tidak ada prasyarat disitu. Tapi kemudian menjadi hak prerogatif Sang Khalik untuk memutuskan kapan saatnya apa yang diminta mahluknya dipenuhi.  
   

← Older posts
Newer posts →

Recent Posts

  • Klaster Asli
  • Tapak Tuan
  • Omah Cilik
  • tugas baru
  • Poluan

Recent Comments

Anwar Hidayat's avatarAnwar Hidayat on tugas baru
slametsukanto's avatarslametsukanto on Gedung Negara
Shinta's avatarShinta on Gedung Negara
slametsukanto's avatarslametsukanto on sei bati, bandara perintis di…
RHA Airport's avatarRHA Airport on sei bati, bandara perintis di…

Archives

  • November 2025
  • July 2024
  • June 2017
  • October 2016
  • June 2016
  • March 2016
  • February 2016
  • January 2016
  • November 2015
  • March 2015
  • January 2015
  • December 2014
  • March 2014
  • January 2014
  • December 2013
  • September 2013
  • July 2013
  • June 2013
  • May 2013
  • March 2013
  • January 2013
  • November 2012
  • October 2012
  • September 2012
  • August 2012
  • July 2012
  • June 2012
  • April 2012
  • March 2012
  • February 2012
  • January 2012

Categories

  • gawean
  • jalan-jalan
  • kontemplasi

Blog Stats

  • 29,335 hits
//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Blogs I Follow

  • Catatan Anak Bangsa
  • Kumpulan Tulisan El
  • Dinnar Homestay Surabaya Indonesia
  • pelangi.kata
  • Tulisan ringan alumni STAN
  • Aku Yang Berlumur Dosa
  • santo for mitsubishi bintaro
  • Tamar Devils_Manchunian
  • ummulnurien.com
  • cerita anwar
  • padmanaba
  • erliharyanto
  • Memento
  • Look, Think and Write
  • kotakpermen.wordpress.com/
  • beautifulhello.wordpress.com/
  • website situnis
  • Lambangsarib's Blog
  • kembalikan, kampung halamanku
  • RISTEK FT UNNES

tulisan saya

kunjungan

  • 29,335 hits

lima terbaru

  • Klaster Asli
  • Tapak Tuan
  • Omah Cilik
  • tugas baru
  • Poluan

Blog at WordPress.com.

Catatan Anak Bangsa

raga pasti mati, tulisan mungkin abadi

Kumpulan Tulisan El

Selalu ada Petunjuk, Untuk Kemudahan

Dinnar Homestay Surabaya Indonesia

Penginapan sederhana berfasilitas bintang lima, Lokasi di Surabaya Selatan, dekat dengan Masjid Al-Akbar Surabaya.

pelangi.kata

saat goresan kata menciptakan warna ide yang nyata..

Tulisan ringan alumni STAN

mengikat ilmu dengan menuliskannya...

Aku Yang Berlumur Dosa

kusadar hidup ini hanya sebentar...dan kubersyukur hari ini masih mendapat kasih sayang...

santo for mitsubishi bintaro

The greatest WordPress.com site in all the land!

Tamar Devils_Manchunian

Hidup lebih baik saling berbagi ilmu untuk meraih kesuksesan

ummulnurien.com

cerita anwar

Just another WordPress.com weblog

padmanaba

erliharyanto

Ya Allah, tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus

Memento

- memento mori, memento vivere -

Look, Think and Write

kotakpermen.wordpress.com/

beautifulhello.wordpress.com/

website situnis

travelling

Lambangsarib's Blog

Catatan Orang Biasa

kembalikan, kampung halamanku

tentang kampung, tentang halaman, tentang apapun

RISTEK FT UNNES

Kerohanian Islam Teknik

Privacy & Cookies: This site uses cookies. By continuing to use this website, you agree to their use.
To find out more, including how to control cookies, see here: Cookie Policy
  • Subscribe Subscribed
    • slametsukanto
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • slametsukanto
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar