Tumbang Samba

Tags

, , , , , ,


wuiih.. sebuah perjalanan yang lumayan menguras energi walaupun dengan kondisi jalan yang relatif baik untuk ukuran daerah pinggir Kalimantan Tengah. Tumbang Samba, sebuah kota kecamatan dengan nama resminya Kecamatan Katingan Tengah dibawah provinsi Kalimantan Tengah, harus saya tempuh sejak pukul 03:15 dinihari demi mengejar jadwal sosialisasi cukai hasil tembakau yang direncanakan digelar pukul 08:00. 
perjalanan di awal hari itu saya ditemani oleh anggotaku, dengan pertimbangan keselamatan karena rasanya kurang sreg melakukan perjalanan ke daerah yang sama sekali belum pernah saya kunjungi. perjalanan dinihari itu yang rencananya saya tempuh sendiri dengan mobil ford ranger dinas, dibatalkan dan saya memilih menggunakan jasa perusahaan travel.
perjalanan ke lokasi sosialisasi di Tumbang Samba Kecamatan Katingan Tengah saya tempuh melalui jalur darat searah ke Palangkaraya, tepatnya di separuh perjalanan ke arah Palangkaraya, kami harus belok kiri tepat di jalan didepan Rumah Makan Banua Lima di kilometer 106. dari situ kami harus menelusuri jalan yang tidak seramai jalur Sampit-Palangkaraya diperkirakan selama 2,5 jam. dan benar saja, saya baru nyampai ke lokasi di Tumbang Samba sekitar pukul 7:45 atau 15 menit sebelum acara dimulai dan mendapat sambutan dari Camat Katingan Tengah dan Kabid Perdagangan Kabupaten Katingan. dengan ketibaan waktu yang sedemikian mepet ini, otomatis tidak ada kesempatan buat mandi atau ngelap badan. alhamdulillah acara sosialisasi berjalan lancar dan diikuti segenap peserta secara antusias dan mendapat apresiasi positif. sebuah pengalaman berharga dan bangga bisa mengenalkan dan membagi ilmu kepada masyarakat di daerah yang sama sekali baru buatku di pedalaman Kalimantan tentang cukai tembakau, pungutan negara yang berada di posisi dilematis antara penerimaan negara dan menyehatkan warga dari bahaya merokok.
Tumbang Samba, sebuah nama dan tempat yang baru sekali ini saya kunjungi, ternyata banyak diisi oleh pendatang dari Jawa dan kebetulan salah satunya ikut menjadi bagian peserta sosialisasi dan ikut mengajukan pertanyaan di sesi tanya jawab. namanya Paijo dengan profesi sebelum pensiun adalah Guru dan telah menetap di Tumbang Samba selama limapuluh tahun serta telah menjadi ta’mir mesjid di seberang saya melakukan sosialisasi yang dibangun oleh Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila, sama dengan mesjid besar di Sampit yang juga dibangun oleh yayasan yang sama binaan alm. Bapak Soeharto.

tumbang samba

Tumbang Samba, letaknya di pinggir sungai Katingan, terasa sekali denyut nadi perekonomiannya ditandai dengan ramainya pasar walaupun hanya sepintas saya melewatinya. di seberang sungai katingan ini menurut penuturan beberapa orang yang sempat saya tanya, bisa langsung menuju kantor bupati Kasongan dengan melewati perahu penyeberangan. 
Tumbang Samba atau Muara Samba, mudah-mudahan bisa menambah referensiku tentang betapa luasnya wilayah Kalimantan. next trip, saya berencana melakukan touring ke Balikpapan melalui jalur darat. wish me luck.

cukup dua tahun


tepat tanggal 22 Juni 2012 dini hari pukul 04.00 WIB, emak meninggalkan kami. menurut hitungan waktu masehi , emak menyusul bapak kurang lebih setelah dua tahun. 
memang di awal kepergian bapak, kondisi emak ngedrop hingga hampit kurang lebih setahun, namun alhamdulillah memasuki tahun kedua, kondisi emak jauh lebih baik. di kepulanganku terakhir tanggal 2 juni 2012, emak bahkan menyatakan bahwa sakit di lutut yang selama ini menghalanginya untuk sholat secara berdiri, ia nyatakan sudah hilang, tapi emak belum cukup pede untuk sholat secara berdiri. keluhan yang dinyatakannya sebelum berpulang ke rahmatulloh adalah sesak nafas yang dirasakannya dan memaksanya membangunkan adikku tepat pukul 3 pagi. sesak nafas ini juga yang menjadi perantara Alloh mengambil roh emak menuju khusnul khotimah, setelah melalui rangkaian tindakan medis sebagai bentuk ikhtiar. sepanjang menuju khusnul khotimah itu, hanya nama Alloh yang terdengar melalui lafaz istighfar dari mulutnya. subhanalloh..
aku mendengar kabar duka itu jam 4:43 pagi dari mba makmah, dan segera aku mempersiapkan kepulanganku ke Tegal melalui Pangkalan Bun – Semarang. alhamdulillah, atas izin Alloh melalui bantuan sahabat-sahabatku, semuanya berjalan lancar hingga aku diberi kesempatan untuk melihat wajah emak terakhir kalinya, menyolatkan dan memakamkannya disamping makam bapak di kuburan yang letaknya persis di sebelah rumah kami.
kini tinggal kami bersembilan, anak-anaknya yang masih mengalirkan do’a untuk kedua orang tua kami. hanya do’a dari kamilah yang diharapkan oleh bapak dan emak sebagai bekal amal menuju jannah di yaumul hisab. 
ya Rab, jadikanlah kami anak-anak yang berbakti sepeninggal kedua orang tua kami. anak-anak yang mau mendo’akan kedua orang tua kami  di setiap usai sholat lima waktu kami.
ya Rab, ampunilah dosa kedua orangtua kami..
ya Rab, maafkanlah kedua orangtua kami..
ya Rab, tempatkan kedua orangtua kami di tempat yang mulia, di jannah-Mu..
ya Rab, lapangkanlah kubur kedua orangtua kami..
ya Rab, bersihkanlah kedua orangtua kami dari segala kesalahan..
ya Rab, Ampunilah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah..
ya Rab, masukkan kedua orangtua kami ke Jannah..
ya Rab, jagalah kedua orangtua kami dari siksa kubur dan Neraka..
ya Rab, sesungguhnya Engkau Maha Pengabul Do’a..
aamiin ya robbal ‘alamiin..

telesilaturahim

Tags

, , , , ,


“Sekedar tanya gmn kbrnya,apa susahnya siy..”

Demikian terbaca di status fb teman. Status atau statement ini menurutku adalah ungkapan kekesalan tentang ketiadaan kabar, ketiadaan informasi yang menenangkan hati, kebutuhan akan perhatian, butuh ditanya : gimana kabarnya hari ini.. ( pertanyaan yang bagi sebagian orang berbau basa-basi ).  Seperti  juga pertanyaan basi lainnya yang sering nongol di layar hp kita : ” lagi ngapain? “dimana?”
Kebutuhan informasi tentang keadaan, tentang keberadaan, tentang apa saja yang sedang dilakukan oleh seseorang yang menurut kita patut kita perhatikan sudah barang tentu karena posisi orang ini adalah istimewa bagi kita. bisa ia adalah istri kita, suami kita, anak kita, saudara dekat kita, ayah kita, ibu kita, teman dekat kita, atau kenalan baru kita.. hehehe..
Beruntunglah bagi kita di era sekarang ini, adanya media sosial fb, twit, bbm, ym, skype, dan media lainnya, bisa mengetahui kondisi orang-orang yang kita kenal , orang yang dekat dengan kita tapi terpisahkan jarak, secara real time. Artinya, jejaring silaturahim juga bisa realtime.. inilah yang aku sebut telesilaturahim.
Sah-sah saja kita berharap, dengan menyambungkan silaturahim meskipun melalui media telesilaturahim, bisa melapangkan rizqi dan memanjangkan umur yang bermanfaat.
Kita bisa tetap melakukan aktifitas kita ( misalnya rapat ) sembari menanyakan kabar teman di group bbm yang ujung2nya cengar-cengir sendiri. Atau bisa jadi malah ngakak melihat foto prewedding temen seangkatan yang usianya sudah mendekati 40 tahun tapi baru laku dengan gaya pakaian seragamnya yang kelihatan gagah, sambil mbathin : akhirnya laku juga nih anak.. hihihi..
Telesilaturahim melalui jejaring nirkabel saat ini bagiku adalah salah satu kebutuhan pokok. Betapa tidak, saat ini aku berada di jarak sekitar 900 km dari anak dan istriku yang kalu harus ditempuh perjalanan, komplit semua mode angkutan, darat – laut – udara dan menginjakkan kaki di empat pulau ( dua pulau besar dan dua pulau kecil ).
Kebutuhan pokok telesilaturahim ini juga yang membuatku bisa tetap terhubung dengan teman-teman di seantero nusantara, Aceh sampai Ambon. Tidak ada batas waktu , yang ada hanyalah status pending. Senang rasanya juga melihat status teman-teman di bbm atau fb akhirnya berstatus “alhamdulillah” atau “puji Tuhan” setelah sekian lama status update-nya dipenuhi dengan “miss u” atau “semoga kalian baik-baik saja” atau “menghabiskan waktu”.. hehehe..
Telesilaturahim ini juga yang membuatku bisa terhubung kembali dengan teman-teman yang saat ini sebaran pekerjaannya sangat variatif. Ada yang jadi pak Wali , ada juga yang jadi kepala pool Sinar Jaya,  ada yang tetap tinggal dan berkarir di Tegal,  ada juga yang berkarir sebagai ibu rumahtangga mengikuti suami di Singapura.
Telesilaturahim, mudah2an tetap menjadi media penunjang silaturahim dan bermanfaat positif menjaga hubungan baik dan kekeluargaan. Mudah-mudahan juga bisa menjadi media ekspresif keturutsertaan merasai kesukaan disaat teman sejawat menikmati kebahagiaan dan metasai kedukaan disaat teman sejawat menjalani penderitaan.
Sekedar bertanya, “gimana kabarnya?” , saya rasa cukup sebagai prolog dari sebuah telesilaturahim.

aku selalu butuh ridhomu

Tags

, , , , , ,


Semenjak kepergian bapak pada bulan akhir Mei 2010, Emak kelihatan semakin menurun kondisi kesehatannya. Bisa jadi ini karena faktor usianya yang sudah menginjak 71-an, atau juga karena faktor psikis yang memaksanya harus terpisah dengan bapak yang telah menemaninya hingga tutup usia .Masa sekian tahun kebersamaan adalah masa yang selalu dipenuhi dengan suka dan duka. Masa yang sekian tahun itu telah dipenuhi dengan tawa dan tangis. Masa yang telah sekian tahun dilewati itu, semoga selalu dalam ridho Alloh subhanahu wata’alaa, amiin..

Emak, yang semenjak aku menerima penempatan tugas pertama kali ke luar jawa, tahun 1995, praktis hanya bisa aku jenguk sesekali, tidak tiap hari seperti dulu waktu aku masih menuntut ilmu di Tegal. Praktis aku seperti menjadi anak hilang yang hanya akan tampak dihadapan emak setahun sekali tepat iedul fitri atau kesempatan lain saat aku mendapatkan tugas ke Jawa.  

Emak , yang melahirkanku di rumah sakit Kardinah, menurut ceritanya. Dan menurut emak juga, akulah satu-satunya anaknya yang melahirkan “agak susah” dan mesti mendapatkan perlakuan khusus dengan melahirkannya di rumah sakit Kardinah, yang berjarak kurang lebih lima kilometer dari tempat tinggalku di Debong Wetan. Aku yang dilahirkan di urutan ke delapan dari sepuluh bersaudara, memaksa emak dan bapak menyambut kelahiranku di rumah sakit. Tidak seperti sembilan saudaraku lainnya yang cukup di rumah dan ditangani bidan.

Emak juga punya cerita bahwa saat aku masih dalam gendongannya, rambutku pirang kemerah-merahan, tidak plontos seperti sekarang pastinya, dan bertepatan dengan masuknya listrik di desa Debong Wetan. Saat itu menurut emak, instalaturnya masih orang bule yang kemudian ketika ia melihatku jadi teringat dengan anaknya yang di Belanda. Sejak saat itulah, kakak perempuanku tertua memanggilku dengan Irbi, katanya itulah nama orang Belanda yang memasang tiang listrik depan rumahku.

Emak, yang dulu hampir setiap harinya dalam seminggu dipenuhi dengan kegiatan pengajian, sekarang sudah jauh berkurang intensitasnya, apalagi saat ia menderita sakit di persendian kakinya. Sakit yang memaksa sholatnya tidak dalam posisi berdiri, tapi dengan duduk dengan kaki diselonjorkan.

Emak, kemarin aku lihat pas ada waktu libur tiga hari, di awal April 2012, terlihat sumringah karena kedatanganku tidak sendiri. Aku bersama mas Salaf dan adikku, Winarno bisa kumpul di saat yang sama. Sebuah kesempatan langka. Ya, aku rasa emak cukup bahagia bisa melihat kami bisa rukun dan sehat serta bisa menemuinya meski hanya sesekali. Emak cukup bahagia meski aku hanya bisa sesekali memijat kaki dan bahunya.

Aku yakin, meskipun jarakku terpisah jauh dan jarang bertemu muka dengannya , do’anya senantiasa hadir untukku, untuk anak-anaknya semua, tulus, tanpa pamrih apapun.

Emak, do’akan aku , anakmu yang jauh, selalu bisa mendo’akanmu juga. Do’akan juga aku tetap diberikan keluangan waktu, tenaga dan biaya untuk selalu bisa menemuimu, mengobati rinduku padamu, karena aku selalu butuh ridhomu.

bersama pejuang keluarga

Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , ,


Entah sudah garis tangan dan suratan takdir, perjalanan pulang saya menemui keluarga selalu bersama dengan orang-orang yang sangat dinantikan keluarga di kampungnya. Ya, penempatanku di Sampit, kota kecil yang sedang bergerak cepat membangun-seperti slogannya-didominasi oleh pekerja pendatang dari Jawa, terutama Jawa Timur, bahkan dari suku Madura, sebuah suku yang kurun lebih dari satu dekade yang lalu pernah dipaksa angkat kaki dari kota ini. Saya rasa, kebutuhan ekonomi mengharuskan mereka segera melupakan memori satu dekade yang lalu dan memaksa mereka menginjakkan kaki kembali tanah di Sampit. Tentu saja dengan satu harapan, ada perbaikan ekonomi bagi keluarganya di kampung.
Sampit saat ini sedang giat bergerak membangun industri perkebunan kelapa sawit dan instalasi pengolahannya hingga menjadi CPO dan turunannya. Sekedar data, kurang lebih ada 10 perusahaan lebih yang telah membuka lahan perkebunan kelapa sawit dan pabrik pengolahannya. masih ada beberapa perusahaan lagi yang akan segera beroperasi. Sebagian besar adalah anak perusahaan dari perusahaan besar persawitan yaitu Agro, Sinar Mas dan Wilmar.
Daya serap tenaga kerja dalam rangka menggerakkan perusahaan-perusahaan inilah yang membuat sedulur-sedulur dari Jawa berduyun-duyun mendatangi Sampit. Tenaga kerja yang berangkat dari kampungnya , mudah-mudahan dengan tanpa menjual sawah atau sapinya. Tenaga kerja yang mudah-mudahan bisa secara rutin mengirimkan hasil jerih payahnya ke anak istrinya di kampung, meskipun mungkin secara nominal tidak bisa disamakan dengan perolehan mereka di negeri jiran, Malaysia. Setidaknya mereka bisa berbangga hati bekerja di negerinya sendiri tanpa ada rasa was-was pengusiran dari immigresyen seperti di Malaysia. Tanpa rasa was-was menjadi pendatang haram karena passport yang membekali mereka ke negeri jiran ternyata passport pelancong, bukan passport pekerja.
Banyak harapan yang bisa disandarkan di tanah yang masih menjadi bagian dari negeri sendiri, Indonesia. Harapan yang mudah-mudahan tidak akan pudar karena konflik etnik di kemudian hari seperti pernah terjadi di dekade yang lalu. Mudah-mudahan jalan mereka, para pejuang keluarga untuk mencari nafkah kehidupan ini senantiasa dimudahkan dan diberikan berkah.
Dan sekali lagi, rute kepulanganku menemui keluargaku, akan selalu bersama orang-orang yang ditunggu kedatangannya di kampung halaman dengan harapan membawa hasil jerih payahnya. Orang-orang yang senantiasa didoakan kesehatan dan keselamatannya. Aamiin..

susahnya memberi nasehat

Tags

, , , , , , , , , , ,


Saya ingat betul istilah “jarkoni”, gelem ngajar ora gelem nglakoni. Sebuah istilah yang biasanya dilabelkan kepada orang yang hanya bisa memberi ajaran padahal dia sendiri belum tentu bisa atau malah belum nglakoni. Biasanya, orang yang sudah diberi label itu, biarpun kualitas wejangannya bagus, tidak akan bisa memberi dampak yang signifikan kepada orang yang diberi wejangan. Mungkin omongan atau wejangannya atau petuahnya akan tetap didengar, tapi masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Bisa saja niat yang mendengarkan mau melakukan petuah atau ajaran baik yang disampaikannya, tapi melihat kepada siapa yang menyampaikannya, berubah balik arah.
Memberi nasihat, adalah sebuah kewajiban. Seingat saya, di Al-ashr sudah tertuang demikian adanya. “demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali ia yang beriman dan beramal soleh, dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati sepaya menetapi kesabaran” shodaqollohul’adziim..
Kembali ke person yang memberi wejangan atau nasehat. Bahwasanya semestinyalah pendengar wejangan tidak usah melirik siapa pemberi wejangan, cukup perhatikan content-nya. Sepanjang content-nya on the track, take it. Kalau ternyata sebaliknya, leave it. Sesederhana itukah?
Ternyata tidak. Pakem jarkoni masih menjadi pakem utama, dan inilah sebaik-baik pemberi wejangan atau nasehat. Sampaikanlah oleh kita apa yang sudah kita ketahui ilmunya, apa yang sudah kita alami, at least atas apa yang sudah kita telaah dari experience orang lain.
Saya masih teringat cerita salah satu anggota saya, pak Zul, waktu tugas di Tanjungpinang. Pak Zul bercerita waktu itu ia sedang bersantai sepulang kerja di tenda payung depan rumahnya sambil menghisap rokok dan bertelanjang dada, kegerahan. Maklum, postur anggota saya ini masuk kategori overweight. Tidak lama ia duduk, terlantun azan maghrib dari musholla dekat rumahnya. Segera setelah azan maghrib itu selesai, ia meluncurkan perintah kepada anak lelakinya yang masih sekolah SD yang tengah bermain di dekatnya, “ayo nak, segera berangkat ke musholla, sholat maghrib..”. “jarak azan maghrib dengan sholatnya itu pendek, nanti kamu ketinggalan..”. Dengan ringan anaknya menjawab, “ ayah aja nggak pernah sholat maghrib di musholla..”.
Sebuah cerita yang pada akhirnya mengingatkan saya, dan mudah-mudahan temen-temen semua, lebih mudah memberi nasehat dengan memberi teladan. Karena ternyata, memberi nasehat itu susah kalau kita sendiri belum melaksanakannya.
Wallohua’lamubishshowaab..

surga di telapak kakimu

Tags

, , , , , , , , , , ,


Sebuah rumah tangga, layaknya adalah kewajiban bagi sang suami untuk menjemput rizki buat anak dan istrinya. Ia biasanya bangun pagi terus keluar dari rumah dan baru kembali sore harinya. Bisa jadi Ia saat itu membawa hasil jerih payahnya menjemput rizki itu, bisa juga Ia akan mendapatkannya di penghujung minggu, atau bahkan Ia akan mendapatkannya di penghujung bulan. Rizki itulah yang Ia berikan kepada sang ahlul bait, istrinya tercinta untuk dikelola dengan baik sehingga tercukupi kebutuhan dasar keluarga. penat dan lelah sepulang kerja itu semestinyalah Ia mendapatkan senyuman manis dari istri tercinta. Sesungguhnya jika yang demikian itu didasari dengan niat ibadah, pahala bagi keduanya.
Apa yang dilakukan istri sehingga Ia juga mendapatkan pahala? apakah hanya karena sekedar Ia menyambut kedatangan sang suami sepulang bekerja? Jangan-jangan, selama suaminya menjemput rizki itu, Ia hanya menghabiskan waktu di depan televisi menyaksikan sinetron kesukaannya? Ataukah Ia menghabiskan waktu sepanjang siang harinya dengan mengunjungi tetangga sebelah rumahnya dan menggunjingkan tetangga lainnya? Ataukah Ia hanya menghabiskan waktu dari terbit matahari hingga menjelang terbenam saat kedatangan suaminya dari bekerja dengan melelahkan kakinya di selasar-selasar mall atau pertokoan?
Istri yang sholehah tidak punya waktu menghabiskan waktu di saat suaminya menjemput rizki dengan melakukan hal-hal yang sia-sia. Ia akan bertindak sebagai seorang kepala rumah tangga sepanjang pagi hingga sang kepala keluarga sebenarnya kembali dari menjemput rizki. Ia akan mendidik dan mengasuh anaknya menjadi calon-calon penerus generasi yang senantiasa mengabarkan kebaikan dan keutamaan akhlak. Ia akan mengajarkan anaknya seperti nabiyulloh Ismail yang sami’na wa’atho’na terhadap perintah Alloh. Ia akan menjadikan calon-calon penerus perjuangan syi’ar Islam itu kuat dengan memberikan konsumsi makanan yang tidak usahlah mahal, tapi tetap bergizi dan bermutu higienis yang tinggi. Ia akan menjaga pintu-pintu rumahnya tetap tertutup serta menjaga hijab dan auratnya selama sang suami tercintanya menjemput rizki. 
Sesungguhnya kepada yang demikian itu adalah keutamaan wanita dan karenanya di telapak kakinyalah diletakkannya surga.

rapatkan shaf-mu

Tags

, , , ,


Ada satu hal yang sering mengganjal di hati tatkala menjadi makmum dari sebuah jamaah sholat, yakni kekurangrapatan shaf. Rasanya mengganjal jika saya dan jamaah makmum di sebelah saya menjaga jarak dengan membentangkan sajadah sendiri dan membatasi dirinya dengan jamaah lainnya. Betul bahwa Ia menjadi satu bagian makmum dari imam yang sama, tapi alangkah indahnya jika sajadah itu biarkan Ia bentangkan horisontal-karena telah terlanjur dibawanya- atau lipatlah separo khusus mengalasi tapak sujud mukanya, dan membiarkan kaki-kakinya bersentuhan di ujung jari dengan makmum lainnya.
Mengganjal rasanya di hati bila saya berada dalam satu barisan shaf yang tidak mau merapatkan diri sesama jamaah meskipun secara formalitas imam selalu mengingatkannya : lurus dan rapatkan shaf. Prakteknya tetap saja, ada jarak beberapa inchi antar jamaah. Apa yang semestinya kita rasakan dalam satu bagian panjang shaf dalam sholat? Menurut saya, rasanya kita adalah sama, hamba-Nya. tidak ada status sosial yang mesti kita tunjukkan di hadapan Sang Khalik meskipun sudah pasti merk baju antar jamaah berbeda, meskipun bau parfum yang ditebarkan baunya berbeda, meskipun pangkat yang ada di pundak tiap jamaah juga berbeda. Alloh subhanahu wata’alaa Maha Tahu soal itu.
Menjadi bagian dari sebuah jamaah shaf dalam sholat berjamaah semestinya menjadi momen yang tidak hanya kita berharap reward 27 kali lipat dibanding apabila kita menjalankannya sendirian. Kegiatan ini semestinya, meskipun mungkin bisa dirasakan hanya pada saat menjadi bagian dari shaf dalam sholat itu, menjadikan kita merasa bahwa kita adalah satu bagian dari keluarga muslim. Apa yang kita rasakan dalam satu bagian keluarga, semestinya juga adalah memahami bahwa kita ternyata tidak seharusnya banyak berselisih.
Ijinkan saya mengutip sebuah hadits yang saya buka dari Internet yang artinya :
dari Abu Mas’ud al Badri, Ia berkata : Dahulu Rasulullah shollallahu’alaihi wa sallam biasa mengusap bahu-bahu kami, ketika akan memulai sholat, seraya beliau bersabda : ” Luruskanlah shafmu dan janganlah kamu berantakan dalam shaf; sehingga hal itu membuat hati kamu juga akan saling berselisih” (shahih : Muslim no. 432)
Karenanya, jangan anggap ucapan Imam sebelum memulai sholat yang meminta “shaf lurus dan rapat” atau kadang ditambahi ” HP mohon dimatikan”, bukannya tanpa alasan. Ia secara tidak langsung meminta kita yang jadi makmumnya, untuk menjadi satu bagian besar gerakan jamaah sholat, jamaah keluarga muslim.
Mari , lurus dan rapatkan shaf kita dan jadikan sajadah-sajadah itu hanya sebagai pembatas saat sholat sendirian agar orang tidak melintasi kita saat sholat, dan tidak menjadikan kita, sesama jamaah makmum , terbatasi oleh tepian sajadah.
wallohu a’lamu bishshowaab.

disinipun bumi Alloh

Tags


Keresahan dan kekhawatiran seseorang apabila menerima sesuatu tugas atau penempatan baru di suatu daerah yang sama sekali baru diinjaknya adalah sesuatu yang lumrah. Keresahan dan kekhawatiran itu bukan hanya sekedar pertanyaan apakah Ia akan sanggup melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya, tapi juga menyangkut apakah Ia akan sanggup beradaptasi di daerah yang sama sekali baru baginya itu. Kalaupun sanggup, berapa lama Ia butuh waktu beradaptasi? Atau seandainya Ia-pun melawan dengan keadaan, sampai berapa lama kemudian Ia akan menyerah dengan keadaan?
Lumrah.. Keadaan seperti itu jugalah yang kadang membuat seseorang berpikir ulang untuk membawa serta keluarganya, anak dan istrinya , ke lokasi penempatan yang baru itu. Karena kekhawatiran itu akan berlipat dari kekhawatiran hanya menanggung dirinya sendiri, akan ditambah juga dengan kekhawatiran anak dan istrinya. Double atau triple kekhawatiran inilah yang akhirnya membuat seseorang memutuskan untuk membiarkan Ia yang mengalah menjenguk keluarganya seminggu sekali ( PJKA = Pulang Jumat Kembali Ahad ), dua minggu sekali, tiga minggu sekali, atau sebulan sekali tergantung situasi dan kondisi yang ada. Syukur-syukur dapat kesempatan tugas, jadi tiket pulang-pergi bisa di-cover dinas, alias abidin (atas biaya dinas).
Kekhawatiran seperti ini jugalah yang sempat menerpaku saat menerima penempatan di sebuah kota yang terletak di pulau terbesar di Indonesia dimana aku sama sekali belum pernah menginjaknya, Sampit di Kalimantan Tengah. Coba googling gambar, pake kata “Sampit” saja, akan nongol di antrian pertama adalah gambar menyeramkan berisi penggalan kepala sisa kerusuhan tahun 2001 ( herannya kok nggak masuk daftar blokir kemenkominfo ya?). Bukan itu saja, sampai sekarang, setiap kali mengawali pembicaraan tentang dimana sekarang aku bertugas, jawaban itu langsung me-reset lawan bicaraku tentang kerusuhan tahun 2001 yang banyak menelan korban jiwa dari salah satu suku pendatang di kota itu. Cerita-cerita tentang kerusuhan tahun 2001 itu akan sering aku dengar di kemudian hari setelah sekian bulan penempatanku di Sampit, dari sebagian anggotaku yang ber-suku Dayak kalimantan.
Serem… Tapi, you have to face it!! Yup! Harus dihadapi dan dijalani, karena aku tidak dalam posisi menawar atau bahkan merajuk menolak amanah di tempat itu dan meminta amanah di tempat lain yang sesuai seleramu.. hehehe.. jalani saja, bagian dari tour of duty, tanpa perlu embel-embel cengeng di belakangnya.
Rest of it, dengarkan banyaknya nasehat dan alert dari teman-teman dekat yang dengan tulus memberikannya yang mampir di telingaku semenjak keluarnya penempatan ini : “jalani saja..”, “ojo medok”, ” sing penting slamet”.. (idem dengan namaku.. hihihi..), sampai “ojo lali sholat..”
semuanya bermuara kepada menjaga alert-ku untuk tetep ” mikul duwur, mendhem jero” atau kalau kata orang melayu : “dimana bumi di pijak, disitu langit dijunjung”.. so, bismillah, karena disinipun, di bumi Kalimantan ini, pun adalah bumi-nya Alloh yang tunduk dan patuh hanya kepada-Nya.
Wallohu a’lamu bishshowaab..

malulah dengan warna rambutmu

Tags

, , , , , , , , , , , , ,


Bro dan sist,pernah denger lagunya Ebiet G. Ade yang petikannya kurang lebih seperti ini..  : .. dan bangga dengan dosa-dosa..? Saya lupa judul lagunya, tapi seingat saya lagu itu menceritakan tentang kebanyakan manusia yang tidak segera sadar akan kesalahannya dan bahkan kadang merasa bangga dengan dosa-dosa saat menceritakannya. Sepintas sepele saja mendengar petikan lagu itu, tapi menurut saya penting buat bahan instrospeksi buat kita, terutama buat saya. 
Dosa, khilaf dan salah adalah fitrah yang melekat pada mahluk yang namanya manusia yang notebene sebenarnya diciptakan Alloh untuk menjadi khalifah di muka bumi. Diawal “rencana” penciptaan manusia ini bahkan saat Tuhan menyampaikannya kepada malaikat, dikatakan oleh para malaikat bahwa mahluk yang namanya manusia ini hanya akan jadi “troublemaker” – membuat kerusakan di muka bumi. Tetapi Tuhan memberikan granted bahwa Ia lebih tahu dengan apa yang akan terjadi. 
Sudah menjadi fitrah juga bahwa dosa, khilaf dan salah akan selalu melekat dalam setiap tindak tanduknya. Betapa kemudian Tuhan senantiasa memberikan ruang pertobatan selebar-lebarnya, bahkan atas dosa paling besar sekalipun, kecuali syirik, melalui taubatan nasuha. 
Dalam konteks pertobatan atas dosa, khilaf dan salah inilah sebenarnya ruang komunikasi langsung seorang mahluk bernama manusia dengan Tuhannya. Bukan pada tempatnya manusia menyampaikan dosa, khilaf dan salah yang telah diperbuatnya kepada sesama manusia apalagi menceritakannya dengan rasa bangga, karena itu adalah ruang privacy dan dikategorikan sebagai aib. Mengadulah kepada Tuhan langsung atas dosa, khilaf dan salah, kecuali apabila dosa, khilaf dan salah ini bersinggungan horisontal kepada sesama mahluk, sudah semestinya bereskan dulu urusan horisontal ini baru urusan vertikal. 
Tuhan juga adil, dan semestinya kita juga mengerti. Bahwa area kesadaran mahluk yang bernama manusia ini umumnya akan berjalan sesuai deret ukur usianya. Jadi logikanya, makin bertambahnya umur-atau berkurangnya jatah hidup- semestinya arah pendekatan seorang mahluk bernama manusia ini kepada Tuhan-nya juga akan semakin dekat. Ini cerita commonly.. Kalo kita bisa lebih deket diusia yang menurut hitungan umum masih muda, itu malah lebih bagus. Sekali lagi, commonly juga yang akhirnya terlihat kalo ruang- ruang ibadah biasanya hanya disesaki oleh orang-orang tua.. hehehe..
Tuhan memperlihatkan juga pertanda fisik dalam meningkatkan area kesadaran manusia untuk mengingat “sudah mendekati saat”-nya dengan pengurangan kemampuan fisik hingga perubahan warna rambut.. (atau bahkan pengurangan volume rambut.. xixixixi..). 
Jadi, bro dan sist, jangan malu dengan warna rambut kita mulai ada yang putih. Jangan disemir..  biarkan saja, itu menjadi pengingat kita untuk malu. Bukan malu berambut putih, tapi malu untuk tidak dekat dengan Tuhan… 
wallohu a’lamu bishshowaab..