• Perihal

slametsukanto

~ about making ideas happens

slametsukanto

Category Archives: kontemplasi

aku selalu butuh ridhomu

23 Monday Apr 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ 4 Comments

Tags

Belanda, debong wetan, emak, Kardinah, rumah sakit kardinah, selalu butuh ridho, tegal


Semenjak kepergian bapak pada bulan akhir Mei 2010, Emak kelihatan semakin menurun kondisi kesehatannya. Bisa jadi ini karena faktor usianya yang sudah menginjak 71-an, atau juga karena faktor psikis yang memaksanya harus terpisah dengan bapak yang telah menemaninya hingga tutup usia .Masa sekian tahun kebersamaan adalah masa yang selalu dipenuhi dengan suka dan duka. Masa yang sekian tahun itu telah dipenuhi dengan tawa dan tangis. Masa yang telah sekian tahun dilewati itu, semoga selalu dalam ridho Alloh subhanahu wata’alaa, amiin..

Emak, yang semenjak aku menerima penempatan tugas pertama kali ke luar jawa, tahun 1995, praktis hanya bisa aku jenguk sesekali, tidak tiap hari seperti dulu waktu aku masih menuntut ilmu di Tegal. Praktis aku seperti menjadi anak hilang yang hanya akan tampak dihadapan emak setahun sekali tepat iedul fitri atau kesempatan lain saat aku mendapatkan tugas ke Jawa.  

Emak , yang melahirkanku di rumah sakit Kardinah, menurut ceritanya. Dan menurut emak juga, akulah satu-satunya anaknya yang melahirkan “agak susah” dan mesti mendapatkan perlakuan khusus dengan melahirkannya di rumah sakit Kardinah, yang berjarak kurang lebih lima kilometer dari tempat tinggalku di Debong Wetan. Aku yang dilahirkan di urutan ke delapan dari sepuluh bersaudara, memaksa emak dan bapak menyambut kelahiranku di rumah sakit. Tidak seperti sembilan saudaraku lainnya yang cukup di rumah dan ditangani bidan.

Emak juga punya cerita bahwa saat aku masih dalam gendongannya, rambutku pirang kemerah-merahan, tidak plontos seperti sekarang pastinya, dan bertepatan dengan masuknya listrik di desa Debong Wetan. Saat itu menurut emak, instalaturnya masih orang bule yang kemudian ketika ia melihatku jadi teringat dengan anaknya yang di Belanda. Sejak saat itulah, kakak perempuanku tertua memanggilku dengan Irbi, katanya itulah nama orang Belanda yang memasang tiang listrik depan rumahku.

Emak, yang dulu hampir setiap harinya dalam seminggu dipenuhi dengan kegiatan pengajian, sekarang sudah jauh berkurang intensitasnya, apalagi saat ia menderita sakit di persendian kakinya. Sakit yang memaksa sholatnya tidak dalam posisi berdiri, tapi dengan duduk dengan kaki diselonjorkan.

Emak, kemarin aku lihat pas ada waktu libur tiga hari, di awal April 2012, terlihat sumringah karena kedatanganku tidak sendiri. Aku bersama mas Salaf dan adikku, Winarno bisa kumpul di saat yang sama. Sebuah kesempatan langka. Ya, aku rasa emak cukup bahagia bisa melihat kami bisa rukun dan sehat serta bisa menemuinya meski hanya sesekali. Emak cukup bahagia meski aku hanya bisa sesekali memijat kaki dan bahunya.

Aku yakin, meskipun jarakku terpisah jauh dan jarang bertemu muka dengannya , do’anya senantiasa hadir untukku, untuk anak-anaknya semua, tulus, tanpa pamrih apapun.

Emak, do’akan aku , anakmu yang jauh, selalu bisa mendo’akanmu juga. Do’akan juga aku tetap diberikan keluangan waktu, tenaga dan biaya untuk selalu bisa menemuimu, mengobati rinduku padamu, karena aku selalu butuh ridhomu.

bersama pejuang keluarga

23 Monday Apr 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ Leave a comment

Tags

agro, CPO, CPO dan turunannya, immigresyen, jawa timur, kelapa sawit, konflik etnik, madura, malaysia, mencari nafkah, menjual sawah, passport, pejuang keluarga, pelancong, sampit, sinar mas, tenaga kerja, wilmar


Entah sudah garis tangan dan suratan takdir, perjalanan pulang saya menemui keluarga selalu bersama dengan orang-orang yang sangat dinantikan keluarga di kampungnya. Ya, penempatanku di Sampit, kota kecil yang sedang bergerak cepat membangun-seperti slogannya-didominasi oleh pekerja pendatang dari Jawa, terutama Jawa Timur, bahkan dari suku Madura, sebuah suku yang kurun lebih dari satu dekade yang lalu pernah dipaksa angkat kaki dari kota ini. Saya rasa, kebutuhan ekonomi mengharuskan mereka segera melupakan memori satu dekade yang lalu dan memaksa mereka menginjakkan kaki kembali tanah di Sampit. Tentu saja dengan satu harapan, ada perbaikan ekonomi bagi keluarganya di kampung.
Sampit saat ini sedang giat bergerak membangun industri perkebunan kelapa sawit dan instalasi pengolahannya hingga menjadi CPO dan turunannya. Sekedar data, kurang lebih ada 10 perusahaan lebih yang telah membuka lahan perkebunan kelapa sawit dan pabrik pengolahannya. masih ada beberapa perusahaan lagi yang akan segera beroperasi. Sebagian besar adalah anak perusahaan dari perusahaan besar persawitan yaitu Agro, Sinar Mas dan Wilmar.
Daya serap tenaga kerja dalam rangka menggerakkan perusahaan-perusahaan inilah yang membuat sedulur-sedulur dari Jawa berduyun-duyun mendatangi Sampit. Tenaga kerja yang berangkat dari kampungnya , mudah-mudahan dengan tanpa menjual sawah atau sapinya. Tenaga kerja yang mudah-mudahan bisa secara rutin mengirimkan hasil jerih payahnya ke anak istrinya di kampung, meskipun mungkin secara nominal tidak bisa disamakan dengan perolehan mereka di negeri jiran, Malaysia. Setidaknya mereka bisa berbangga hati bekerja di negerinya sendiri tanpa ada rasa was-was pengusiran dari immigresyen seperti di Malaysia. Tanpa rasa was-was menjadi pendatang haram karena passport yang membekali mereka ke negeri jiran ternyata passport pelancong, bukan passport pekerja.
Banyak harapan yang bisa disandarkan di tanah yang masih menjadi bagian dari negeri sendiri, Indonesia. Harapan yang mudah-mudahan tidak akan pudar karena konflik etnik di kemudian hari seperti pernah terjadi di dekade yang lalu. Mudah-mudahan jalan mereka, para pejuang keluarga untuk mencari nafkah kehidupan ini senantiasa dimudahkan dan diberikan berkah.
Dan sekali lagi, rute kepulanganku menemui keluargaku, akan selalu bersama orang-orang yang ditunggu kedatangannya di kampung halaman dengan harapan membawa hasil jerih payahnya. Orang-orang yang senantiasa didoakan kesehatan dan keselamatannya. Aamiin..

susahnya memberi nasehat

23 Monday Apr 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ Leave a comment

Tags

al-ashr, jarkoni, leave it, masuk telinga kanan keluar telinga kiri, nasehat, nasihat, on the track, overweight, take it, Tanjung Pinang, teladan, wejangan


Saya ingat betul istilah “jarkoni”, gelem ngajar ora gelem nglakoni. Sebuah istilah yang biasanya dilabelkan kepada orang yang hanya bisa memberi ajaran padahal dia sendiri belum tentu bisa atau malah belum nglakoni. Biasanya, orang yang sudah diberi label itu, biarpun kualitas wejangannya bagus, tidak akan bisa memberi dampak yang signifikan kepada orang yang diberi wejangan. Mungkin omongan atau wejangannya atau petuahnya akan tetap didengar, tapi masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Bisa saja niat yang mendengarkan mau melakukan petuah atau ajaran baik yang disampaikannya, tapi melihat kepada siapa yang menyampaikannya, berubah balik arah.
Memberi nasihat, adalah sebuah kewajiban. Seingat saya, di Al-ashr sudah tertuang demikian adanya. “demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali ia yang beriman dan beramal soleh, dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati sepaya menetapi kesabaran” shodaqollohul’adziim..
Kembali ke person yang memberi wejangan atau nasehat. Bahwasanya semestinyalah pendengar wejangan tidak usah melirik siapa pemberi wejangan, cukup perhatikan content-nya. Sepanjang content-nya on the track, take it. Kalau ternyata sebaliknya, leave it. Sesederhana itukah?
Ternyata tidak. Pakem jarkoni masih menjadi pakem utama, dan inilah sebaik-baik pemberi wejangan atau nasehat. Sampaikanlah oleh kita apa yang sudah kita ketahui ilmunya, apa yang sudah kita alami, at least atas apa yang sudah kita telaah dari experience orang lain.
Saya masih teringat cerita salah satu anggota saya, pak Zul, waktu tugas di Tanjungpinang. Pak Zul bercerita waktu itu ia sedang bersantai sepulang kerja di tenda payung depan rumahnya sambil menghisap rokok dan bertelanjang dada, kegerahan. Maklum, postur anggota saya ini masuk kategori overweight. Tidak lama ia duduk, terlantun azan maghrib dari musholla dekat rumahnya. Segera setelah azan maghrib itu selesai, ia meluncurkan perintah kepada anak lelakinya yang masih sekolah SD yang tengah bermain di dekatnya, “ayo nak, segera berangkat ke musholla, sholat maghrib..”. “jarak azan maghrib dengan sholatnya itu pendek, nanti kamu ketinggalan..”. Dengan ringan anaknya menjawab, “ ayah aja nggak pernah sholat maghrib di musholla..”.
Sebuah cerita yang pada akhirnya mengingatkan saya, dan mudah-mudahan temen-temen semua, lebih mudah memberi nasehat dengan memberi teladan. Karena ternyata, memberi nasehat itu susah kalau kita sendiri belum melaksanakannya.
Wallohua’lamubishshowaab..

surga di telapak kakimu

16 Friday Mar 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ 1 Comment

Tags

aurat, hijab, istri yang sholehah, kaki, menjemput rizki, sami'na wa'atho'na, sholehah, surga, surga di telapak kaki ibu, surga dibawah telapak kaki ibu, telapak, wanita


Sebuah rumah tangga, layaknya adalah kewajiban bagi sang suami untuk menjemput rizki buat anak dan istrinya. Ia biasanya bangun pagi terus keluar dari rumah dan baru kembali sore harinya. Bisa jadi Ia saat itu membawa hasil jerih payahnya menjemput rizki itu, bisa juga Ia akan mendapatkannya di penghujung minggu, atau bahkan Ia akan mendapatkannya di penghujung bulan. Rizki itulah yang Ia berikan kepada sang ahlul bait, istrinya tercinta untuk dikelola dengan baik sehingga tercukupi kebutuhan dasar keluarga. penat dan lelah sepulang kerja itu semestinyalah Ia mendapatkan senyuman manis dari istri tercinta. Sesungguhnya jika yang demikian itu didasari dengan niat ibadah, pahala bagi keduanya.
Apa yang dilakukan istri sehingga Ia juga mendapatkan pahala? apakah hanya karena sekedar Ia menyambut kedatangan sang suami sepulang bekerja? Jangan-jangan, selama suaminya menjemput rizki itu, Ia hanya menghabiskan waktu di depan televisi menyaksikan sinetron kesukaannya? Ataukah Ia menghabiskan waktu sepanjang siang harinya dengan mengunjungi tetangga sebelah rumahnya dan menggunjingkan tetangga lainnya? Ataukah Ia hanya menghabiskan waktu dari terbit matahari hingga menjelang terbenam saat kedatangan suaminya dari bekerja dengan melelahkan kakinya di selasar-selasar mall atau pertokoan?
Istri yang sholehah tidak punya waktu menghabiskan waktu di saat suaminya menjemput rizki dengan melakukan hal-hal yang sia-sia. Ia akan bertindak sebagai seorang kepala rumah tangga sepanjang pagi hingga sang kepala keluarga sebenarnya kembali dari menjemput rizki. Ia akan mendidik dan mengasuh anaknya menjadi calon-calon penerus generasi yang senantiasa mengabarkan kebaikan dan keutamaan akhlak. Ia akan mengajarkan anaknya seperti nabiyulloh Ismail yang sami’na wa’atho’na terhadap perintah Alloh. Ia akan menjadikan calon-calon penerus perjuangan syi’ar Islam itu kuat dengan memberikan konsumsi makanan yang tidak usahlah mahal, tapi tetap bergizi dan bermutu higienis yang tinggi. Ia akan menjaga pintu-pintu rumahnya tetap tertutup serta menjaga hijab dan auratnya selama sang suami tercintanya menjemput rizki. 
Sesungguhnya kepada yang demikian itu adalah keutamaan wanita dan karenanya di telapak kakinyalah diletakkannya surga.

rapatkan shaf-mu

06 Tuesday Mar 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ 1 Comment

Tags

bagian dari keluarga muslim, jamaah keluarga muslim, lurus dan rapatkan shaf, mengusap bahu-bahu kami, rapatkan shaf


Ada satu hal yang sering mengganjal di hati tatkala menjadi makmum dari sebuah jamaah sholat, yakni kekurangrapatan shaf. Rasanya mengganjal jika saya dan jamaah makmum di sebelah saya menjaga jarak dengan membentangkan sajadah sendiri dan membatasi dirinya dengan jamaah lainnya. Betul bahwa Ia menjadi satu bagian makmum dari imam yang sama, tapi alangkah indahnya jika sajadah itu biarkan Ia bentangkan horisontal-karena telah terlanjur dibawanya- atau lipatlah separo khusus mengalasi tapak sujud mukanya, dan membiarkan kaki-kakinya bersentuhan di ujung jari dengan makmum lainnya.
Mengganjal rasanya di hati bila saya berada dalam satu barisan shaf yang tidak mau merapatkan diri sesama jamaah meskipun secara formalitas imam selalu mengingatkannya : lurus dan rapatkan shaf. Prakteknya tetap saja, ada jarak beberapa inchi antar jamaah. Apa yang semestinya kita rasakan dalam satu bagian panjang shaf dalam sholat? Menurut saya, rasanya kita adalah sama, hamba-Nya. tidak ada status sosial yang mesti kita tunjukkan di hadapan Sang Khalik meskipun sudah pasti merk baju antar jamaah berbeda, meskipun bau parfum yang ditebarkan baunya berbeda, meskipun pangkat yang ada di pundak tiap jamaah juga berbeda. Alloh subhanahu wata’alaa Maha Tahu soal itu.
Menjadi bagian dari sebuah jamaah shaf dalam sholat berjamaah semestinya menjadi momen yang tidak hanya kita berharap reward 27 kali lipat dibanding apabila kita menjalankannya sendirian. Kegiatan ini semestinya, meskipun mungkin bisa dirasakan hanya pada saat menjadi bagian dari shaf dalam sholat itu, menjadikan kita merasa bahwa kita adalah satu bagian dari keluarga muslim. Apa yang kita rasakan dalam satu bagian keluarga, semestinya juga adalah memahami bahwa kita ternyata tidak seharusnya banyak berselisih.
Ijinkan saya mengutip sebuah hadits yang saya buka dari Internet yang artinya :
dari Abu Mas’ud al Badri, Ia berkata : Dahulu Rasulullah shollallahu’alaihi wa sallam biasa mengusap bahu-bahu kami, ketika akan memulai sholat, seraya beliau bersabda : ” Luruskanlah shafmu dan janganlah kamu berantakan dalam shaf; sehingga hal itu membuat hati kamu juga akan saling berselisih” (shahih : Muslim no. 432)
Karenanya, jangan anggap ucapan Imam sebelum memulai sholat yang meminta “shaf lurus dan rapat” atau kadang ditambahi ” HP mohon dimatikan”, bukannya tanpa alasan. Ia secara tidak langsung meminta kita yang jadi makmumnya, untuk menjadi satu bagian besar gerakan jamaah sholat, jamaah keluarga muslim.
Mari , lurus dan rapatkan shaf kita dan jadikan sajadah-sajadah itu hanya sebagai pembatas saat sholat sendirian agar orang tidak melintasi kita saat sholat, dan tidak menjadikan kita, sesama jamaah makmum , terbatasi oleh tepian sajadah.
wallohu a’lamu bishshowaab.

disinipun bumi Alloh

05 Monday Mar 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ 2 Comments

Tags

sampit; kalimantan; PJKA;


Keresahan dan kekhawatiran seseorang apabila menerima sesuatu tugas atau penempatan baru di suatu daerah yang sama sekali baru diinjaknya adalah sesuatu yang lumrah. Keresahan dan kekhawatiran itu bukan hanya sekedar pertanyaan apakah Ia akan sanggup melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya, tapi juga menyangkut apakah Ia akan sanggup beradaptasi di daerah yang sama sekali baru baginya itu. Kalaupun sanggup, berapa lama Ia butuh waktu beradaptasi? Atau seandainya Ia-pun melawan dengan keadaan, sampai berapa lama kemudian Ia akan menyerah dengan keadaan?
Lumrah.. Keadaan seperti itu jugalah yang kadang membuat seseorang berpikir ulang untuk membawa serta keluarganya, anak dan istrinya , ke lokasi penempatan yang baru itu. Karena kekhawatiran itu akan berlipat dari kekhawatiran hanya menanggung dirinya sendiri, akan ditambah juga dengan kekhawatiran anak dan istrinya. Double atau triple kekhawatiran inilah yang akhirnya membuat seseorang memutuskan untuk membiarkan Ia yang mengalah menjenguk keluarganya seminggu sekali ( PJKA = Pulang Jumat Kembali Ahad ), dua minggu sekali, tiga minggu sekali, atau sebulan sekali tergantung situasi dan kondisi yang ada. Syukur-syukur dapat kesempatan tugas, jadi tiket pulang-pergi bisa di-cover dinas, alias abidin (atas biaya dinas).
Kekhawatiran seperti ini jugalah yang sempat menerpaku saat menerima penempatan di sebuah kota yang terletak di pulau terbesar di Indonesia dimana aku sama sekali belum pernah menginjaknya, Sampit di Kalimantan Tengah. Coba googling gambar, pake kata “Sampit” saja, akan nongol di antrian pertama adalah gambar menyeramkan berisi penggalan kepala sisa kerusuhan tahun 2001 ( herannya kok nggak masuk daftar blokir kemenkominfo ya?). Bukan itu saja, sampai sekarang, setiap kali mengawali pembicaraan tentang dimana sekarang aku bertugas, jawaban itu langsung me-reset lawan bicaraku tentang kerusuhan tahun 2001 yang banyak menelan korban jiwa dari salah satu suku pendatang di kota itu. Cerita-cerita tentang kerusuhan tahun 2001 itu akan sering aku dengar di kemudian hari setelah sekian bulan penempatanku di Sampit, dari sebagian anggotaku yang ber-suku Dayak kalimantan.
Serem… Tapi, you have to face it!! Yup! Harus dihadapi dan dijalani, karena aku tidak dalam posisi menawar atau bahkan merajuk menolak amanah di tempat itu dan meminta amanah di tempat lain yang sesuai seleramu.. hehehe.. jalani saja, bagian dari tour of duty, tanpa perlu embel-embel cengeng di belakangnya.
Rest of it, dengarkan banyaknya nasehat dan alert dari teman-teman dekat yang dengan tulus memberikannya yang mampir di telingaku semenjak keluarnya penempatan ini : “jalani saja..”, “ojo medok”, ” sing penting slamet”.. (idem dengan namaku.. hihihi..), sampai “ojo lali sholat..”
semuanya bermuara kepada menjaga alert-ku untuk tetep ” mikul duwur, mendhem jero” atau kalau kata orang melayu : “dimana bumi di pijak, disitu langit dijunjung”.. so, bismillah, karena disinipun, di bumi Kalimantan ini, pun adalah bumi-nya Alloh yang tunduk dan patuh hanya kepada-Nya.
Wallohu a’lamu bishshowaab..

malulah dengan warna rambutmu

18 Saturday Feb 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ 3 Comments

Tags

bersinggungan horisontal, deret ukur, ebiet g. ade, fitrah, khalifah di muka bumi, pertanda fisik, rambut putih, ruang ibadah, ruang privacy, semir rambut, sudah mendekati saat, taubatan nasuha, troublemaker, warna rambut


Bro dan sist,pernah denger lagunya Ebiet G. Ade yang petikannya kurang lebih seperti ini..  : .. dan bangga dengan dosa-dosa..? Saya lupa judul lagunya, tapi seingat saya lagu itu menceritakan tentang kebanyakan manusia yang tidak segera sadar akan kesalahannya dan bahkan kadang merasa bangga dengan dosa-dosa saat menceritakannya. Sepintas sepele saja mendengar petikan lagu itu, tapi menurut saya penting buat bahan instrospeksi buat kita, terutama buat saya. 
Dosa, khilaf dan salah adalah fitrah yang melekat pada mahluk yang namanya manusia yang notebene sebenarnya diciptakan Alloh untuk menjadi khalifah di muka bumi. Diawal “rencana” penciptaan manusia ini bahkan saat Tuhan menyampaikannya kepada malaikat, dikatakan oleh para malaikat bahwa mahluk yang namanya manusia ini hanya akan jadi “troublemaker” – membuat kerusakan di muka bumi. Tetapi Tuhan memberikan granted bahwa Ia lebih tahu dengan apa yang akan terjadi. 
Sudah menjadi fitrah juga bahwa dosa, khilaf dan salah akan selalu melekat dalam setiap tindak tanduknya. Betapa kemudian Tuhan senantiasa memberikan ruang pertobatan selebar-lebarnya, bahkan atas dosa paling besar sekalipun, kecuali syirik, melalui taubatan nasuha. 
Dalam konteks pertobatan atas dosa, khilaf dan salah inilah sebenarnya ruang komunikasi langsung seorang mahluk bernama manusia dengan Tuhannya. Bukan pada tempatnya manusia menyampaikan dosa, khilaf dan salah yang telah diperbuatnya kepada sesama manusia apalagi menceritakannya dengan rasa bangga, karena itu adalah ruang privacy dan dikategorikan sebagai aib. Mengadulah kepada Tuhan langsung atas dosa, khilaf dan salah, kecuali apabila dosa, khilaf dan salah ini bersinggungan horisontal kepada sesama mahluk, sudah semestinya bereskan dulu urusan horisontal ini baru urusan vertikal. 
Tuhan juga adil, dan semestinya kita juga mengerti. Bahwa area kesadaran mahluk yang bernama manusia ini umumnya akan berjalan sesuai deret ukur usianya. Jadi logikanya, makin bertambahnya umur-atau berkurangnya jatah hidup- semestinya arah pendekatan seorang mahluk bernama manusia ini kepada Tuhan-nya juga akan semakin dekat. Ini cerita commonly.. Kalo kita bisa lebih deket diusia yang menurut hitungan umum masih muda, itu malah lebih bagus. Sekali lagi, commonly juga yang akhirnya terlihat kalo ruang- ruang ibadah biasanya hanya disesaki oleh orang-orang tua.. hehehe..
Tuhan memperlihatkan juga pertanda fisik dalam meningkatkan area kesadaran manusia untuk mengingat “sudah mendekati saat”-nya dengan pengurangan kemampuan fisik hingga perubahan warna rambut.. (atau bahkan pengurangan volume rambut.. xixixixi..). 
Jadi, bro dan sist, jangan malu dengan warna rambut kita mulai ada yang putih. Jangan disemir..  biarkan saja, itu menjadi pengingat kita untuk malu. Bukan malu berambut putih, tapi malu untuk tidak dekat dengan Tuhan… 
wallohu a’lamu bishshowaab..

hangatnya Banjarmasin

17 Friday Feb 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ 2 Comments

Tags

banjarmasin, bus logos, klotok, palangkaraya, pangkalan bun, pasar terapung, perjalanan Sampit ke Banjarmasin, plaza futsal, Pondok Haji Amat, sampit, soto banjar, terminal bus sampit, terminal Patih Rumbih, tim futsal, wisma kencana


Alhamdulillah, edisi eksibisi perdana tim futsal Sampit tanggal 11 Pebruari 2012 bisa berjalan lancar. Eksibisi ini menjadi momen penting bagi segenap pegawai di kantorku. Sebenarnya keberangkatan ini mundur seminggu dari jadwal semula karena sesuatu dan lain hal, lebih kepada kesiapanku yang terlalu mepet.
Surat yang kami layangkan ke Banjarmasin sekitar awal pebruari, bergayungsambut tatkala salah satu utusan dari Banjarmasin menghubungiku dan menanyakan teknis kunjungan.  Selanjutnya komunikasi berjalan lancar hingga saat kami berangkat pada hari Jumat tanggal 10 Pebruari dengan bus Logos yang direncanakan berangkat pada pukul 21:00 dari terminal Patrum ( Patih Rumbih ) Sampit. Bus Logos yang akan kami tumpangi adalah bus dari Pangkalan Bun, dan akhirnya kami mendapatkpan informasi kalau bus direncanakan tiba di Sampit sekitar pukul 23:00 atau dua jam mundur dari jadwal semula. Its no problem buat kami karena jumlah personil sebanyak 12 orang rupanya cukup menghibur untuk bisa bercanda tawa.
Perjalanan Sampit ke Banjarmasin diperkirakan memakan waktu sebelas jam dengan memakan waktu sebentar transit di Palangkaraya. Hal ini yang agak mengecewakan kami, ternyata bus yang kami tumpangi dari Sampit hanya sampai di Palangkaraya untuk selanjutnya kami berganti bus ukuran tigaperempat menuju Banjarmasin. Hugh.. lumayan sempit juga perjalanan Palangkaraya – Banjarmasin dengan bus tigaperempat ini, mana tidak ber-AC lagi.. Tapi alhamdulillah,  yang penting perjalanan berjalan lancar karena semangat kekompakan dan kekeluargaan. Sepanjang perjalanan ada saja hal yang bisa menjadi bahan candaan dan tertawa disamping sisanya dihabiskannya dengan melalangbuana ke pantai kapuk, alias molor.. hahaha…
Sekitar jam 11 siang, kami sampai di Banjarmasin dan dijemput oleh temen-temen Banjarmasin yang dilanjutkan dengan jamuan makan siang soto dan sop Banjar serta sate di Pondok Haji Amat. Taste is good..
Jujugan selanjutnya adalah Wisma Kencana tempat kami akan menginap semalam dengan jumlah room yang telah direserve sebelumnya sebanyak empat room dan tersedia tiga kamar biasa di lantai tiga dan satu kamar VIP di lantai bawah.. hehehe.. Tau dong, where the boss sleep..
Tidak menunggu waktu lama, setelah pembagian kamar, kami memutuskan harus segera mempersiapkan diri untuk pertandingan jam 20:00 WITA atau 19:00 WIB.
Dan tepat di jam itu, bertempat di Plaza Futsal dengan rumput sintetis, pertandingan persahabatan Sampit dan Banjarmasin itu dimulai dengan kesudahan skor 11 untuk Banjarmasin dan 10 untuk Sampit. hehehe.. Hasil ini kami evaluasi belakangan dan ternyata faktornya kelelahan dan demam panggung yang membuat mereka tampil dibawah performa. No problem guys, ini sudah cukup menghiburku.. hehehe…
Ups, ini yang penting.. kedatangan kami benar- benar diprepare dengan baik dan disambut langsung oleh bapak Taryono selaku kepala kantor. There’s something we’ve forgot sir.. sebenarnya kita udah nyiapin sekedar cinderamata mata sederhana made – in Sampit, tapi lupa dibawa anak-anak alias ketinggalan di wisma.. Its ok kan sir,ntar kita titipin ke anggotanya njenengan deh..
Esoknya di pagi-pagi buta kami telah dituntun turun ke sungai  naik klotok-perahu khas Banjarmasin , untuk menyaksikan pasar terapung-wisata khas kota Banjarmasin. Dilokasi ini kami menikmati sarapan pagi soto Banjar dan sate. Manstap..
Kembali ke penyambutan temen2 Banjarmasin, kami angkat topi.. ( ups.. jadi keliatan botakmu men.. ).. Luar biasa.. beliau, Pak Taryono khusus datang di Sabtu malam Minggu tanggal 11 Pebruari ini setelah mengikuti rapat di kantor pusat. Angkat jempol Pak.. kami tersanjung dan merasa mendapatkan pelukan hangat dari keluarga besar bapak di Banjarmasin.. hangat..
Kami tunggu kedatangan keluarga besar bapak di Sampit dengan sebisa kami menyambut sebagaimana bapak menyambut kami dengan hangat, sehangat Banjarmasin…

cerita cs

15 Wednesday Feb 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ 2 Comments

Tags

baituttaqwa, CS, kanwil, KPR, Malang, membagi dan memberi rezeki, membahagiakan keluarga, tukang pijat, tukang semir


Dalam sebuah kesempatan usai sholat Zuhur yang agak telat di Masjid Baituttaqwa Tanjung Perak, aku merebahkan sejenak punggung dan meluruskannya. Ini adalah hari-hari terakhirku bekerja di kantor ini setelah 3 tahun lebih sejak 27 Agustus 2008 aku memulainya.
Dalam posisi rebah mlumah itu, datanglah mendekat seorang CS yang sudah naik derajat dari hanya seorang tukang semir yang juga pintar memijat ke arahku. Lazimnya Ia, langsung memegang kakiku dan mulai memijat. Aku bilang “jangan, kakiku lagi nggak beres habis dipijit kemarin. Coba kamu liat, masih ada bekas kuku tukang pijatnya”.
Bukannya berhenti, Ia malah berganti menarik tanganku dan mulai memijatnya. Ya, sudahlah pijat aja.
Di saat Ia memijatku, sekilas terlihat cover depan HP- nya yang terpampang homescreen- nya taman cantik. Aku lalu bertanya, itu foto taman dimana itu? Dijawabnya, itu lho Pak di deket Kanwil di pojok. Aku tau dia berbohong, karena aku tau betul tidak ada sudut manapun di kantor ini yang ada taman seperti itu. Akhirnya dia mengakui kalau itu foto taman di rumahnya. aku bilang, ” keren “. Ia jawab, “alhamdulillah” , mensyukurinya.
Aku terus memancing ya, ” mana foto rumahmu?”, dengan senang hati Ia juga menunjukkan foto- foto rumahnya. ” bagus rumahmu, komentarku.
Ia lalu bercerita tentang bagaimana bisa membuat rumah itu dengan dana yang diawalinya hasil mengumpulkan beberapa tahun dan diniati untuk memulai KPR rumah di daerah Malang. subhanalloh.. luar biasa..
Aku bilang, “aku seneng ngliat kamu berhasil membahagiakan anak istrimu..”
Aku tau, Ia hanya seorang CS di kantor yang penghasilannya hanya pas UMR. tapi Ia bisa membangun rumah yang lebih dari cukup sederhana untuk keluarganya. Setiap hari Senin pagi Ia datang dari Malang dengan sepeda motor, hanya bermodal 50ribu di dompetnya. luar biasa.
Aku bertanya lebih jauh tentang darimana Ia mendapatkan uang tambahannya, dan ternyata Ia mendapatkannya hanya sebatas karena kepolosan dan kejujurannya serta karena kemampuannya meladeni bapak-bapak pejabat di kantor sesuai bidang keahliannya.. luar biasa..
Apa yang bisa aku petik dari cerita seorang CS ini hanyalah mesti bertambahnya rasa syukurku atas segala kelebihan yang aku miliki. Alloh tidak pernah salah dan lupa dalam membagi dan memberi rezeki kepada setiap mahluk-Nya. Bahkan seekor cacing didalam tanahpun ada bagian rezeki untuknya. subhanalloh..
Ia yang hanya seorang CS, bisa membahagiakan keluarganya, anak istrinya..

kehabisan waktukah aku?

07 Tuesday Feb 2012

Posted by slametsukanto in kontemplasi

≈ Leave a comment

Tags

bermain bola, OSIS, Primagama, purwakarta, sampit, SMPN 12 Bintan Utara, tadarus al-qur'an, Tanjunguban, Tgperak, Tgpinang


Pagi ini aku tidak dalam kondisi bagus karena semalam tidak nyenyak tidur. Banyak hal yang berkecamuk dalam pikiranku disamping badanku yang pegal gara2 habis main futsal sampai terpaksa minta tolong anggotaku beli minyak tawon jam setengah duabelas malam.
Pagi ini aku seperti mendapat teguran karena telah tidak memanfaatkan waktu terbaik bersama anak-anakku yang sedang dalam masa pertumbuhan. Yang besar menuju dewasa, apalagi semenjak khitan pertumbuhan fisiknya melesat dan saat ini ia telah melewati tinggiku. Pita suaranya juga telah pecah dan berubah menjadi suara yang bukan lagi anak-anak. Banyak perubahan fisik lainnya yang sepertinya juga dipercepat dengan tuntutan posisinya yang menduduki jabatan ketua OSIS di sekolahnya, SMPN 12 Bintan Utara. Dari kecil, TK, memang dia sudah menunjukkan bakat leader dengan menawarkan diri menjadi mayoret ke kepala TK.
Anakku yang kedua, belum khitan, tapi alhamdulillah dia yang paling rajin sholat jamaah di musholla komplek perumahan kami. Dia ini yang paling rajin berkomunikasi denganku melalui telpon seluler dan selalu menjadi andalan sebagai pengawal buat mamanya kalau berpergian keluar Tanjunguban.
Sepanjang perjalananku sejak penempatan pertama di Tanjunguban tahun 1995 sampai kemudian menikah tahun 1997, berpindah tugas ke Tgpriok tahun 2000, ke Tgpinang tahun 2002, ke Purwakarta tahun 2004, ke Tgpinang lagi tahun 2006, ke Tgperak tahun 2008, dan terakhir ke Sampit tahun 2011, ada banyak waktu yang dengan sangat terpaksa aku tidak bisa hadir bersama mereka, dua anakku. Ada banyak waktu yang aku tidak bisa mencium mereka dan merapatkan selimut sebelum mereka tidur. Ada banyak waktu yang aku tidak bisa mengantarkan mereka berangkat sekolah di pagi hari, les Primagama di sore hari, les mengaji di sore hari lainnya, dan berlatih sepakbola di hari Sabtu sore. Ada banyak waktu yang aku tidak bisa menemaninya mengerjakan PR matematika dan pelajaran lainnya. Ada banyak waktu yang aku tidak bisa menemani mereka bermain bola diluar jam latihan rutin. Ada banyak waktu menemani mereka beranjak dari rumah menuju musholla komplek perumahan sesaat setelah terdengar kumandang azan. Dan ada banyak waktu menemani mereka tadarus al-qur’an selepas magrib. Aku banyak berhutang waktu kepada mereka. Hutang waktu yang semestinya aku berikan kepada dua anakku, darah dagingku, yang tidak bisa aku putar kembali.
Saat ini, aku pandangi wallpaper blackberry-ku yang terpampang foto kedua anakku saat masih balita. Lucu.. tersenyum.. tanpa dosa..
Saat ini, walaupun mereka berdua tidak lagi lucu, tapi mereka tetap anakku yang tetap aku cium pipi dan keningnya sebelum tidur.
Saat ini, dari tigapuluh hari waktuku, aku hanya bisa memberikan ciuman di pipi mereka paling banyak lima hari.
Saat ini, aku hanya bisa berharap dan berdo’a , semoga masih ada waktu bagiku bisa menikmati masa tumbuh dan berkembangnya mereka, hingga suatu ketika mereka menjadi anak-anak sholihah yang bisa mendo’akan orang tuanya bila telah tiada.
Semoga Alloh SWT masih menyisakan banyak waktu buatku untuk mereka.. aamiin..

← Older posts
Newer posts →

Recent Posts

  • Klaster Asli
  • Tapak Tuan
  • Omah Cilik
  • tugas baru
  • Poluan

Recent Comments

Anwar Hidayat's avatarAnwar Hidayat on tugas baru
slametsukanto's avatarslametsukanto on Gedung Negara
Shinta's avatarShinta on Gedung Negara
slametsukanto's avatarslametsukanto on sei bati, bandara perintis di…
RHA Airport's avatarRHA Airport on sei bati, bandara perintis di…

Archives

  • November 2025
  • July 2024
  • June 2017
  • October 2016
  • June 2016
  • March 2016
  • February 2016
  • January 2016
  • November 2015
  • March 2015
  • January 2015
  • December 2014
  • March 2014
  • January 2014
  • December 2013
  • September 2013
  • July 2013
  • June 2013
  • May 2013
  • March 2013
  • January 2013
  • November 2012
  • October 2012
  • September 2012
  • August 2012
  • July 2012
  • June 2012
  • April 2012
  • March 2012
  • February 2012
  • January 2012

Categories

  • gawean
  • jalan-jalan
  • kontemplasi

Blog Stats

  • 29,334 hits
//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Blogs I Follow

  • Catatan Anak Bangsa
  • Kumpulan Tulisan El
  • Dinnar Homestay Surabaya Indonesia
  • pelangi.kata
  • Tulisan ringan alumni STAN
  • Aku Yang Berlumur Dosa
  • santo for mitsubishi bintaro
  • Tamar Devils_Manchunian
  • ummulnurien.com
  • cerita anwar
  • padmanaba
  • erliharyanto
  • Memento
  • Look, Think and Write
  • kotakpermen.wordpress.com/
  • beautifulhello.wordpress.com/
  • website situnis
  • Lambangsarib's Blog
  • kembalikan, kampung halamanku
  • RISTEK FT UNNES

tulisan saya

kunjungan

  • 29,334 hits

lima terbaru

  • Klaster Asli
  • Tapak Tuan
  • Omah Cilik
  • tugas baru
  • Poluan

Create a free website or blog at WordPress.com.

Catatan Anak Bangsa

raga pasti mati, tulisan mungkin abadi

Kumpulan Tulisan El

Selalu ada Petunjuk, Untuk Kemudahan

Dinnar Homestay Surabaya Indonesia

Penginapan sederhana berfasilitas bintang lima, Lokasi di Surabaya Selatan, dekat dengan Masjid Al-Akbar Surabaya.

pelangi.kata

saat goresan kata menciptakan warna ide yang nyata..

Tulisan ringan alumni STAN

mengikat ilmu dengan menuliskannya...

Aku Yang Berlumur Dosa

kusadar hidup ini hanya sebentar...dan kubersyukur hari ini masih mendapat kasih sayang...

santo for mitsubishi bintaro

The greatest WordPress.com site in all the land!

Tamar Devils_Manchunian

Hidup lebih baik saling berbagi ilmu untuk meraih kesuksesan

ummulnurien.com

cerita anwar

Just another WordPress.com weblog

padmanaba

erliharyanto

Ya Allah, tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus

Memento

- memento mori, memento vivere -

Look, Think and Write

kotakpermen.wordpress.com/

beautifulhello.wordpress.com/

website situnis

travelling

Lambangsarib's Blog

Catatan Orang Biasa

kembalikan, kampung halamanku

tentang kampung, tentang halaman, tentang apapun

RISTEK FT UNNES

Kerohanian Islam Teknik

Privacy & Cookies: This site uses cookies. By continuing to use this website, you agree to their use.
To find out more, including how to control cookies, see here: Cookie Policy
  • Subscribe Subscribed
    • slametsukanto
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • slametsukanto
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar